indonews

indonews.id

Jadi Guru Besar, Arif Satria: Bukan Perjalanan Akhir Tapi Awal Perjalanan

Gelar guru besar bukan akhir perjalanan akademik, tetapi harus kita anggap sebagai awal perjalanan. 

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Jadi Guru Besar, Arif Satria: Bukan Perjalanan Akhir Tapi Awal Perjalanan
Arif Satria, Rektor IPB University. (Foto: Ist)

Bogor, INDONEWS.ID -- Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI, terhitung sejak Oktober 2019 Arif Satria yang kini menjabat Rektor IPB University telah diangkat menjadi Guru Besar Tetap di Bidang Ekologi-Politik di IPB University. Arif merasa lega dengan gelar ini karena memang merupakan mimpi sejak awal jadi dosen.

"Sekaligus lunasi janji saya ke orang tua. Saya tidak bisa membalas segala kasih sayang orang tua saya selama ini selain dengan karya-karya seperti ini. Semoga gelar guru besar ini bisa membuat orang tua saya bahagia dan bangga, " ujar Arif seperti dikutip dari siaran pers Biro Komunikasi IPB University, Sabtu (26/10).

Setiap saat orang tua Arif selalu menanyakan kapan mencapai puncak tertinggi akademik sebagai guru besar. Dengan gelar ini, Arif merasa tertuntut untuk lebih produktif dalam menghasilkan karya-karya akademik. "Gelar guru besar bukan akhir perjalanan akademik, tetapi harus kita anggap sebagai awal perjalanan. Sehingga harus ada karya-karya lanjutan yang lebih baik di masa mendatang. Bagaimanapun juga saya dibesarkan oleh IPB. Saatnya saya harus terus berbuat untuk kemajuan IPB," ujar Arif.

Arif Satria, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 17 September 1971 dari pasangan Bapak Faruk Hasan dan Ibu Sri Utami. Putra ke-2 dari 3 bersaudara ini menikah dengan Retna Widayawati dan dikaruniai seorang putra Zafran Akhmadery Arif (20 tahun) dan seorang putri Sweetyandari Nidya Areefa (10 tahun).

Ayah dua anak ini menyelesaikan pendidikan formal sejak SD hingga SMA di Pekalongan. Arif termasuk siswa yang berprestasi, dibuktikan dengan menjadi siswa teladan 1 tingkat SLTP tahun 1986 dan siswa teladan 1 tingkat SLTA tahun 1989. Selain berprestasi bidang akademik, Arif juga menunjukkan kemampuan kepemimpinannya sebagai ketua OSIS sejak SMP.

Pada tahun 1990, Arif Satria melanjutkan kuliah di IPB University melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Selama menjadi mahasiswa, ia aktif sebagai pimpinan mahasiswa, seperti sebagai Presidium Senat Mahasiswa IPB, National Director dan salah seorang pendiri International Association of Student in Agricultural and Related Science (IAAS) Indonesia.

Lulus dari Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB pada tahun 1995, kemudian melanjutkan S2 di Program Sosiologi Pedesaan IPB lulus tahun 1999, dan menyelesaikan Program Doktor di bidang Marine Policy, Kagoshima University, Jepang tahun 2006.

Arif diangkat menjadi dosen di Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Perikanan IPB pada tahun 1997, kemudian di tahun 2019 ini memperoleh gelar Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB dalam bidang Ekologi Politik.

Sampai saat ini, ia telah meluluskan 43 sarjana, 48 magister dan 14 doktor. Selain tugas utama sebagai pengajar, tahun 2017 diberi amanah sebagai Rektor IPB periode 2017-2022. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Dekan Fema selama 2 periode (2010-2017).

Selain itu, jabatan lain di IPB yang pernah diemban yaitu Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB (2008-2010), Sekretaris Bagian Kependudukan, Kajian Agraria dan Ekologi Politik, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB (2007-2010), Kepala Divisi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB (2006-2008), Kepala Program Agraria Masyarakat Pesisir, Pusat Studi Agraria (PKA) IPB (1999-2002), Sekretaris 2 Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan, Fakultas Perikanan IPB (1998-2002), Sekretaris Eksekutif Lembaga Sumberdaya Informasi (LSI) IPB (1997-2000), dan Sekretaris Rektor IPB (1996-1997). (Very)

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas