indonews

indonews.id

Sisi Lain dari Ir. H. Djuanda Kartawidjaja: Pendiam dan Suka Membaca

Membaca seorang tokoh, memaksa kita belajar - sejauh mana arah perjalanan sebuah bangsa. Apakah telah berjalan pada rel benar, atau malah melenceng jauh dari cita-cita para pendirinya.

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Sisi Lain dari Ir. H. Djuanda Kartawidjaja: Pendiam dan Suka Membaca
Ir. H. Djuanda dan Ibu Hj. Yuliana Djuanda bersama putera dan puteri di ruang keluarga. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - MENULIS seorang tokoh, apalagi tokoh nasional memang selalu menarik. Setidaknya ada berbagai sisi yang membuat kita berdecak kagum.

Membaca seorang tokoh, memaksa kita belajar - sejauh mana arah perjalanan sebuah bangsa. Apakah telah berjalan pada rel benar, atau malah melenceng jauh dari cita-cita para pendirinya.

Tokoh yang diangkat kali ini adalah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja – seorang yang sangat visioner. Dia merupakan teknokrat andal, dan pahlawan nasional yang sederhana. Namun, Djuanda telah memberi sumbangan penting melalui Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 – sebuah deklarasi yang mengubah cara pandang Indonesia terhadap wilayah lautnya dan mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state).

Cucu Djuanda, Ismeth Wibowo mengatakan, Ir. H. Djuanda dan Ibu Hj. Yuliana Djuanda mempunyai 5 orang anak yaitu 4 anak wanita dan 1 anak pria. Mereka adalah almarhumah Ibu Hj. Poppy Marleni Djuanda menikah dengan Almarhum Jenderal Polisi (Purn), Prof. Dr. Awaloedin Djamin MPA, Mantan Kapolri 1978-1982; Ibu Hj. Astri Djuanda menikah dengan Almarhum Drs. H. Waskito Reksosoedirdjo, Mantan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara 1987-1994. Kemudian, Almarhumah Ibu Hj. Ingearti Djuanda menikah dengan Almarhum Drs. H. Ilchaidi Elias, Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, almarhum R. Kemal Budiman Djuanda menikah dengan Ibu Hj. Etty Natalegawa dan Ibu H. Noorwati Djuanda.

Terkait sosok sang ayah, Noorwati Djuanda, putri bungsu Djuanda, dalam YouTube Channel BeritaSatu, mengatakan ayahnya merupakan sosok pendiam. Hobinya membaca dan fotografi. Namun, Pak Djuanda tentu tahu cara memanjakan anak-anaknya.

Di waktu senggang, Djuanda sering mengajak anak-anaknya berjalan ke toko buku, untuk melihat atau membelinya. Inilah cara sang ayah mengasah semangat membaca dan mencari tahu anaknya. ”Kalau diajak ke toko buku, Bapak mengatakan, ’kamu boleh pilih buku apa yang kamu mau dan kemudian kasih ke Bapak’,” ujar Noorwati.

Noorwati mengisahkan, karena Djuanda banyak dikenal, maka dia tidak bisa mengelak sapaan orang yang mengenalnya di toko buku tersebut. ”Kasihan juga Bapak akhirnya tidak bisa membaca,” katanya.

Dalam mendidik anak-anak, Djuanda mengajarkan sebuah prinsip yang lembut namun tegas – yang dalam bahasa Latinnya berbunyi "Suaviter in modo, fortiter in re”. ”Kalau ada tugas harus diselesaikan sekarang, jangan menunggu ada tugas lain, nanti kamu pasti bingung. Jadi memang Bapak begitu. Kalau ada kerja, semua kayaknya beres memang begitu. Jadi sebenarnya bapak juga mengharapkan semua anaknya begitu,” paparnya.

Cucu Djuanda lainnya Shahandra Hanityo mengatakan, sang kakek menjadi Perdana Menteri dalam usia yang sangat muda, yaitu 36 tahun. ”Dan tidak pernah pensiun sebagai pejabat negara sampai pada wafatnya dalam umur 52 tahun. Karena waktu beliau wafat masih menjabat sebagai Menteri Pertama orang nomor dua di Indonesia ujar sang cucu.

Selain dikenal sebagai pencetus ”Deklarasi Djuanda”, sosok sang kakek juga adalah seorang pahlawan nasional. Melalui Deklarasi Djuanda, katanya, wilayah perairan Indonesia bertambah menjadi 70 persen. Melaui Deklarasi Djuanda, Indonesia berhasil memperluas wilayah perairan hingga sekitar 70 persen tanpa harus menempuh konfrontasi militer. ”Itu juga sumbangan dari deklarasi (Djuanda) pada tahun 1957 tersebut,” ujarnya.

Menurut sang cucu, sebelum tahun 1957, Presiden Soekarno pernah memerintahkan untuk mempersiapkan peraturan terkait kesatuan wilayah laut Indonesia. Karena itu, Presiden Soekarno menugaskan Menteri Negara Urusan Veteran Chairul Saleh untuk mempersiapkannya. Panitia kemudian dibentuk, namun tidak selesai.

Kemudian, tugas tersebut dilimpahkan kepada Djuanda. ”Beliau (Djuanda) ternyata punya konsep menjahit wilayah Indonesia, itulah Deklarasi Juanda,” katanya.

Shahandra mengisahkan deklarasi tersebut dibahas dalam sidang kabinet. Sidang tersebut dipersiapkan oleh Mochtar Kusumaatmadja, salah satu ahli kelautan yang baru saja menamatkan pendidikan di Yale AS. Mochtar Kusumaatmadja inilah yang memimipin panitia hingga muncul konsepsi deklarasi Djuanda.

Shahandra mengatakan, yang cukup mengagetkan adalah mereka membahas deklarasi tersebut dari pukul 19.00 hingga pukul 01.00 (pagi). ”Coba kita bayangkan bahwa pada tahun 50-an itu di Menteng, Jakarta, sudah sepi. Tapi para pimpinan bangsa ini tidak mengenal waktu, dia terus rapat terkait konsepsi laut tersebut,” katanya.

”Setelah rapat, akhirnya diumumkan tentang konsepsi deklarasi tersebut,” sambungnya.

Konsepsi inilah yang digunakan oleh negara-negara kepulauan di dunia untuk menerapkan klausul khusus bagi sebuah negara kepulauan (achipelago state).

Deklarasi Djuanda merupakan tonggak sejarah penting yang mengubah konsep wilayah perairan Indonesia, yang kemudian menjadi dasar penetapan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).


Seperti Kakak dan Adik

Hubungan Djuanda dengan Presiden Soekarno cukup dekat seperti kakak dan adik. Memang keduanya sama-sama kuliah di Technische Hoogeschol te Bandoeng (THS) yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Presiden Soekarno merupakan kakak kelas, sekitar 10 tahun di atas Djuanda.

Keduanya juga aktif berorganisasi. Semasa muda, Djuanda aktif dalam organisasi Paguyuban Pasundan. Djuanda juga aktif dalam kehidupan berdemokrasi bersama Otto Iskandar Dinata, seniornya.

Ismeth Wibowo salah seorang cucu Ir. H. Juanda menuturkan bahwa kakeknya adalah pendiri Bappenas yang saat itu namanya adalah Biro Perancang Negara, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia yang pertama, Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia yang pertama, Menteri Pertama Ri yang pertama dan terakhir, mantan Menteri Pertahanan dari kalangan sipil yang mendapat pangkat Jenderal TNI Tituler, salah satu Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah. ”Muhammadiyah bekerja sama dengan BCA membuat film Ir. Juanda,” kata Ismeth.

Ismeth mengatakan bahwa di antara cucu Ir. H. Juanda yang meneruskan jejak langkah kakeknya di lingkungan pemerintahan adalah Iwanshah Wibisono, mantan Kepala Biro Protokol Sekretariat Presiden era Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 Joko Widodo serta Shahandra Hanitiyo Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia.

Ir. H. Juanda juga merupakan kolega Prof. Sumitro Djojohadikusumo, ayahanda Presiden Prabowo Subianto sebagai sesama Menteri pada masa pemerintahan Presiden RI ke-1 Soekarno.

Selain menjabat Menteri Pertahanan Juanda juga pernah menjabat Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan.

Selain kedekatan karena hubungan dalam dunia sosial budaya, politik dan pemerintahan dengan Soekarno, Djuanda juga memiliki hubungan keluarga melalui perkawinan.

”Anak Bung Karno dari Ibu Hartini yaitu Taufan Soekarnoputra menikah dengan Meis Danubrata, cucu dari kakakipar Pak Djuanda yaitu Brigjen Pol ( Purn) Enoch Danubrata, mantan Kapolda Jawa Barat,” kata Ismeth.

Shahandra mengatakan, istri kelima Soekarno yaitu Dewi Soekarno, selalu dititipkan di rumah neneknya ketika ke Indonesia.

Shahandra mengatakan, Bung Karno seorang dengan jiwa sangat revolusioner. Soekarno memiliki cita-cita besar dengan semangat tinggi. Namun, cita-cita dan rencana besar tersebut diejawantahkan oleh Djuanda.

”Soekarno itu memiliki jiwa revolusioner, tapi yang membumikan itu adalah Pak Djuanda. Pak Djuanda yang mencarikan anggaran. Contohnya untuk Waduk Jati Luhur yang dibangun pada tahun 57-58 dengan kerja sama Perancis. Nah biaya-biaya tersebut dicarikan oleh Pak Juanda,” ujarnya.

Shahandra mengatakan, sebagai Perdana Menteri, Djuanda memiliki kewajiban untuk mencari pendanaan proyek-proyek yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno. Salah satunya lagi yaitu proyek perluasan Bandara Djuanda di Surabaya.

Namun, katanya, hubungan antara Perdana Menteri Djuanda dan Presiden Soekarno sempat retak. Hal itu terjadi lantaran Djuanda memberi pengampunan dan pembebasan kepada mantan PM Sutan Sjahrir. Hal itu dilakukan di saat Presiden Soekarno berada di luar negeri.

”Bung Karno pernah marah karena Pak Juanda memberikan pengampunan dan pembebasan kepada Pak Sutan Sjahrir,” ujarnya.

Namun karena Djuanda bukan berasal dari partai politik, maka Soekarno bisa memahami keputusan Djuanda tersebut.

Juga terkait dengan gerakan Pramuka, yang waktu itu agak ke kiri-kirian. Ketika Presiden Soekarno ke Jepang, Pramuka dikembalikan ke gerakan semula, yaitu organisasi pendidikan nonformal di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan, bertujuan membentuk kepribadian, watak, moral, dan keterampilan mulia berdasarkan Satya dan Darma Pramuka.

”Sebagai Pejabat Presiden, Djuanda akhirnya mengembalikan ke jalur yang netral untuk Pramuka tersebut,” katanya.

Pada tahun 1962, satu tahun sebelum Djuanda meninggal, Presiden Soekarno meminta Djuanda untuk melakukan pemeriksaan lengkap kesehatan di Jepang.


Misteri Seputar Kematian Djuanda

Kabar tentang mangkatnya Djuanda menyesakkan dada keluarga, kerabat dan sesama rekan kerja.

Dari versi resmi yang beredar, dikisahkan bahwa pada sore, tanggal 6 November 1963, Djuanda pergi ke Hotel Indonesia ( sekarang Hotel Kempinski Jl. MH Thamrin Jakarta), ditemani istri dan putrinya, untuk mengikuti sebuah acara. Pada pukul 2.25 WIB, Djuanda tiba-tiba pingsan, dan denyut nadinya berhenti 20 menit kemudian

Dokter pribadi bergegas ke tempat kejadian dan memberinya pernapasan buatan. Namun tidak berhasil. Pada tanggal 7 November 1963, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa Djuanda meninggal karena serangan jantung. Setelah kematiannya, Djuanda diangkat menjadi pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 224/1963.

Namun, Noorwati memiliki ingatan kuat sekaligus kenangan terhadap peristiwa memilukan itu. Suatu ketika, keluarga mendapat kabar dari Istana bahwa Djuanda kolaps.

”Dikabarkan bahwa Bapak ada sesuatu. Mereka tidak menginformasikan Bapak Meninggal. Namun, kepada keluarga diminta untuk segera ke tempat Bapak. Tapi harus seorang anak laki-laki,” ujarnya mengenang saat-saat genting tersebut.

Kemudian, baru anak perempuan dijemput. ”Namun, ketika pulang, saya melihat Bapak sudah dibawa dari atas (ruangan atas) melalui tangga. Kemudian, kita naik mobil ke rumah. Ada Menteri-menteri Kabinet juga,” ujarnya.

Setiba di rumah, orang mempersiapkan sesuatu untuk kebutuhan jenazah. Seorang Ibu Menteri – saya lupa namanya – waktu itu mengatakan bahwa dia melihat bunga melati di kulkas. Karena itu, sang menteri meminta bunga melati itu dipakai untuk menghiasi jenazah.

Noorwati merasa kaget karena bunga melati itu dia rangkai ketika ibunya meminta dibuatkan rangkaian untuk menghiasnya. Maklum, ibu Djuanda suka terhadap hiasan dari bunga melati.

”Saya waktu itu kaget karena melatih tersebut saya rangkai. Saya enggak tahu itu (bunga melati tersebut digunakan untuk Bapak, red.). Saya nangis aja waktu itu,” ucapnya.

Shahandra mengatakan, yang menjadi pertanyaan adalah ketika dinyatakan meninggal di Hotel Indonesia (HI), sang kakek langsung dibawa ke rumah, bukan ke rumah sakit. Untuk mengetahui kejadian di tempat perkara, maka kepolisian mengirim staf. Ketika dicek di TKP, terlihat ada gelas dan ceceran minuman yang jatuh ke sofa. Namun, sofa itu sudah dirobek seseorang. ”Enggak pernah terjawab, apa dan kenapa dirobek, siapa yang merobek, dalam rangka apa dirobek. Dan itu enggak pernah terjawab,” ujarnya.

 

 

Sosok Berintegritas

Sang kakek, menurut Shahandra, merupakan sosok yang memiliki integritas yang tinggi. Dia mengatakan, Djuanda tidak pernah menomorduakan komitmennya bagi bangsa dan negera yang dia cintai.

Kita tak butuh banyak penjelasan terkait contoh dari komitmen yang dimiliki oleh Djuanda. Seorang sejarawan, sekiranya, Prof Anhar Gonggong, pernah mengatkaan bahwa sosok Djuanda menjadi ”bumper” atau pelindung Presiden Soekarno. Dia adalah sosok yang menjadi pembela sang ”Penyambung Lidah Rakyat” itu hingga malaikat maut menjemput.

”Ada sejarawan yang menyampaikan bahwa sebenarnya Pak Juanda itu adalah bumper terakhir Bung Karno. Karena begitu bumper itu lepas tahun 1963, beliau meninggal di bulan November 63, maka nggak lama kemudian, pada tahun 1965 meletus Gerakan 30 September dan kemudian Bung Karno jatuh,” ujarnya.

Shahandra mengatakan, komitmen inilah yang terus menjadi pegangannya di dalam hidup maupun dalam pekerjaan.

”Komitmen untuk mengabdi bagi negara itu yang coba saya terapkan di dalam karier saya sampai dengan posisi saat ini. Kita tidak menomorkduakan sumbangsih kita bagi negara ini. Nilai inilah yang coba saya ambil terus dari aki Djuanda,” katanya.

Dia mengatakan, dirinya tidak berani untuk menyematkan nama sang kakek pada nama terakhirnya.

”Karena kalau saya melakukan sesuatu yang tidak baik, maka itu akan memberatkan saya dan itulah yang sangat saya hindari,” ungkapnya.

Noorwati menambkan, mengingat nama Djuanda menjaga kami untuk tetap berjalan pada rel.

Shahandra mengatakan, integritas inilah yang membedakan pejabat saat ini dengan pejabat pada era kemerdekaan. ”Integritas ini menjadi nomor satu. Kita lihat saat ini betapa banyak kejadian yang tidak berintegritas dari para pejabat kita. Kita bisa menemukan berita-berita terkait aksi yang dilakukan oleh KPK, dan Kejaksaan yang menangkap tangan para koruptor,” imbuhnya.

Orang begitu mudah terjerumus dalam pemujaan materi dan menanggalkan integritas – yang justru sangat penting. ”Konsekuensinya kita harus terus berkomitmen dan tidak ingin terlihat glamor dengan tetap menampilkan integritas diri atau hal-hal yang bersifat seimbang,” pungkasnya. *

Tags:
© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas