indonews

indonews.id

Yahya Sinwar Dipastikan Tewas dalam Operasi Gabungan Militer Israel

Pemimpin Hamas Yahya Sinwar dipastikan terbunuh dalam operasi gabungan Militer Israel bersama dinas rahasia Shin Bet.

Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
zoom-in Yahya Sinwar Dipastikan Tewas dalam Operasi Gabungan Militer Israel
Operasi gabungan yang digelar militer Israel bersama dinas rahasia Shin Bet di Jalur Gaza menewaskan tiga warga Palestina dan pimpinan Hamas, Yahya Sinwar. Foto dok/CNN

Jakarta, INDONEWS.ID-Pemimpin Hamas Yahya Sinwar dipastikan terbunuh dalam operasi gabungan Militer Israel bersama dinas rahasia Shin Bet.

Sumber anonim yang mengetahui peristiwa ini, kepada The Jerusalem Post menyampaikan bahwa beberapa jam setelah rumor kematian Shinwar, kepastian terbunuh dikonfirmasi Shin Bet, IDF dan Menteri Luar Negeri Foreign Minister Yisrael Katz.

"Pemimpin Hamas Yahya Sinwars tewas dibunuh  IDF di Tel Sultan, Rafah pada Rabu (16/10) dalam sebuah operasi. Kepastian terbunuh dikonfirmasi beberapa jam setelah rumor kematian tersiar," tulis Jerusalem Post.

IDF beberapa pekan terakhir menetapkan Yahya Sinwar sebagai target pertama untuk dihabisi.

Associated Press melaporkan, Yahya Sinwar dijadikan target karena sangat berperan dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober tahun lalu yang menewaskan banyak warga sipil.

Di Gaza, lanjut laporan itu, tak ada figur yang lebih berpengaruh dalam menentukan arah perang selain pemimpin Hamas bernama Sinwar.

Pada 7 Oktober 2023, bersama Mohammed Deif, kepala sayap bersenjata Hamas melakukan serangan di Gaza,  membunuh sekitar 1.200 orang. Sebagian besar warga sipil tewas dan  sekitar 250 orang lainnya diculik.

Israel mengatakan bahwa Deif telah dibunuh dalam serangan udara pada Juli di Gaza selatan. Serangan ini  menewaskan lebih dari 70 warga Palestina.

Tak lama kemudian, pemimpin Hamas di pengasingan, Ismail Haniyeh, terbunuh saat mengunjungi Iran dalam ledakan yang disalahkan pada Israel.

Sinwar yang kemudian dipilih untuk menggantikannya sebagai pemimpin tertinggi Hamas, diburu IDF.

Hamas tidak pernah menyangka kalau respons Israel terhadap serangan 7 Oktober itu begitu masif dan ingin mengakhiri pengaruh Hamas.

Selama berburu pemimpin Hamas, operasi yang digelar Israel telah menewaskan lebih dari 42.000 orang Palestina dan menyebabkan kehancuran luas di Gaza.

Dampaknya, ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal serta banyak yang berada di ambang kelaparan.

Merespon intensifnya aksi Israel,  Sinwar dikabarkan berupaya melakukan negosiasi tidak langsung dengan Israel untuk mencoba mengakhiri perang.

Salah satu tujuannya adalah memenangkan pembebasan ribuan warga Palestina yang ditahan di penjara Israel.

Tawaran Sinwar ingin mengulangi kesepakatan yang dia lakukan satu dekade lalu yang membuatnya dibebaskan.

Langkah Sinwar mainnya  adalah mendekatkan Hamas ke Iran dan sekutu-sekutunya di seluruh kawasan.

Dampaknya, Hezbullah ikut menyiram bensin ke api perang yang sudah berkobar sekali 7 Oktober itu.

Langkah Sinwar itu membuat Israel marah besar hingga melakukan invasi Israel ke Lebanon dan berperang melawan Hisbullah.

Juru bicara kepala militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari, menyebutnya sebagai pembunuh.

"Sinwar membuktikan kepada seluruh dunia bahwa Hamas lebih buruk daripada ISIS," kata Daniel.

Karena menjadi sosok Sinwar  yang mengerikan, IDF tanpa kenal lelah memburu Sinwar.

Rabu (16/10), Sinwar tamat riwayatnya dalam operasi gabungan Militer Israel. Ia terbunuh bersama 3 warga Palestina lainnya.

Bagi Hamas, tewasnya Sinwar merupakan pukulan yang mengancam keberadaan faksi militan yang menguasai Gaza itu.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas