INDONEWS.ID

  • Rabu, 26/02/2020 11:01 WIB
  • Akui Lalai Deteksi Virus Corona, Menkes Jepang Minta Maaf

  • Oleh :
    • Rikardo
Akui Lalai Deteksi Virus Corona, Menkes Jepang Minta Maaf
Ilustrasi: Sejumlah penumpang yang keluar dari kapal pesiar Diamond Princess tak semuanya menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh. (Foto: Hiroko Harima/Kyodo News via AP)

Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Kesehatan Jepang Katsunobu Kato mengakui kesalahan dan meminta maaf karena 23 penumpang kapal pesiar Diamond Princess keluar tanpa menjalani pemeriksaan kesehatan dengan benar dan menyeluruh.

Hal ini disampaikan menyusul 100 orang lagi diizinkan keluar dari kapal tersebut, pada Sabtu (22/2). Proses pemeriksaan dilakukan terkait merebaknya wabah virus corona atau COVID-19.

Baca juga : Kementan Tegaskan Kalung Anti Virus Corona Bukan Vaksin

"Kami amat menyesalkan kesalahan operasional yang bisa bermasalah. Penumpang akan kembali menjalani pemeriksaan kembali," ungkap Kato.

Kabar ini muncul kala seorang perempuan Jepang yang meninggalkan kapal Diamond Princess pada Rabu (19/2) dinyatakan positif terdampak virus corona ketika pulang ke Tochigi. Ia menjadi orang pertama yang positif korona di antara 970 penumpang yang turun sejak awal pekan.

Baca juga : Update Corona 27 Juni, Kasus Positif 1.385, Pasien Sembuh Menjadi 21.909

Sementara itu, 100 penumpang yang keluar pada Sabtu (22/2) terdiri atas penumpang Jepang yang terakhir. Berdasarkan keterangan pejabat setempat yang dilansir AFP, mereka akan dikarantina dua minggu di dekat Tokyo.

Sementara itu, beberapa penumpang warga negara lain masih menunggu pemerintah mereka mengirimkan pesawat.

Baca juga : Kabar Baik, 11 Provinsi Tidak Melaporkan Penambahan Kasus Positif Covid-19

Dengan data penumpang keluar terbaru, karantina 14 hari diperkirakan akan dimulai untuk lebih dari 1.000 kru yang masih berada di kapal. Sebagian besar dari mereka tidak dalam isolasi karena diperlukan untuk tetap menjalankan kapal, menyiapkan makanan ke kabin.

Situasi tersebut mendapat banyak kritik karena dianggap secara tak langsung menyebarkan virus ke seluruh penumpang kapal. Kritikan muncul karena virus ini telah menyebar luas di kawasan Jepang.

Berdasarkan data Jumat (21/2), Jepang menjadi negara kedua yang memiliki kasus virus corona terbanyak setelah China dengan 717 kasus.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Katsunobu Kato sempat mengatakan tak ada fasilitas medis yang cukup besar untuk menampung lebih dari tiga ribu orang sekaligus.

Dalam kesempatan itu, Kato mengungkapkan enam penumpang asal Australia, 18 orang Amerika dan satu orang Israel yang dinyatakan positif virus Corona telah meninggalkan Jepang.

Kato juga mengonfirmasi rumah sakit Jepang menggunakan pengobatan anti-flu Avigan atau yang juga disebut Favipiravir, untuk mengobati pasien terinfeksi virus corona. Pemerintah, kata Kato, akan terus menggunakan obat semacam itu apabila terbukti efektif menyembuhkan.*(Rikardo). 

Artikel Terkait
Kementan Tegaskan Kalung Anti Virus Corona Bukan Vaksin
Update Corona 27 Juni, Kasus Positif 1.385, Pasien Sembuh Menjadi 21.909
Kabar Baik, 11 Provinsi Tidak Melaporkan Penambahan Kasus Positif Covid-19
Artikel Terkini
Kunjungan Kerja Ke Surabaya, Doni Monardo Dorong Peran Kampus Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru
Dukung Kesehatan di Masa Pandemi, Li Foundation Bagikan Pisang dan Kelapa Muda untuk Para Pesepeda
Mahfud MD Ungkap Alasan Menteri Lambat Cairkan Anggaran di Tengah Covid-19
Ini Dua Prediksi Rizal Ramli yang Terbukti Benar
Ini Strategi Banyuwangi Ketika Buka Kembali Sektor Pariwisata
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
gimli