INDONEWS.ID

  • Minggu, 03/05/2020 17:45 WIB
  • Membangun Herd Immunity atau Kekebalan Bersama Covid-19

  • Oleh :
    • Rikard Djegadut
Membangun Herd Immunity atau Kekebalan Bersama Covid-19
DR.Ir.Sasmito Hadi Wibowo,MSc. Dosen Universitas Trisakti dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik dan mantan Deputi BPS (Foto: Ist)

Oleh: DR.Ir.Sasmito Hadi Wibowo,MSc.

Opini, INDONEWS.ID - Memperkirakan akhir drama corona virus (Covid-19) atau yang disingkat C19 menjadi penting. Pemegang kebijakan perlu proyeksi yang optimistis untuk memberikan semangat dan harapan kepada masyarakat.

Di samping itu, para akademisi juga perlu membuat prakiraan yang realistik yang didasarkan pada berbagai fakta yang diterimanya. Namun, perlu diingat bahwa setiap perencanaan membutuhkan ramalan yang "the worst case" atau pesimistis. Sehingga jika terjadi malapetaka, sumber daya yang disiapkan sudah ada.

Proyeksi Optimistis

Menduga harapan baik Indonesia yaitu pada Juli 2020, kasus Covid-19 atau C19 sudah relatif rendah. Sebut saja harapan itu sebagai Model Optimis Krakatau C19 Indonesia.

Maka perumusan pemusnahan C19 hanya dapat dilakukan dengan 2 cara yakni global lockdown atau lockdown global dan herd immunity atau kekebalan global.

Lockdown global dilakukan agar seluruh virus C19 meleleh sendiri karena kehilangan inang. Namun, jika ada virus yg lolos, misalnya sempat transit di hewan piaraan, pandemi bisa berulang.

Sementara kekebalan global atau bahasa kerennya herd immunity bertujuan agar setiap orang memiliki imun terhadap virus C19. Dipandang dari sisi cost atau biaya, cara ini lebih ekonomis dan permanen. Kemungkinan pandemi ulangan pun relatif kecil.

Menyadari keterbatasan fasilitas seperti alat uji, ventilator, dan lain-lain yang ada di Indonesia, maka Indonesia nampaknya harus memilih cara kedua yakni kekebalan global atau herd immunity.

Untuk itu, langkah pemerintah RI menerapkan lockdown parsial dalam bentuk PSBB gradual tidak lain adalah untuk membangun kekebalan bersama terhadap C19. Langkah ini juga dinilai lebih sesuai dengan gaya hidup kita.

Selain itu, penerapan lockdown parsial juga menjadi tolak ukur bagi keberhasilan bangsa ini membendung keganasan covid-19. Sebab, sikap cuek atau easy-going bangsa kita dan law enforcement yang sulit dilaksanakan secara penuh, membuat lockdown total agaknya disadari sulit berhasil.

Hal itu bisa diukur dari masih banyaknya warga yang melanggar PSBB sehingga berpotensi pada sulitnya memutuskan mata rantai penyebaran covid-19.

Meski demikian, jumlah pelanggar peraturan PSBB relatif tidak banyak sehingga proses ketularan dan penularan C19 tidak terjadi secara dratis dan yang tertular mungkin hanya menerima beberapa ekor virus, bukan ribuan virus sekaligus.

Hal lain yang membantu adalah gencarnya kampanye hidup sehat yang intens seperti kampanye makanan bergizi, minum empon-empon, cuci tangan, pakai masker, dsb. Hal ini dapat memberi kekuatan dan kesempatan bagi orang yang tertular untuk membangkitkan kekebalan tubuh terhadap C19.

Jika proses itu terjadi secara berantai selama masa PSBB, maka kekebalan bersama akhirnya terbentuk. Kita doakan usaha ini berhasil.

Pada 2 Maret 2020, Pemerintah Indonesia mengumumkan secara resmi pasien terpapar C19 di mana hanya terdapat 2 kasus pertama. Lalu 40 hari kemudian, tepat pada 9 April 2020 kasus hanya bertambah menjadi 327 orang, dan penularannya bergerak eksponensial (sangat cepat).

Namun disadari, kampanye awal disertai hiruk-pikuk implementasinya membuat masyarakat kaget, waspada dan mulai menjaga jarak, sehingga sejak 11 April 2020, penularan bergerak polinomial (cepat).

Selanjutnya, intensitas kampanye anti C19 yang luar biasa dan masif dari semua pihak di minggu ke- 2 s.d 4 April 2020 membuat gerak polinomial pecah bagaikan pecahnya Gunung Krakatau tahun 1883 menjadi 3 anak gunung atau pulau kecil-kecil.

Jika saja, ketiga pecahan anak gunung atau anak pulau ini tersebar di akhir April (pulkam), akhir Mei (mudik), dan akhir Juni (arus balik), maka per Juli/Agustus 2020, diharapkan sudah kasus sudah landai.

Jika Juli-Agustus 2020, PSBB atau lockdown dilonggarkan tau loosen dan kasus C19 tetap berkurang secara cepat, maka dapat disimpulkan bahwa herd immunity atau kekebalan global approach berjalan baik.

Tahap penting berikutnya adalah simpul-simpul ekonomi dapat cepat bergerak kembali.

Hal itu bisa ditandai dari dua kejadian per 25 April 2020. Pertama, Juru Bicara Gugus Tugas C19, Achmad Y meminta masyarakat berusaha menjaga imun terhadap C19. Kedua, Vietnam mencoba melepas lockdown. Menarik untuk melihat dampaknya.

Wallahu alam***

NB: kasus Moderat dan Kasus Pesimis sedang dibuat (menunggu data real yang lebih panjang dulu). Dugaan sementara via Moderat model, C19 akan landai di akhir tahun 2020 dan via Pesimistic Model, C19 akan landai di semester 2/2021. Wallau alam. Kita berdoa, Optimis Model yang bisa terjadi. Aamiin.

*) DR.Ir.Sasmito Hadi Wibowo,MSc. Dosen Universitas Trisakti dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik dan mantan Deputi BPS

Artikel Terkait
Artikel Terkini
Lonjakan Suara PSI Tak Masuk Akal, Koalisi Masyarakat Sipil: Masifkan Tenanan Publik untuk Hentikan Despotisme dan Dinasti Politik
BNPP Tingkatkan Koordinasi dan Fasilitasi Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Kepulauan Riau
Realese Single Album Kelima, Ry Hyori ingin `Bintang` Jadi Inspirasi banyak Orang
Menteri ATR/Kepala BPN: Selamat Ulang Tahun ke-62 Kopaska
Direktur Pol PP dan Linmas Kemendagri Hadiri Upacara Gelar Pasukan Memperingati HUT ke-74
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas