Ombudsman, I Love you
Ombudsman, I ❤ you
Reporter: luska
Redaktur: very
Oleh : M.Nazari
Tahniah, aku ada cerita.
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut seleksi calon kepala perwakilan ombudsman.
Aku coba saja pikirku, beberapa teman mendorong ku untuk ikut kontes open bidding. Ada yang bilang aku cocok dengan missi lembaga ombudsman.
Batinku belum bisa fokus dan serius. Semua rasa bercampur seperti es campur.
Aku buka japri watshap postingan seorang teman tentang pengumuman seleksi calon kaper Ombudsman yang memuat konten persyaratan administrasi yang perlu dipersiapkan.
Beriring waktu berjalan, satu persatu persyaratan aku siapkan, tidak peduli hujan dan panas.
Dengan mengendarai roda dua motor bututku. Serius, diusia kepala lima sudah agak kurang nyaman naik kenderaan roda dua kemana-mana, ribet pakai helm membuat kulit kepala sedikit meriang, belum lagi berkas administrasi harus dimasukkan dalam baju setelah dimasukkan dalam map, persis mengenang era 80an dan 90an. Udik. Semangat 45 pun terpicu. Tidak mudah, harus kuat mental dan butuh perjuangan.
Hari itu, aku tiba di simpang BPKP mau menuju ke Rumah Sakit Jiwa untuk mengurus suket waras sekalipun aku tidak sakit jiwa, karena itu syarat terpenuhi.
Tetiba punggung motorku diserempet oleh mobil L300 yang disopiri oleh seorang bapak lebih tua usianya dari aku, mobil penumpang tersebut baru tiba dari medan. Cobaan apalagi pikirku. Aku agak sedikit sebel karena justru aku yang disalahkan, untung saja emosiku terkendali, aku hanya bisa senyum.
Dini hari aku bersimpuh diatas sajadah, aku curhat tentang nasibku kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menguasai seluruh kekuasaan di langit dan di bumi. Untuk menguatkan batin ku yang sedang galau. Lanjut apa tidak!. Masih tersisa mentalku seperti 21 tahun yang lalu, ketika aku bertugas di daerah basis konflik Aceh sebagai Aswed singkatan asisten wedana pada masa belanda dan awal kemerdekaan, kalau sekarang disebut Camat.
Kecamatan yang katagori penguasa darurat militer adalah hitam, kalau menurut aku bukan hitam biasa apalagi hitam manis, akan tetapi hitam pekat seperti warna kopi gayo, dimana tugas ku hampir saban hari memilih dan evakuasi mayat korban kontak senjata atau kontak tembak, malah malam pertama aku bertugas sempat tidur satu gedung dengan mayat korban kontak tembak di Puskesmas Bakongan ketika itu, karena malam itu aku menumpang tidur di Puskesmas karena baru tiba magribnya. Sebagai Camat baru di kecamatan baru pemekaran Bakongan Timur ketika itu bisa dibayangkan. Ketika direviu kembali perjalanan tugas ku, aku tidak kuat menahan air mata, terharu, ternyata semua telah ku lewati, tertahan sesak untuk melanjutkan cerita tugas yang sudah berlalu dalam menyelamatkan masyarakat dan mempertahankan Merah Putih. Dan aku Camat sebagai ujung tombak bisa saja sewaktu-waktu kena tembak dengan situasi seperti itu namun tidak pernah menuntut penghargaan dalam mempertahankan merah putih. Maka itu sebabnya kenapa air mata ku turun rintik-rintik ketika diwawancara oleh tim psycologi dari LPT-UI dalam sesi tes Profile Assessment secara online ketika itu, dan juga ketika Bapak waka ombudsman menanyakan tugas-tugas yang pernah aku jalani dalam wawancara terakhir beberapa waktu yang lalu.
Wajah-wajah ketakutan menghiasi pandangan ku saban hari ketika itu, harapan hidup dalam tanda tanya selalu, besok siapa lagi, kalau bukan aku ya kamu, begitulah situasi hidup di daerah konflik.
Aku sebagai pemimpin harus berada di depan untuk meyakinkan masyarakat tidak boleh takut dan harus semangat dalam menjalani kehidupan di daerah konflik, satu hal yang harus dijaga tidak boleh terlibat ikut berkonflik, masyarakat pun yakin dengan setiap pembelaan ku ketika masyarakat menghadapi masalah dan akhirnya banyak masyarakat yang turun gunung untuk berpelukan kembali dengan ibu pertiwi dengan ikrar kesetiaan terhadap NKRI.
Lanjut!, pengumuman administrasi tahap pertama lulus, kemudian dilanjutkan dengan tahapan-tahapan berikutnya yang menguji kesabaran pansel dan para peserta.
Tak ada yang menyangkal bahwa profesionalisme menjadi taruhan untuk menghasilkan yang terbaik.salut!. Dan model selter Ombudsman ini patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi lembaga lainnya, wabil khusus Pemerintah Daerah.
Katanya kalau ikut selter di Pemerintahan Daerah sebelum tes kita sudah tau siapa yang akan dilantik. Miris!.
Outputnya dari proses input bagaimana kita yakin bahwa pelayanan publik akan menjadi baik sesuai dengan harapan masyarakat, masyarakat puas dan bahagia, tidak terjadi maladministrasi yang bermuara pada nepotisme, kolusi dan korupsi yang merugikan masyarakat. Dan ini tugas mulia insan Ombudsman untuk mengawasi dan mengawal penyelenggaraan pelayanan publik oleh lembaga negara dan pemerintahan serta swasta dan atau orang yang ditunjuk untuk melaksanakan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam mewujudkan Pemerintahan yang baik * goods governance dan Pemerintahan yang bersih * clean government. Selamat bekerja bagi kaper yang terpilih dalam mengembankan amanah yang mulia. Ombudsman. I❤ U