indonews

indonews.id

Rusia Luncurkan Serangan Terbesar ke Ukraina, 12 Tewas Termasuk 3 Anak-Anak

Rusia melancarkan serangan udara terbesar ke Ukraina sejak awal tahun pada Minggu malam (25/5), menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 60 lainnya.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Rusia melancarkan serangan udara terbesar ke Ukraina sejak awal tahun pada Minggu malam (25/5), menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 60 lainnya.

Pemerintah Ukraina menyatakan serangan tersebut mencakup 367 unit drone dan sejumlah rudal, yang sebagian besar diarahkan ke wilayah ibu kota, Kiev, serta sejumlah kota lain, termasuk Zhytomyr.

Menurut otoritas Ukraina, tiga dari 12 korban tewas adalah anak-anak yang berada di Zhytomyr ketika serangan terjadi. Ledakan besar terdengar di berbagai penjuru Kiev, memicu kepanikan warga dan kerusakan infrastruktur sipil.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras serangan tersebut dan menyerukan dukungan lebih tegas dari Amerika Serikat serta negara-negara sekutu lainnya.

Dalam pernyataannya di Telegram, yang dikutip dari Reuters, Zelensky menyindir kebijakan luar negeri AS yang dinilainya terlalu lunak terhadap Rusia sejak pemerintahan Presiden Donald Trump.

“Diamnya Amerika, diamnya negara lain di dunia, hanya akan menyemangati Putin,” tulis Zelensky.

Ia juga menekankan bahwa setiap serangan Rusia seharusnya menjadi dasar kuat untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Moskow.

Menanggapi seruan tersebut, Presiden Donald Trump menyatakan keprihatinannya atas tindakan Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump mengindikasikan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan sanksi baru terhadap Rusia, terutama karena serangan terjadi di tengah upaya negosiasi damai yang masih berlangsung.

Sementara itu, pihak Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas serangan tersebut. Namun, mereka mengklaim berhasil menembak jatuh 95 drone Ukraina yang diduga mencoba menyerang wilayah Rusia.

Serangan ini kembali meningkatkan ketegangan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan Eropa Timur.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas