INDONEWS.ID

  • Selasa, 08/10/2019 18:14 WIB
  • BNPB Rekomendasikan Pentahelix sebagai Langkah Optimal Pencegahan Karhutla

  • Oleh :
    • Mancik
BNPB Rekomendasikan Pentahelix sebagai Langkah Optimal Pencegahan Karhutla
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo (Foto:Dokumentasi BNPB)

Jakarta,INDONEWS.ID - Peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap di Indonesia menjadi perhatian serius yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat agar penanganan karhutla dapat dilakukan dengan optimal.

“Seperti arahan Presiden Jokowi dalam menanggapi bencana karhutla bahwa pencegahan menjadi prioritas utama. Melalui metode pentahelix, kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media dapat meningkatkan langkah pencegahan sehingga karhutla yang selalu terjadi setiap tahun tidak menimbulkan dampak yang semakin merugikan,” ujar Wisnu, Deputi Sistem dan Strategi BNPB dalam sambutannya pada kegiatan Lokakarya Optimalisasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan serta Kabut Asap di Ruang Serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Jakarta, Selasa,(8/10/2019)

Kegiatan Lokakarya ini turut mengundang perwakilan lintas lembaga, antara lain Indra Gustari dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Li Chen Wei dari Kemenko Bidang Perekonomian, Sutedjo Halim dari PT. Triputra Group, Hartono dari Badan Restorasi Gambut (BRG).

Hadir juga Budi Triadi dari Litbang SDA PUPR, Jasmin Ragil Utomo dari Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Peter F. Gontha Staf Ahli Kemenlu RI yang memaparkan peran dan permasalahan yang dihadapi dalam mengatasi bencana karhutla.

Lokakarya penanganan Karhutla BNPB

Kolaborasi lintas lembaga menjadi solusi efektif dalam penanganan bencana karhutla. Proses yang dimulai dari langkah pencegahan dan antisipasi dengan data yang diperoleh dari BMKG, pengelolaan gambut yang diawasi oleh BRG, pengelolaan lahan yang dikawal oleh pemerintah daerah bersama masyarakat setempat, partisipasi aktif sektor swasta serta sanksi administratif maupun penegakan hukum secara perdata maupun pidana mampu meminimalisir terjadinya bencana karhutla yang selalu terjadi setiap tahun.

Tidak hanya di Indonesia, namun bencana karhutla juga terjadi di beberapa negara di dunia. Tetapi Indonesia memiliki kesulitan tersendiri karena lahan yang terbakar adalah lahan gambut.

“Jika Indonesia mampu mengelola lahan gambut dan melakukan pemanfaatan lingkungan hidup dengan baik, Indonesia mampu menjadi "world superpower", mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya,” ujar Peter F Gontha, Staf Ahli Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi antar lembaga dan tokoh masyarakat, mulai dari aparat keamanan dan pemerintah daerah yang mengutarakan pendapat dan masukan untuk penanganan karhutla.

“Karhutla selalu terjadi setiap tahun, cuaca kemarau dan kekeringan juga dapat kita perkirakan. Yang membuat selama ini kita belum dapat mengantisipasi karhutla adalah kita hanya bekerja, namun belum bekerja sama. Untuk itu, melalui konsep Pentahelix, mari kita bersama-sama bekerja keras untuk mengantisipasi bencana karhutla dan menjaga lahan gambut sesuai kodratnya yaitu berawa, berair dan basah. Satu hal yang paling penting, seperti arahan Presiden RI, selalu utamakan pencegahan daripada penanggulangan,” kata Doni Monardo, Kepala BNPB saat menutup kegiatan Lokakarya.

Artikel Terkait
Artikel Terkini
PJ Bupati Maybrat Tinjau Perkembangan Pemulihan Kampung Aisa
Kemendagri Imbau Pemprov Maluku Gali Potensi Lokal Guna Wujudkan Pembangunan Berbasis Inovasi
Gunung Ruang di Sulawesi Utara Meletus, Sebanyak 828 Warga Dievakuasi
Sejumlah Sumber Pengisian Kebutuhan ASN di IKN, Peluang Besar untuk Putera-Puteri Terbaik Kalimantan
Al-Azhar Seni Bela Diri Kerja Sama Teladan dan Ting Hao Gelar Kejuaraan Silat
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas