indonews

indonews.id

Cinta Dua Zaman: Resensi Serial TV Outlander

Perempuan itu, Claire Randall nyaris sempurna. Tubuhnya tinggi langsing, leher jenjang dengan wajah yang bersemangat. Ia juga kukuh dalam pendirian. Claire, wanita Inggris adalah bekas perawat saat Perang Dunia Kedua yang kemudian lulus sebagai dokter bedah di AS.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very

Oleh Bunga Kejora

Jakarta, INDONEWS.ID - Perempuan itu, Claire Randall nyaris sempurna. Tubuhnya tinggi langsing, leher jenjang dengan wajah yang bersemangat. Ia juga kukuh dalam pendirian. Claire, wanita Inggris adalah bekas perawat saat Perang Dunia Kedua yang kemudian lulus sebagai dokter bedah di AS.

Tanpa disangka, dalam sekedip mata, saat berbulan madu bersama suaminya Frank di Skotlandia, tahun 1945, Claire "terjatuh" ke jaman yang jauh berbeda, abad 18 atau 200 tahun mundur dari kehidupannya saat itu.

Ia tiba-tiba ada di belantara hutan wilayah Iverness, Skotlandia, di bawah penguasaan  kerajaan Inggris yang berpemandangan indah dengan air sungai yang jernih. Namun itu masa-masa masih berlakunya hukum rimba, ketika pedang, pistol kuno, uang koin dan kesewenangan kerajaan  menentukan kemenangan.

Perpindahan jaman itu terjadi saat Claire tanpa sengaja, menyentuh batu  menhir Craigh na Dun, yang dipercaya secara turun temurun dapat membawa orang ke dimensi waktu yg lain.

Begitulah setting cerita serial televisi Outlander yang penuh konflik dengan kendali kisah cinta Claire (diperankan oleh Caitriona Belfa).

Dalam petualangan di kehidupan barunya, Claire terpikat pada Jamie Fraser (Sam Heughan)  pejuang keadilan  dari klan MacKenzie. Ia jago berkelahi dan diandalkan dalam berbagai pemberontakan melawan tentara kerajaan. Wajahnya tampan dengan rahang yang kuat. Tubuh kekarnya sering dililit kain kotak2 khas Skotlandia. Claire dan Jamie  kemudian menikah.

Jamie, suami kedua Claire, benar-benar seorang pelindung di dunia barunya. Ia jago bertarung dan partner yang menyenangkan di ranjang.

Claire terjebak dalam dua pilihan. Haruskah ia  berupaya mencari batu Na Dun untuk kembali ke hidupnya yg stabil? Frank, suami pertamanya, yang tak punya jawaban ke mana hilangnya sang istri, terkenal sebagai sejarawan  berwibawa. Ia bekerja di universitas ternama Harvard di Boston.

Tapi waktu terus bergulir, melibatkan Claire dalam  kawanan pemberontak Skotlandia yang berbicara dialek gaelik dan membawanya ke pedalaman Inggris, berlayar ke Perancis sampai ke hutan di bagian utara Amerika. Kehadiran Claire menjadi penting karena langkanya dokter dan perawat untuk masa yang penuh darah dan wabah tanpa obat2an farmasi modern.

Sungguh pandai penulis cerita Diana Gabaldon  menemukan alasan agar tokoh dalam ceritanya bisa menjadi penting dan hadir dalam berbagai situasi dan strata sosial dengan wibawa. Padahal dimasa itu, perempuan dipandang sebelah mata.

Yang menarik, tayangan kanal digital Netflix ini berasal dari cerita yg ditulis oleh novelis Diana Gabaldon seorang professor matematika bidang ilmu komputasi. Diana tidak menulis cerita fiksi dengan tangan kosong.

Guru besar cantik dari Universitas Arizona ini menggali akurasi sejarah dan ilmu medis untuk meningkatkan kualitas novelnya.

Ia menggambarkan situasi otoritarian di wilayah Inggris saat itu, ketika kerajaan memiliki tangan-tangan Lord, dengan seragam merah dan sepatu boot sebagai agen penindas, pemeras pajak rakyat dan pemerkosa yang menakutkan.

Secara serius pekerja industri film menghidupkan tulisan itu sebagai sebuah jaman dengan kastil2 tua, di tengah panorama indah pegunungan Skotlandia ( highland). Peralatan makan, kereta kuda, barang cetakan, sampai gaun panjang wanita disesuaikan dengan abad 18. Termasuk obat herbal, peralatan dan perawatan medis yang amat sederhana.

Sosok Claire yang datang dari jaman yang lebih beradab, membuat kisah Outlander ini unik.Ia muncul sebagai istri yang suka berbicara apa adanya. Termasuk membocorkan pada Jamie berbagai fakta sejarah yang telah lewat untuk diantisipasi.

Bagaimana kau tau? " Ya karena aku berasal dari masa depan," ujar Claire.

Karenanya, malam sebelum pecah pertempuran besar di desa  Culloden, tahun 1746 untuk merebut tahta kerajaan, Jamie mendesak Claire untuk kembali ke rumahnya di masa depan.

Tak lain karena  Claire memberitau bahwa dalam Perang Culloden, pihak pemerintah kerajaan Inggris yang menang, dan  ribuan pemberontak Jacobite dan warga highlander ( orang gunung) tewas. Jamie kuatir anak yang tengah dikandung Claire hidup tanpa ayah.

Namun, penulis tetap menyambung kehidupan Claire di dua dimensi waktu ini dengan khayalan tak terduga.

Yaitu kenyataan bahwa suami pertamanya, di abad 20, Frank Randall adalah keturunan Jonathan ( Black Jack) Randall, si bengis yang menjadi musuh utama Claire dan Jamie. Wajahnya pun dibuat hampir serupa ( dimainkan oleh aktor yg sama Tobias Menzies)

Jack, perwira Inggris yang tak punya hati adalah komandan garnisun yang berkali-kali melecehkan tubuh Claire. Dia juga yang pernah mencambuk Jamie tanpa ampun, mematahkan jarinya dan berhasil memperkosa Jamie, sesama lelaki.

Siksaan Jack sempat membuat Jamie enggan melanjutkan hidup. Karena teringat pada kekejaman Jack Randall, Claire cukup lama menolak hubungan badan dengan suami pertamanya. Boleh jadi, itulah yang disebut buah dosa 7 turunan.

Cerita belum berakhir di situ.

Outlander meraup jutaan penonton dan memasuki season 6, awal Maret lalu. Tayangan berseri ini, memenangkan berbagai penghargaan,antara lain People`s Choice Award di AS.

Penulis Diana Gabaldon menyatakan seri kesepuluh novelnya, yang mulai ia tulis Desember lalu, merupakan  penutup kisah Outlander.

Begitulah.Tiada cerita fiksi tanpa kemustahilan. Tidak ada wanita tanpa misteri.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas