INDONEWS.ID

  • Jum'at, 08/05/2020 11:30 WIB
  • Ini Kata Susi soal Meninggalnya ABK WNI di Kapal Ikan China

  • Oleh :
    • Rikard Djegadut
Ini Kata Susi soal Meninggalnya ABK WNI di Kapal Ikan China
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti perbudakan Anak Buah Kapal (ABK) WNI di kapal China merupakan imbas dari Illegal Unreported Unregulated Fishing (IUUF) yang belum dihentikan.

"Illegal Unreported Unregulated Fishing = Kejahatan yg mengambil kedaulatan sumber daya ikan kita = sumber protein = Ketahanan pangan= TENGGELAMKAN !!!!!!!! Saya sudah teriak sejak tahun 2005," kata Susi yang kerap menenggelamkan kapal pencuri ikan ilegal pada masanya, dalam cuitannya, Kamis (7/5/2020).

Baca juga : Susi Pudjiastuti Minta Netizen Stop Saling Membully dan Menghujat soal Perbedaan

Susi lantas membeberkan bagaimana IUUF bekerja selama ini. Dia mengatakan, IUUF merupakan kejahatan lintas negara yang dilakukan di beberapa wilayah laut, oleh crew dan ABK dari beberapa negara.

Hasil tangkapannya yang ilegal, seperti penangkapan hiu untuk diambil siripnya dalam kasus ABK kapal China itu dijual ke beberapa negara. Praktis penangkapan ikan ilegal melanggar hukum kelautan banyak negara.

Baca juga : Pengamat: Rizal Ramli dan Susi Pudjiastuti Berpeluang Maju pada Pilpres 2024, Mereka Punya Program Bangun RI

Pelanggaran yang dilakukan tak hanya soal penangkapan biota laut yang dilindungi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Berbagai pelanggaran dari kedaulatan wilayah laut hingga perbudakan manusia kerap terjadi.

Tak jarang, para pelaku illegal fishing menyelundupkan berbagai komoditi termasuk narkoba melalui jalur laut yang sulit dilacak.

Baca juga : Survey Reshuffle Kabinet, Susi Pudjiastuti Paling Dijagokan Netizen

"Penyelundupan segala komoditi bukan hanya ikan yang dicuri tapi juga satwa-satwa langka, Narkoba & Kejahatan Kemanusiaan/perbudakan modern. Kejahatan yg sangat lengkap dan jahat luar biasa," ungkap Susi.

Seriusnya kejahatan IUUF membuat berbagai negara membentuk Satuan Tugas (Satgas). Di AS, Presiden AS Barack Obama pada masanya membuat Task Force IUUF.

"Indonesia di bawah Pak Jokowi juga membuat Satgas 115. Yg dulu rencananya akan dibuat multi door menangani semua kejahatan di Laut," ungkap Susi.

Ingat kasus Benjina

Viralnya video pelanggaran HAM yang dilakukan oleh awak kapal China membuat Susi kembali teringat dengan kasus perbudakan manusia di Benjina.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sendiri telah sejak lama memerangi perbudakan manusia. Beberapa saat setelah investigasi Benjina terungkap, penyidikan hingga penyekapan langsung dilakukan.

Saat itu, Satgas 115 mendapati 322 ABK asing terdampak di sekitaran pabrik PT Pusaka Benjina Resources (PBR) di Benjina, Kepulauan Aru, Maluku.

Sementara itu, kepolisian Daerah Maluku berhasil mengungkap kasus penjualan warga negara asing ke PT Pusaka Benjina Resources yang berlokasi di Kepulauan Aru, Maluku.

Dalam kasus tersebut, 4 orang telah dinyatakan sebagai tersangka. Kepala bidang Humas Polda Maluku, Ajun Komisaris Besar Hasanudin Mukadar di Ambon, Senin (11/5/2015) mengatakan, salah satu tersangka adalah Direktur PT PBR Hermanwir Martino.
Adapun tiga tersangka lain adalah Hatsaphon Phaetjakreng dan Boonsom Jaika, warga Negara Thailand, dan Muclis staf Quality Control PT PBR.

Waktu itu, kematian Kepala Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dobo, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Yosef Sairlela, diduga ada keterkaitan erat dengan kasus perbudakan anak buah kapal (ABK) asing di Benjina, Kepulauan Aru, yang menjadi sorotan dunia.

"Beliau itu kemungkinan dibunuh karena mengetahui banyak hal tentang kasus Benjina. Korban itu banyak mengetahui rahasia PT Pusaka Benjina Resources (PBR) selama ini," kata sumber Kompas.com di Tual saat dihubungi dari Ambon, Senin (20/4/2015) malam.

Susi mengatakan, Yosef Sairlela, pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merupakan saksi kunci perbudakan anak buah kapal (ABK) asing di Benjina, Kepulauan Aru. Yosef ditemukan tewas di sebuah hotel di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (18/4/2015) lalu.

"Saudara Oce (Yosef) adalah saksi penting dalam kasus Benjina," kata Susi seusai menghadiri seminar Gerakan Nasional Sumber Daya Alam Indonesia Sektor Kelautan, di Balai Kota, Selasa (21/4/2015).

Susi resah Pemberitaan Kompas.com tanggal 8 April 2015, terbongkarnya kasus perbudakan oleh PT Pusaka Benjina Resources (PBR) membuat Susi yang waktu itu menjabat jadi menteri kian risau.

Susi jadi memikirkan nasib warga negara Indonesia (WNI) korban perbudakaan di kapal-kapal asing. Jika modus operandi yang digunakan oleh para pelaku perbudakan sama seperti yang dilakukan oleh PBR, kemungkinan orang-orang Indonesia dijual dengan paksaan dan penipuan.

Bisa jadi mereka direkrut dan dijanjikan bekerja di Bangkok. Ternyata, mereka dinaikkan ke atas kapal. Modus lain, yakni perdagangan manusia di bawah umur 16 tahun

“Persoalan sekarang ini yang kita semua harus khawatirkan, berapa banyak sebetulnya ABK Indonesia di kapal ikan di seluruh dunia. Bagaimana kita cari tahu, dari mana kita tahu?” ucap Susi, Jakarta, Rabu (8/4/2015).

Artikel Terkait
Susi Pudjiastuti Minta Netizen Stop Saling Membully dan Menghujat soal Perbedaan
Pengamat: Rizal Ramli dan Susi Pudjiastuti Berpeluang Maju pada Pilpres 2024, Mereka Punya Program Bangun RI
Survey Reshuffle Kabinet, Susi Pudjiastuti Paling Dijagokan Netizen
Artikel Terkini
Khotbah Idul Fitri, Anggota Kompolnas Ajak Jamaah Sholat Ied Taat Prokes
Kenaikan Yesus Harus Dimaknai dengan Menjalankan Misi Cinta Kasih
Terapkan Prokes Covid-19, Karyawan PNM Kantor Pusat Safari Ramadhan ke Seluruh Pelosok Negeri
Karyawan PNM Kantor Pusat Lakukan Safari Ramadhan hingga ke Daerah 3T
Presiden Jokowi dan Iriana Silaturahmi dengan Wapres dan Ibu Secara Daring
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas