indonews

indonews.id

Fenomena "Wisata Jokowi", Power Kuat Jokowi Usai Turun Tahta

Fenomena "Wisata Jokowi" yang tengah ramai belakangan ini menunjukkan bahwa politik tak selalu bersifat serius dan formal. Fenomena ini merujuk pada kunjungan masyarakat ke kediaman Presiden ke-7, Joko Widodo, pasca-masa jabatannya, yang tidak hanya sebagai ajang bersilaturahmi, tetapi juga sebagai bentuk budaya populer yang menghubungkan warga dengan figur mantan presiden tersebut.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Fenomena "Wisata Jokowi" yang tengah ramai belakangan ini menunjukkan bahwa politik tak selalu bersifat serius dan formal. Fenomena ini merujuk pada kunjungan masyarakat ke kediaman Presiden ke-7, Joko Widodo, pasca-masa jabatannya, yang tidak hanya sebagai ajang bersilaturahmi, tetapi juga sebagai bentuk budaya populer yang menghubungkan warga dengan figur mantan presiden tersebut.

Pakar komunikasi politik dari Universitas Brawijaya, Verdy Firmantoro, mengatakan bahwa "Wisata Jokowi" memperlihatkan bahwa politik dapat hadir dalam bentuk budaya yang lebih ringan dan mudah diakses, seperti kunjungan, foto bersama, dan kegiatan lainnya. Menurut Verdy, meski Jokowi tak lagi menjabat sebagai presiden, citra politiknya tetap kuat dan mampu menarik perhatian publik.

“Politik juga bisa hadir dalam bentuk budaya populer, seperti kunjungan, foto-foto, dan lain sebagainya. Jokowi pasca-presidensi tetap mempertahankan citra politiknya sebagai bentuk soft power. Meski tak lagi punya jabatan formal presiden, tapi kekuatan simboliknya masih menarik perhatian publik,” ujar Verdy saat dihubungi Kompas.com, Jumat (4/4/2025).

Fenomena ini, lanjut Verdy, bukanlah wisata dalam arti literal, melainkan wisata simbolik. "Warga yang berkunjung merasa `terhubung` secara emosional dengan figur Jokowi," tambahnya.

Namun, Verdy juga menyoroti bahwa diksi “Wisata Jokowi” ini sebenarnya dikonstruksi oleh pemerintah. Tujuan dari konstruksi ini, menurutnya, adalah untuk menunjukkan bahwa hubungan warga dengan Jokowi tetap positif meski ada dinamika politik yang terjadi.

Selain itu, Verdy mengungkapkan bahwa Solo, sebagai kota asal Jokowi, memanfaatkan fenomena ini untuk mengkapitalisasi popularitas mantan presiden tersebut sebagai bagian dari city branding. "Wisata Jokowi" diharapkan dapat menjadi identitas kota sekaligus mendatangkan keuntungan dari arus kunjungan.

Meski demikian, Verdy mengingatkan bahwa fenomena mantan pemimpin yang tetap memiliki daya tarik publik bukanlah hal baru. Di beberapa negara, mantan presiden atau perdana menteri sering kali menjadi tokoh yang dikagumi dan dihormati. Namun, ia mencatat bahwa konsep `wisata` yang merujuk pada kunjungan ke kediaman pribadi mantan presiden kemungkinan memiliki kekhasan tersendiri di Indonesia.

"Saya memandang, jika `Wisata Jokowi` hanya dijadikan sekadar sarana berkunjung ke kediaman, bertemu Jokowi, bisa berfoto `selfie-selfie` bersama mantan presiden, hal itu lebih cenderung bermuatan entertain daripada edukasi," katanya.

Untuk itu, Verdy mendorong pemerintah untuk tidak hanya berhenti pada "Wisata Jokowi", tetapi juga mengarah pada pembangunan institusi yang lebih luas, seperti pusat pengetahuan kepresidenan. "Ini bukan sekadar tempat wisata, tetapi pusat edukasi dan dokumentasi sejarah kepemimpinan nasional, agar generasi mendatang dapat belajar dari perjalanan para pemimpin sebelumnya," ujar Verdy.

Di sisi lain, fenomena "Wisata Jokowi" semakin ramai menarik perhatian masyarakat. Selama momen Lebaran 2025, kediaman Jokowi di Jl. Kutai No. 1, Sumber, Solo, menjadi tujuan banyak wisatawan. Setiap harinya, lebih dari 1.000 orang datang untuk bersalaman dan berfoto bersama Jokowi. Bahkan, antrean panjang terus mengular di depan rumahnya pada 2 hingga 4 April 2025.

Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah, ajudan Jokowi, mengungkapkan bahwa pengunjung datang dari berbagai daerah, dengan lebih dari 1.500 orang tercatat pada hari kedua Lebaran. "Pada hari pertama Lebaran, pengunjung mayoritas berasal dari warga sekitar, namun jumlahnya terus meningkat di hari ketiga," ujarnya.

Fenomena ini menegaskan bagaimana kekuatan simbolik seorang pemimpin dapat terus membekas meski ia sudah tidak lagi memegang jabatan formal, dan bagaimana hal ini dapat dimanfaatkan baik sebagai bentuk apresiasi masyarakat maupun sebagai alat untuk memperkenalkan identitas budaya dan sejarah.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas