RR: Pers Harus Menjadi Bagian Penting dari Transformasi Indonesia
Sudah waktunya Indonesia menjadi negara pemenang. Untuk itu kami minta sama teman-teman pers yang ada hari ini untuk menjadi bagian dari transformasi Indonesia.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Media massa telah menunjukkan kehadirannya yang sangat penting. Bahkan pada zamannya, media massa (pers) telah disegani dan dimanfaatkan sebagai kekuatan perjuangan kemerdekaan.
Berbagai zaman itu kini telah dilalui. Media massa kini telah menjadi pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Karena itu media atau pers harus tampil sebagai salah satu pilar yang bisa mengambil bagian dalam proses transformasi di Indonesia.
"Sudah waktunya Indonesia menjadi negara pemenang. Untuk itu kami minta sama teman-teman pers yang ada hari ini untuk menjadi bagian dari transformasi Indonesia," kata Rizal Ramli pada suatu ketika.
Mantan Menko Perekonomian itu meminta agar bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan jauh dari ketertinggalan. Bangsa Indonesia juga harus memiliki nasionalisme yang tinggi.
"Kita tinggalkan Indonesia yang kurang nasionalismenya menjadi Indonesia yang jadi negara hebat di kawasan ini. Dan itu tidak mungkin tanpa bantuan teman-teman pers dan media," kata mantan Kepala Bulog itu.
Ekonom alumnus Boston University itu menjelaskan, sebagai kekuatan keempat demokrasi, pers memainkan peranan penting. Pers tidak saja berperan sebagai watchdog, melainkan juga agen pembangunan untuk melakukan transformasi.
Karena itu, dalam pemberitaannya, pers perlu menyampaikan substansi masalah yang dihadapi bangsa ini. Pers, kata ekonom senior itu, tidak boleh larut dalam pemberitaan infotainment. Masalah ekonomi, politik, hukum, dan budaya yang serius hendaknya diangkat ke permukaan, tidak sekadar kontroversi yang menarik minat publik.
Indonesia, kata mantan Kepala Bulog ini, sudah kehilangan sejumah peluang emas yang seharusnya bisa dimanfaatkan bagi pembangunan bangsa.
Peluang emas partama yaitu di bidang minyak bumi. Indonesia mengekspor semua minyak mentah tanpa mengolah terlebih dahulu di dalam negeri. Indonesia terlena oleh oil boom, sehingga tidak membangun kilang BBM di dalam negeri.
Kedua, peluang emas dalam pengelolaan sumber daya hutan yang sangat besar. Para pengusaha yang mendapat hak pengusahaan hutan (HPH) membabat begitu saja pohon dan pemerintah mengizinkan ekspor gelondongan. Indonesia Karena itu, kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan nilai tambah tinggi dari ekspor hasil kayu olahan.
Ketiga, peluang untuk mengelola produk tambang di dalam negeri. Yang paling menonjol adalah ekspor batu bara. Bongkahan batu bara diambil dari permukaan bumi dan langsung diekspor.
Rizal Ramli mengatakan, berbagai peluang itu hilang karena ada pihak tertenut yang mengambil keuntungan. Praktik ini berlangsung beberapa dekade dan membuat negeri ini kehilangan peluang untuk maju sejajar dengan bangsa lain.
"Kini saatnya, kita bangkit. Gas, produk tambang dan gas yang masih ada harus diolah terlebih dahulu di dalam negeri agar mendapat nilai tambah tinggi," ujar Rizal Ramli.

Solusi Agar Pers Sehat dan Tidak Oligopolistik
Sementara itu, dalam ILC TVOne, Selasa, 15 Desember 2020, tokoh nasional Dr Rizal Ramli memberikan solusinya agar media tidak tampil oligopolistik.
Pola oligopolistik kepemilikan media, kata Bang RR, sangat tidak sehat. Dia mencontohkan, kini diperbolehkan seorang bisa menjadi pemilik beberapa media dengan jumlah yang sangat mendominasi.
Namun dalam prakteknya media-media tersebut lebih banyak gunakan untuk kepentingan politik dan bisnis pemiliknya, terutama untuk mendapatkan akses dan mendekat kepada kekuasaan.
“Media dikuasai segelintir orang. Satu orang bisa punya belasan atau puluhan media,” ujar Rizal Ramli.
Pola seperti ini, menurutnya, harus diubah, yaitu dengan memberikan ketentuan kepemilikan media cukup kepada satu orang yakni satu orang satu media. Juga pemiliknya harus benar-benar insan pers. Dengan hal seperti ini kita bisa berharap lahirnya tokoh-tokoh pers yang identik dengan medianya seperti pada era sebelumnya.
Rizal mencontohkan tokoh-tokoh Pers Perjuangan yang identik dengan media yang mereka miliki yaitu Rosihan Anwar (Pedoman), Mochtar Lubis (Indonesia Raya), Suardi Tasrif (Abadi), atau BM Diah (Merdeka).
Dengan pola seperti ini, katanya, media secara bisnis akan tetap bisa hidup.
Rizal Ramli teringat akan kiat koleganya, Marzuki Usman. Saat menjabat Ketua Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) pada 1980-an Marzuki Usman mewajibkan semua perusahaan go public untuk menerbitkan laporan keuangan yang teraudit di sejumlah media nasional.
“Kiat ini ternyata bisa menghidupi media yang fokus pada berita ekonomi dan bisnis hingga sekarang,” ujar Bang RR.
Dan sebagai inovasi terhadap hal yang dilakukan oleh Marzuki tersebut, Rizal Ramli mengusulkan agar seluruh pemerintah daerah (Kota, Kabupaten dan Provinsi) di Indonesia wajib menerbitkan laporan keuangannya yang teraudit di media lokal, regional dan nasional, baik media digital maupun cetak.
Cara ini, kata Rizal Ramli, akan menghidupi media yang saat ini sangat kompetitif.
“Laporan keuangan pemerintah daerah tersebut adalah cermin good governance yang dapat menjadi rujukan untuk membuat pemeringkatan kinerja Pemda maupun kepala daerah. Sehingga kepala daerah yang amburadul laporan keuangan dan kinerjanya tak layak lagi mencalonkan diri,” pungkas Rizal Ramli. ***