indonews

indonews.id

Ketua Presidium Pusat: ISKA Harus Hadir Beri Kesejukan dan Kejernihan Berpikir untuk Bangsa dan Negara

 ISKA harus hadir nyata untuk memberikan kesejukan dan kejernihan berpikir untuk kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar.

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Ketua Presidium Pusat: ISKA Harus Hadir Beri Kesejukan dan Kejernihan Berpikir untuk Bangsa dan Negara
Ketua Presidium Pusat ISKA, Hargo Mandirahardjo. (Foto: Indonews.id)

 

Jakarta, INDONEWS.ID -- Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) merayakan puncak dies natalis ke-63 pada Sabtu, (29/5). ISKA sebenarnya merayakan hari ulang tahun kelahiran pada tanggal 22 Mei.

Ketua Presidium Pengurus Pusat ISKA V. Hargo Mandirahardjo mengatakan perjalanan panjang penuh dinamika mewarnai organisasi yang awalnya bernama Ikatan Katolik Sarjana ini. Ibarat usia manusia, 63 tahun adalah simbol kematangan dan kebijaksanaan. Kaya pengalaman dan mampu melewati berbagai tantangan dalam dinamika berbangsa. Pasang surut ISKA turut menyumbang kondisi aktual bernegara sejak tahun 1958.

Tiga orde pemerintahan, baik Orde Lama, Baru dan Reformasi tahun 1998, katanya, telah dilalui ISKA. Era globalisasi diawal tahun 2000 dan era milenial, bahkan disaat sekarang ini ketika kita menghadapi situasi pandemi yang memasuki tahun ke-2, siap tidak siap, suka tidak suka harus dihadapi dengan berbagai kondisi dan dinamikanya.  

“ISKA terus berkarya melayani Gereja, Bangsa dan Negara. Dengan keteguhan hati terus Merawat Komitmen Kebangsaan, bergerak bersama seluruh komponen anak bangsa memantapkan solidaritas di tengah Pandemi,” ujarnya dalam pidato sambutan dari Kapela Santa Ursula, Jakarta, yang disiarkan secara daring, Sabtu (29/5).

Acara dies natalis itu sebelumnya dirayakan dalam perayaan ekaristi, yang dipimpin oleh Sekretaris Komisi Kerawam RD. Paulus Christian Siswantoko bersama Romo Gandhi Hartono, SJ, Sekretaris Komisi Pendidikan KWI, dan Romo Guido SJ, Pengajar STF Driyarkara Jakarta.

Hadir juga Ketua Dewan Kehormatan PP ISKA Ignasius Jonan, Ketua Dewan Pakar PP ISKA Adrianus Asia Sidot, Anggota Dewan Penasehat PP ISKA, pera ketua DPP, Ketua DPD dan Ketua DPC ISKA seluruh Indonesia, dan para tamu undangan.

Hargo mengatakan, situasi pandemi ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan kembali nilai-nilai kemanusiaan sebagai satu bangsa dengan menebarkan kembali semangat bersolidaritas dan bergotong royong. Membangun sikap rasa optimisme dan kebersamaan untuk bergerak bergandengan tangan, bersatu padu untuk terwujudnya Indonesia maju sebagaimana yang kita cita-citakan bersama.

“Situasi dan kondisi ini harus diadaptasi sedemikian rupa dengan modal dasar yang kuat sebagai sebuah bangsa yaitu ke-Bhinekaan, kegotong-royongan dan solidaritas kita akan mampu melampaui situasi krisis pandemi Covid-19 ini,” ujarnya dalam acara dies natalis yang mengambil tema besar “Spirit Merawat Komitmen Kebangsaan” ini.

Sebagai rumah bersama bagi sarjana dan cendekiawan Katolik, ISKA, senantiasa memegang teguh rasa kebangsaan dan ke-Indonesiaan. Spirit intelektual dan iman Katolik menjadi perutusan ISKA dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan senantiasa merawat komitmen kebangsaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Hargo, pekerjaan berat menghadang ISKA ketika dialektika kebangsaan diwarnai dengan polemik yang menyentuh akar agama dan kebhinekaan sebagai bangsa. Isu agama, intoleransi, konflik kepentingan menjadi menu utama setiap hari.

“Semangat jiwa dan roh sebagai bangsa yang besar mendapat ujian yang tidak ringan. ISKA harus hadir nyata untuk memberikan kesejukan dan kejernihan berpikir untuk kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar,” katanya.

ISKA, kata Hargo, bersama organisasi kemasyarakatan lainnya yang sama-sama berjiwa nasionalis terus menerus berupaya menjaga, merawat komitmen kebangsaan, berdasarkan 4 pilar bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika dalam setiap kiprahnya. Karena itu dalam setiap rekam jejak ISKA, seluruh pengabdian dan perjuangannya sangat kental dengan nilai-nilai kebangsaan.

 

Berbagi Peduli dan Memberi Lilin Kecil

Hargo juga mengatakan, berkenaan dengan situasi pandemi Covid-19, ISKA ikut peduli, bersolidaritas dan bergotong-royong dengan sesama komponen dan Ormas Katolik melalui Jaringa Katolik Melawan Covid (JKMC) untuk bersama-sama bergerak membantu mendistribusikan APD ke beberapa Rumah Sakit/Klinik Katolik diberbagai wilayah di Indonesia.

ISKA juga mendistribusikan bantuan sosial paket sembako kepada masyarakat yang terdampak termasuk ikut dalam gerakan kemandirian pangan bekerjasama dengan JKMC, Yayasan Bina Swadaya dan Trubus. Bersama dengan JKMC, ISKA juga memfasilitasi Vaksin bagi lansia dan para relawan. Hal ini sejalan dengan tema dies natalis ke-63 tahun ini “Solidaritas ditengah Pandemi”.

Semangat dan gerakan ISKA ini, kata Hargo, juga sejalan dengan Ensiklik Fratelli Tuti yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus tahun 2020 di Roma, yaitu harapan akan kesadaran seluruh umat untuk lebih menghargai persaudaraan universal sebagai sesama manusia dan mahluk ciptaan Allah, terutama di tengah-tengah dunia yang sedang diselimuti ‘awan gelap’ bencana pandemi Covid-19.

Bangsa ini, kata Hargo, lahir dari perjuangan maha berat melawan penjajah. Kita semua punya cita-cita bersama bahwa tenun kebangsaan yang telah dirajut oleh para the Founding Fathers tidak boleh lepas atau putus oleh keadaan apa pun. 

Semangat ini pula yang mendorong ISKA mempersembahkan sebuah buku di momen Hut ISKA ke-63 tahun dan menyambut Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni yaitu buku “Merawat Kebangsaan Berbasis Kearifan Lokal”, dalam rangka mempromosikan semangat ke bangsaan.

Buku ini lahir dari FGD dan kajian  terpumpun yang dilakukan di 10 wilayah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ISKA pada tahun 2018 silam yang mengambil tema “Merawat Kebangsaan berbasis kearifan lokal.” Tujuan utamanya adalah untuk menghimpun dan menyerap berbagai pengalaman dan pengetahuan serta pemikiran di tingkat basis tentang nilai-nilai adiluhung yang tersimpan dalam lumbung-lumbung kebudayaan bangsa Indonesia.

“Nilai-nilai kearifan lokal yang pernah dan masih hidup di tengah-tengah masyarakat basis yang berasal dari beragam budaya, suku, agama dan golongan, tetapi secara spirit dan rohani merupakan satu kesatuan dan mempunyai tujuan yang sama, sebab nilai-nilai itulah yang kemudian oleh Sukarno dipintal, ditenun dan dirajut menjadi falsafah bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Pancasila sebenarnya adalah karakteristik dan kearifan nilai-nilai hidup yang luhur di dalam diri kita masing-masing,” kata Hargo.

Para pendiri telah menyepakati Pancasila dan UUD 45 sebagai konstitusi negara. Oleh karena itu kita semua sebagai warga bangsa patut menjaga dan merawat ke-Bhinekaan yang merupakan wujud bangsa Indonesia. Keberagaman ini, harus dirawat dan dijaga di tengah-tengah menguatnya politik identitas saat ini.

“Oleh karena itu, solusi yang dapat diambil adalah menghidupkan kembali dan merawat nilai-nilai kearifan lokal, karena Negara Indonesia dapat terbentuk dan bahkan tetap eksis hingga saat ini karena komitmen akan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar negara, flosofi hidup dan bahkan sumber dari segala sumber hukum yang ada di negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Sumbangsih pemikiran dalam bentuk buku ISKA ini diharapkan menjadi pemicu bagi setiap orang maupun komunitas serta organisasi kemasyarakatan lainnya di Indonesia untuk secara bersama-sama dapat terus-menerus dengan penuh semangat pengabdian menyemai benih-benih persaudaraan, cinta tanah air dan semangat kebangsaan, terutama bagi para generasi muda. 

“Melalui pemikiran dan pandangan yang disiapkan dari berbagai kearifan lokal lintas agama, kepercayaan, lintas budaya dan adat istiadat, ISKA ingin memberikan lilin kecil sebagai cahaya pemandu ditengah samar samarnya kita menyikapi isu isu intoleransi, radikalisme dan isu agama yg makin banyak diletupkan banyak kelompok,” ujarnya.

Buku “Merawat Kebangsaan Berbasis Kearifan Lokal” ini diterbitkan oleh ISKA Press (penerbit Buku ISKA) dan merupakan buku terbitan yann ke-4. ISKA Press adalah penerbit yang difasilitasi oleh ISKA untuk menerbitkan buku-buku hasil dari tulisan/kajian/FGD dari intern ISKA maupun eksternal ISKA.

“Secara khusus pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada 10 DPD dan DPC yang telah memberikan hasil kajian (FGD), para penulis dan kontributor dalam buku ini, dan tim buku yang telah bekerja keras menerbitkan buku ini, yaitu Sdr. Alexander Mering sebagai Editor, Sdr. Ferlansius Pangalila dan Sdr. Eko Sugiyanto sebagai Kompilator serta Tim Layout Sdr. Yulius Purnomo,” ujarnya.

Hargo terus meminta insan ISKA untuk terus merawat komitmen kebangsaan seraya menebarkan semangat solidaritas tanpa sekat demi persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Very)

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas