Inilah 3 Jurus Jitu Prabowo Hadapi Kebijakan Tarif Impor Donald Trump
Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Noudhy Valdryno mengatakan, Presiden Prabowo Subianto sudah mempersiapkan tiga jurus jitu untuk menghadapi berbagai gejolak perubahan kebijakan global agar bisa menjaga optimisme dan ketahanan ekonomi Indonesia. Termasuk soal tarif timbal balik yang dikenakan Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia sebesar 32 persen.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Noudhy Valdryno mengatakan, Presiden Prabowo Subianto sudah mempersiapkan tiga jurus jitu untuk menghadapi berbagai gejolak perubahan kebijakan global agar bisa menjaga optimisme dan ketahanan ekonomi Indonesia. Termasuk soal tarif timbal balik yang dikenakan Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia sebesar 32 persen.
"Dalam menghadapi tantangan global, termasuk kebijakan tarif baru AS, Presiden Prabowo menunjukkan ketajaman melihat dinamika geopolitik," ujar Noudhy lewat siaran pers resmi PCO, dilansir pada Jumat (4/4/2025).
Tiga hal yang dimaksud yakni memperkuat hubungan dagang internasional, mengoptimalkan potensi sumber daya alam dalam negeri dan meningkat konsumsi dalam negeri.
Dengan begitu diharapkan ekonomi Indonesia bisa tetap tumbuh di tengah situasi global yang penuh dengan ketidakpastian.
“Dengan memperkuat hubungan dagang internasional, mengoptimalkan potensi sumber daya alam, dan meningkatkan konsumsi dalam negeri, Presiden Prabowo membuktikan bahwa Indonesia dapat tetap tumbuh," jelas Noudhy.
"Indonesia diharapkan (tetap) berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan posisi sebagai kekuatan ekonomi yang stabil dan optimistis di kawasan Asia Tenggara dan global," tambahnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump baru saja mengumumkan tarif timbal balik atau tarif bea masuk yang berlaku bagi lebih dari 180 negara.
Indonesia juga menjadi salah satu negara yang termasuk dalam pengenaan tarif, yakni sebesar 32 persen.
Sejalan dengan pengumuman Trump, pemerintah AS memberi penjelasan mengapa Indonesia dikenai tarif timbal balik sebesar 32 persen.
Padahal beberapa negara tetangga terdekat di Indonesia, seperti Singapura dan Malaysia dikenakan tarif timbal balik lebih kecil.
Merujuk laman resmi Gedung Putih pada Rabu (2/4/2025), Indonesia disebut menerapkan tarif sebesar 30 persen yang lebih tinggi dari AS sebesar 2,5 persen untuk produk etanol.
Trump juga menyinggung hambatan non-tarif yang dimaksudkan untuk membatasi jumlah impor/ekspor dan melindungi industri dalam negeri telah menghilangkan akses timbal balik produsen AS ke pasar di seluruh dunia.
Selain itu ada perizinan impor yang kompleks juga disinggung sebagai salah satu penyebab tarif resiprokal untuk Indonesia.
"Indonesia menerapkan persyaratan konten lokal di berbagai sektor, rezim perizinan impor yang kompleks, dan mulai tahun ini akan mengharuskan perusahaan sumber daya alam untuk memindahkan semua pendapatan ekspor ke dalam negeri untuk transaksi senilai 250.000 dollar AS (sekitar Rp 4,1 miliar) atau lebih,” ujar Trump dilansir laman resmi Gedung Putih.