indonews

indonews.id

Tangan Dingin Mas Juned, Jadikan Ponggok Desa Terbaik se-Indonesia

Tangan Dingin Mas Juned, Jadikan Ponggok Desa Terbaik se-Indonesia

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
zoom-in Tangan Dingin Mas Juned, Jadikan Ponggok Desa Terbaik se-Indonesia
Menteri Keuangan Sri Mulyani berselfie bersama Kepala Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, Junaedi Mulyono (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Dari 80.000 desa yang ada di Indonesia,

Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Desa Ponggok menjadi juara satu terbaik se-Indonesia.

Padahal sebelum tahun 2006, Ponggok masih masuk desa tertinggal dan miskin. Tengkulak dan rentenir berkeliaran, anak muda hijrah ke kota-kota besar dan yang sisa hanya orang-orang lanjut usia.

Namun, dalam sekejap, desa ini berubah. Semua berkat keberanian, inovasi dan kerja keras Kepala Desa Ponggok, Junaedi Mulyono. Is berhasil membuat desa yang awalnya terkenal miskin itu menjadi populer.

Bahkan bisa dibilang salah satu desa terkaya di Indonesia dengan pendapatan desa sebesar Rp16 miliar setahun, yang diperoleh dari sumber pendapatan sejumlah obyek wisata, terutama wisata Umbul Ponggoknya yang belakangan ini semakin dikenal di kalangan wisatawan.

Tahun 2006, waktu Pilkades mas Juned alias pak Junaedi tepilih jadi Kades. Dia bersumpah akan total mengurus desa kampung halamannya, dia tahu potensi desanya yang kelimpahan air jernih. Tapi bingung mau mulai dari mana?

Beliau teringat LPPM UGM, maka langsung beliau Surati agar mengirim mahasiswa KKN tematik. UGM langsung menjawab. Tak tanggung-tanggung mau kirim mahasiswa KKN tiga gelombang.

Gelombang pertama khusus mendata kemiskinan dan pengangguran. Gelombang kedua mencatat potensi desa, gelombang ketiga baru memetakan pemberdayaan ekonomi.

Setelah pak Juned mempunyai data base yang lengkap, dia lun paham harus mulai melangkah dari mana.
Potensi air jernih yang melimpah yang sejak jaman kerajaan jadi tempat pemandian putri-putri raja disulap jadi pemandian berkelas.

Ponggok harus jadi ikon wisata air terbaik. Semantara perikanan dan pertanian jadi sarana pendukung wisata. Parkiran untuk menampung kendaraan dirapihkan, rumah makan sarana belanja oleh oleh ditata.

Benar saja, wisatawan datang berduyun-duyun. Awalnya cuma Klaten, kemudian melebar sampai Jateng dan Jogja. Setelah ibu Sri Mulyani menteri keuangan terbaik datang dan berapa menteri berkunjung pingin Selvie dengan pak kades, kini tamu dari Jakarta dan Singapura pun ikut-ikutan nongol.

Efeknya, Ponggok berkelimpahan rejeki. Pada 2017 saja, kas yang masuk dari pengunjung bahkan mencapai total Rp12 milyar lebih. Makanya semua orang tua-tua uzur dan anak sekolah dapat subsidi dan beasiswa dari desa.

Tak main-main, Pak kades mewajibkan satu rumah harus ada satu sarjana. Soal biaya kuliah, desa yang tanggung.

Di Ponggok hari ini, tak ada lagi yang menganggur, pertanian dan perikanan hidup, bahkan toko serba ada yang mirip Alfa mart itu milik desa sendiri bernama Ponggok mart. Cuma hari ini, desa Ponggok sama seperti tempat wisata yang lain sepi pengunjung akibat pandemi covid-19.

Ponggok tetap hidup di tengah masa pandemi covid-19 karena masih disubtitusi dari hasil pertanian dan perikanan.

Lebih baik menjaga kesehatan penduduk dengan mengerem kedatangan pengunjung daripada berlimpah pendapatan tapi mengorbankan banyak jiwa.Tabikk pak Juned alias* (Zaenal Brigga)

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas