indonews

indonews.id

BELANDA "HUP, HOLLAND, HUP!"

BELANDA

"HUP, HOLLAND, HUP!"

Reporter: luska
Redaktur: very

Penulis : Reinhard R Tawas

Pangeran Siahaan di twitternya mengungkapkan terkaget-kaget melihat lambang KNVB dimana-mana (di Ambon tahun 2009). KNVB (Koninjklijke Nederlandse Voetbalbond) adalah PSSInya Belanda). Mungkin Pange sempat mendengar juga lagu "Hup, Holland, Hup, lagu sepakbola yang dinyanyikan fans ketika Tim Oranye bertanding. Tidak terkecuali pada final Piala Dunia 2010 di Afrika ketika tim yang punya fan base cukup banyak di Indonesia ini berhadapan dengan Spanyol di stadion FNB Johannesburg, Afrika Selatan. Ada dua hal yang unik atau mungkin juga aneh sebelum pertandingan ketika kedua tim mendengarkan lagu kebangsaan mereka diperdengarkan. Pemain-pemain Spanyol terlihat diam saja ketika La Marcha Real dimainkan. Fans yang tidak mengerti mencap mereka tidak nasionalis. Tentu saja Andrés Iniesta dan teman-teman mingkem. La Marcha Real memang tanpa lirik. Ketika Wilhelmus, lagu kebangsaan Belanda diperdengarkan hampir semua pemain Belanda bernyanyi dengan menyuarakan liriknya. Dan ada satu baris lagu ini yang justru memuja raja Spanyol! Ya, betul raja Spanyol Felipe II (tahun era ketika lagu itu dibuat). "...den Koning van Hispanje heb ik altijd geëerd..." (Untuk Raja Spanyol kupersembahkan kesetiaan seumur hidup). Spanyol menjajah Belanda dari abad 16 hingga 18. Raja yang mendapatkan kesetiaan seumur hidup Belanda itu adalah Felipe II (1527 - 1598) masa ketika lagu Wilhelmus diciptakan. Ketika Felipe II berkuasa, gubernur yang ditempatkan di Belanda adalah Fernando Álvarez de Toledo. Dalam perang pembebasan ia mengeksekusi ribuan penduduk yang dianggap memberontak. Belanda punya waktu ratusan tahun untuk merevisi lirik lagu kebangsaannya, tapi tahun 1932 malah diresmikan. Mungkin sebagai kenang-kenangan saja. Pada masa itu Raja masih banyak yang menganggap perwakilan Tuhan. Jadi kekejaman Spanyol ketika itu ditimpakan kepada Fernando Álvarez de Toledo.
Euro 2020 memasuki babak gugur. Belanda lolos dengan gemilang dan ini menggembirakan fans KNVB dimana saja termasuk di Indonesia yang cukup banyak. Bagaimana ceritanya sehingga fans tim sepakbola Belanda begitu banyak di Indonesia. Belanda mulai menjajah Nusantara sejak 3,5 abad yang lalu. Tidak semua Nusantara, tapi hanya Batavia. Yang kemudian diikuti wilayah-wilayah lain di Nusantara secara bertahap dan ratusan tahun. Jadi tidak tepat menyatakan Indonesia dijajah Belanda 350 tahun. Bali masih merdeka hingga akhir abad 19. Aceh sampai sebelum PD II. Jadi kedekatan ini karena faktor budaya,dan budaya tidak salah.yang salah penjajahan. Kita tahu budaya Belanda berupa bahasa banyak dipakai dari kalangan atas dengan fasih sampai kalangan bawah dengan sekedarnya, sebut saja kondektur bis kota. "Langzaam, langzaam!", katanya kepada supir yang mengejar setoran supaya pelan-pelan ada penumpang mau naik. Atau "verboden" katanya kepada supir ketika melihat tanda lalulintas bundar merah dengan garis melintang. Tuan nyonya di  gedongan - meminjam istilah Benjamin Suaeb dari lagu Nonton Bioskop - di akhir pekan bilang "naar boven" atau lengkapnya "We gaan naar boven" (kami pergi ke atas, maksudnya Puncak).

Kesukaan akan tim Oranye di sini dimulai ketika Ajax Amsterdam tampil di final Liga Juara Eropa (UEFA Champions League) yang  ketika itu disebut Piala Eropa 1971 melawan Panathinaikos Yunani yang dimenangkan oleh Ajax 2-0. Selanjutnya Ajax mempertahankannya 1972 dan 73. Prestasi Ajax ini membawa dampak luar biasa  ke sepakbola Belanda secara keseluruhan yang kulminasinya adalah mereka merajalela pada pada Piala Dunia 1974 dengan mengalahkan antara lain Argentina 4-0, juara bertahan Brazil 2-0 sehingga Carlos Alberto, kapten Tim Brazil di Piala Dunia 1970 memuja "...Satu-satunya tim yang melakukan sesuatu yang berbeda adalah Belanda, yang lain biasa saja...". Di final Belanda yang bermain menggairahkan kalah mujur dari Jerman Barat 2-1. Yang mengingatkan kita pada komentar klasik Gary Lineker "Sepakbola adalah permainan sederhana. 22 orang mengejar bola selama 90 menit dan akhirnya Jerman selalu menang"

Dominasi Belanda berlanjut hingga Piala Dunia 1978 tapi lagi-lagi kalah di Final dari tuan rumah Argentina. Johan Cruyff setelah mengantar Tim Oranye lolos ke Argentina memutuskan tidak ikut. Johan Cruyff tidak rela memberikan PR (public relations) gratis kepada diktator Argentina Jenderal Jorge Rafael Videla yang mengudeta Presiden Isabel Peron tahun 1976. Sikap Cruyff ini disokong pendukung hak azazi manusia. Terbukti kemudian pada masa Jendral Videla ini terjadi perang kotor yang menyebabkan 30 ribu orang terbunuh dan hilang. Sebenarnya ada satu alasan yang lebih pribadi tapi lebih kuat bagi Johan Cruyff untuk mundur dari Tim Oranye seperti yang diungkapkannya pada koran Inggirs Guardian tahun 2008. Ia dan keluarganya hampir menjadi korban penculikan dengan todongan senjata di rumahnya di Barcelona beberapa bulan sebelum Piala Dunia 1978. Boleh jadi Jenderal Videla berada dibalik peristiwa itu supaya Tim Argentina melaju mulus.
Di babak 16 Euro 2020 Tim Oranye akan bertemu Ceko dan jika menang akan bertemu Wales atau Denmark. Satu-satu dulu. Meskipun bermain impresif di babak grup, Belanda sebenarnya mengalahkan tim-tim yang di atas kertas memang seharusnya begitu: Austria, Ukraina dan Macedonia Utara. Sementra Ceko lolos dari peringkat ke-3 di grup D. Melawan Ceko Belanda harus berkaca pada kenyataan bahwa dua pertandingan di babak kwalifikasi menuju Euro 2016,  Belanda kalah dari Ceko dua kali 2-1 dan  3-2.  

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas