Kurtubi Minta Para Santri Agar Waspadai Isu SARA untuk Tujuan Politik
Lebih-lebih ditahun politik seperti sekarang ini, kadang ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang menggunakan isu sara untuk tujuan politik. Maka politisi asli Sasak, Kediri, Kurtubi menghimbau agar para santri tidak terprovokasi.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID -- Anggota MPR RI, Kurtubi mengunjungi SMK Hizbun Najah di lingkungan pondok pesantren Hizbun Najah NW di Banyu Urip, Tempos, Gerung - Lombok Barat, untuk mensosialisasikan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Sosialisasi merupakan salah satu tugas sebagai anggota DPR yang juga sekaligus Anggota MPR RI.
Disambut langsung oleh pimpinan ponpes Idham Q. H, SS, para pengurus ponpes, para tuan guru, para santri, tokoh masyarakat serta warga sekitar, acara berlangsung meriah.
Idham dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kedatangannya anggota dewan ke ponpesnya. Pasalnya atas perjuangan Kurtubi-lah, ponpes Hizbun Najah ini mendapat bantuan dana sebesar 75 juta rupiah, dan akan digunakan untuk membangun ruang kelas baru di SMK tersebut.
Lebih jauh Idham juga mengapresiasi atas pelaksanaan sosialisasi 4 pilar di SMK tersebut. Menurutnya hal ini semacam suplement bagi para santri dalam memperoleh mata pelajaran PPKn.
“Munculnya degradasi moral sebagai efek negatif kemajuan teknologi dan maraknya media sosial harus dilawan dengan pendidikan akhlak dan sosialisasi kebangsaan seperti ini, agar generasi muda tidak terperosok dalam gerakan-gerakan radikalisme dan intoleran,” ujarnya.
Sementara itu dalam arahan dan paparan materi sosialisasi 4 Pilarnya, anggota DPR/ MPR RI, Kurtubi menyampaikan bahwa generasi muda khususnya santri Hizbun Najah harus bisa memahami materi 4 Pilar dengan baik. Sebagai generasi muda muslim juga harus mampu menghargai sejarah bahwa Indonesia diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa yang bukan hanya muslim tetapi dari berbagai latar belakang agama, ras dan suku. Karenanya walaupun berbeda suku harus tetap menghargai, walaupun berbeda agama harus tetap saling menghargai.
“Yang tidak boleh kalau ada yang menginterfensi masalah keibadahan kita, selama ini kita bebas dalam beribadah, kita leluasa dalam berdakwah menyebarkan kebaikan, maka kita jangan terpengaruh gerakan radikal yang mengkafirkan orang lain, membuat teror bahkan melakukan bom bunuh diri,” ujarnya.
Kurtubi mengatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah khas milik bangsa kita. Sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku, etnis dan ragam budaya, harus tetap kita jaga keberadaanya, sehingga kita tetap bersama kokoh dan kuat saling menjaga, saling menghormati satu kelompok dengan kelompok lain.
Lebih-lebih ditahun politik seperti sekarang ini, kadang ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang menggunakan isu sara untuk tujuan politik. Maka politisi asli Sasak, Kediri, Kurtubi menghimbau agar para santri tidak terprovokasi.
“Sebagai warga negara yang berdomokrasi kita dibolehkan bebas memilih sesuai keyakinan kita masing-masing tetapi jangan mau kita diadu domba, sehingga kita sesama muslim saling bermusuhan,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, acara ditutup dengan pembagian kacamata minus yang diberikan Kurtubi kepada beberapa santri. (Very)