indonews

indonews.id

IT dan Kesiapan Membangun Calon Ibukota

Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI menjalin kerjasama dan menjadi anggota dari International Institute of Administration Sciences (IIAS).

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
zoom-in IT dan Kesiapan Membangun Calon Ibukota
LAN RI Beberkan Kesiapan IT dalam Membangun Calon Ibukota negara baru (Foto: Prof Nurliah Nurdin)

Jakarta, INDONEWS.ID - Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI menjalin kerjasama dan menjadi anggota dari International Institute of Administration Sciences (IIAS).

Tahun ini, IASIA (International Association of School and Administration)-IIAS Conference diadakan di Bela-Bela Afrika Selatan dengan tema Public Administration & Industry 4.0/4IR.

Konferensi berlangsung 5 hari dari tanggal 26 sampai 30 Juli 2021. Konferensi diikuti oleh 275 peserta dari berbagai negara di dunia, dengan membuka 21 tema Call for paper. Konferensi diselenggarakan 75 sesi, 6 pleno, 9 panel, 2 workshop dan 14 trek paralel.

Rencananya, konferensi akan diselenggarakan secara hybrid, tetapi karena kondisi pandemic yang semakin parah konferensi dilaksanakan full secara daring (online).

Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, MA bersama tim yang terdiri dari Kepala LAN RI, Dr. Adi Suryanto, M.Si, Wadir 3 Bidang Kemahasiswaan Politeknik STIA LAN Jakarta Dr. Edy Sutrisno, M.Si, serta Dosen Politeknik STIA LAN Jakarta Izzul Fatchu Reza, MPA menjadi partisipan dalam konferensi IASIA-IIAS 2021.

Dalam sesi khusus tentang penggunaan IT dalam Revolusi 4.0, panelis dan peserta menggambarkan perkembangan IT di berbagai negara. Riset Prof. Dr. Nurliah Nurdin dan tim berjudul Information Technology: How villages adapt to be developed in Planned Capital of Indonesia.

Paparan disampaikan di sesi WGXI: Public Administration in the Fourth Industrial Revolution pada Hari Senin tanggal 26 Juli session 3 jam 2 pm-3.30 pm waktu afrika/ 7 pm-8.30 pm WIB.

Dalam penelitiannya, Prof. Nurliah membahas mengenai kesiapan Penajam Paser Utara (PPU) untuk menjadi Ibukota Negara ditinjau dari penerapan teknologi informasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode campuran (Mix Method).

Dalam hasil penelitian, dijelaskan bahwa penerapan teknologi informasi di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur sebagai prasyarat yang harus ada pada calon ibukota negara baru masih memerlukan banyak usaha.

Pelayanan di desa-desa masih menggunakan sistem manual dan kendala jaringan masih sering terjadi. Dari 79 responden hanya 3,8% yang berpendapat TI telah meningkatkan pelayanan publik di PPU dan 92% berpendapat bahwa pelayanan digital tidak berjalan dengan baik.

Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak pekerjaan rumah terkait pengembangan TI perlu diterapkan secara optimal dalam pelayanan publik di PPU.

Hasil wawancara dengan Helena, Kepala Suku Dayak, mengakui bahwa dari 30 desa yang ada di PPU menerapan TI di masih sangat kurang, TI hanya digunakan untuk laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban dana desa.

Selain itu, Helena menyampaikan kekhawatirannya terhadap masyarakat setempat. Tidak hanya permasalahan terkait TI, suara masyarakat lokal juga penting untuk diperhatikan dalam menjadikan PPU sebagai ibukota.

Hal ini diaminkan oleh dewan desa yang juga menyatakan dibutuhkan pembenahan besar untuk menjadikan PPU sebagai ibukota, tidak hanya segi infrastuktur tetapi juga segi sumber daya manusia.

Menutup paparannya, Prof. Nurliah menjelaskan bahwa IT sudah menjadi bagian dari pengembangan masyarakat di dunia, digital information telah digunakan pemerintah daerah untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya.

Pengembangan IT ini perlu menjadi prioritas untuk membangun masyarakat terutama dalam melihat potensi wilayahnya untuk dibangun.

Sebagai calon ibukota, kesiapan ini masih membutuhkan banyak persiapan. Terlebih lagi dimasa pandemik seperti saat ini konsentrasi pemerintah harus difokuskan pada penanggulangan pandemic covid-19.

Selain itu, menjadi Ibukota negara memiliki peran yang kompleks, tidak hanya mengurus daerahnya saja, tetapi mengurus 34 provinsi, 540 kabupaten, dan sekitar 270 juta penduduk.

Bahkan secara internasional, ibukota negara juga harus mendukung 99 negara dan menjalin Kerjasama sebagai kantor kedutaan. Aplikasi IT adalah suatu keharusan dan perlu dikembangkan secara kuat yang dimulai di desa-desa.

Sebagaimana negara lain membangun setiap sudut desa dan kota melalui pengembangan teknologi IT, tidak hanya untuk memberikan informasi cepat tetapi sangat penting untuk membangun income pendapatan masyarakat melalui penggunaan aplikasi online market sehingga akses masyarakat untuk memasarkan produknya lebih terbuka.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas