INDONEWS.ID

  • Kamis, 12/12/2019 07:42 WIB
  • Setuju dengan Jokowi, SBY: Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Tidak Buruk

  • Oleh :
    • Rikardo
   Setuju dengan Jokowi, SBY: Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Tidak Buruk
Ketua Umum DPP Partai Demokrat selaku Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Ketua Umum DPP Partai Demokrat selaku Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) setuju dengan Presiden Joko Widodo soal pertumbuhan ekonomi 5 persen. SBY mengatakan angka itu tidak buruk terutama jika dikaitkan dengan situasi perekonomian global saat ini.

Baca juga : Tekan Kasus Covid-19, Mendagri Ajak Insan Pers Gaungkan Penerapan Protokol Kesehatan

Hal itu dikatakan SBY dalam pidato refleksi pergantian tahun bertajuk "Indonesia Tahun 2020, Peluang, Tantangan, dan Harapan", di JCC Senayan Jakarta, Rabu malam, 11 Desember 2019.

"Demokrat sepakat dengan Presiden Jokowi bahwa angka pertumbuhan pada tingkat 5 persen bukanlah sesuatu yang buruk," kata

Baca juga : PT JIEP Gelar Webinar Penerapan "The New Normal" di Lingkungan Perusahaan

Yang penting, kata SBY, sasaran pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan untuk 2020 sebesar 5,3 persen dapat dicapai.

Namun demikian, menurut dia, jika ekonomi tumbuh rendah, misalnya di bawah 6 persen, maka lapangan pekerjaan baru sulit didapat, penghasilan dan daya beli rakyat sulit ditingkatkan serta angka kemiskinan juga tak mudah untuk diturunkan.

Baca juga : Pemerintah Sebut 99 Daerah Berhasil Masuk Zona Hijau Covid-19

Karena itu, SBY menyarankan dalam jangka pendek dan menengah, dua langkah besar perlu dilakukan.

Pertama, investasi dunia usaha harus ditingkatkan, sementara usaha swasta, dan bukan hanya BUMN, harus mendapat peluang bisnis yang lebih besar.

"Oleh karena itu, Demokrat mendukung penuh upaya pemerintah untuk meningkatkan investasi kita," jelas SBY.

Kedua, pembelanjaan konsumen juga harus dijaga dan kalau bisa ditingkatkan, baik belanja pemerintah maupun konsumsi rumah tangga.

Lebih lanjut mantan presiden dua periode itu menekankan di tengah lesunya daya beli golongan menengah ke bawah, ada dua prioritas yang penting direalisasikan yakni penciptaan lapangan kerja baru serta memastikan agar anggaran perlindungan sosial, termasuk subsidi bagi kaum tidak mampu, jumlahnya memadai.

Demokrat juga berharap belanja pemerintah sungguh dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi yang nyata. Sementara itu untuk jangka panjang, pemerintah dinilai perlu melakukan segala upaya untuk meningkatkan pertumbuhan.

Partai Demokrat melihat ada peluang peningkatan sumbangan sektor industri pada pertumbuhan terutama melalui industri manufaktur yang berbasiskan pertanian dan sumber daya mineral. Selain itu juga dari sektor perdagangan, konstruksi, dan kepariwisataan.

Demokrat juga menyambut baik tekad Presiden Jokowi, agar Indonesia bisa keluar dari jebakan penghasilan menengah pada tahun 2045. "Di sinilah perlunya kita memiliki pertumbuhan yang tinggi," katanya.

SBY mengatakan pengalaman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi enam persen setahun, akan membuat pendapatan perkapita naik dua kali lipat dalam 10 tahun.

"Insya Allah Indonesia bisa. Kita punya success story, dalam waktu 10 tahun, 2004 - 2014, income per kapita kita naik tiga kali lipat lebih, dari 1.100 dolar AS menjadi 3.500 dolar AS," tutur SBY.

Artikel Terkait
Tekan Kasus Covid-19, Mendagri Ajak Insan Pers Gaungkan Penerapan Protokol Kesehatan
PT JIEP Gelar Webinar Penerapan "The New Normal" di Lingkungan Perusahaan
Pemerintah Sebut 99 Daerah Berhasil Masuk Zona Hijau Covid-19
Artikel Terkini
Tekan Kasus Covid-19, Mendagri Ajak Insan Pers Gaungkan Penerapan Protokol Kesehatan
Dukung Pembangunan Berkelanjutan di Fakfak, Petuanan Fatagar Lakukan Pemetaan Wilayah Adat
PT JIEP Gelar Webinar Penerapan "The New Normal" di Lingkungan Perusahaan
Pemerintah Sebut 99 Daerah Berhasil Masuk Zona Hijau Covid-19
BNN Sita Narkoba Jenis Baru Dari Hutan Amazon
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
gandalf