Nasional

Putin Ultimatum Ukraina soal Donbas, Tegaskan Tak Ada Ruang Kompromi dalam Upaya Akhiri Perang

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 06/12/2025 10:38 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengeluarkan ancaman keras kepada Ukraina terkait situasi di Donbas. Ia menegaskan pasukan Rusia akan merebut wilayah tersebut sepenuhnya jika tentara Ukraina tidak segera mundur dari kawasan yang telah menjadi titik konflik utama sejak invasi dimulai pada Februari 2022.

“Kami akan membebaskan wilayah-wilayah ini dengan paksa, atau pasukan Ukraina akan meninggalkan wilayah tersebut,” ujar Putin, dikutip dari BBC, Jumat (5/12/2025).

Donbas merupakan wilayah yang saat ini sekitar 85 persen telah dikuasai Rusia. Pernyataan tegas Putin tersebut menunjukkan tidak adanya ruang kompromi mengenai cara mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun.

Ancaman itu muncul di tengah upaya Amerika Serikat (AS), di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, untuk memediasi rencana perdamaian baru. Trump menyebut para negosiator meyakini bahwa Putin menginginkan kesepakatan setelah pertemuan yang digelar pada Selasa (2/12/2025).

Utusan Trump, Steve Witkoff, kini berada di Moskow dan dijadwalkan bertemu perwakilan Ukraina di Florida sebagai bagian dari proses perundingan. Menurut Trump, pembicaraan awal dengan pihak Kremlin berjalan cukup baik, meski masih terlalu dini untuk menyimpulkan arah akhir perundingan.

Sebelumnya, versi awal rencana perdamaian yang diajukan AS sempat memicu kontroversi karena mengusulkan agar wilayah Donbas — yang sebagian masih berada di bawah kendali Ukraina — diserahkan kepada Rusia. Witkoff kemudian membawa versi modifikasi dari rencana tersebut ke Moskow.

Namun Putin mengaku belum melihat proposal terbaru itu sebelum melakukan pembicaraan dengan Witkoff dan Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat Trump.

“Itulah sebabnya kami harus membahas setiap poin, itulah mengapa butuh waktu lama,” kata Putin.
Ia mengungkapkan Moskow tidak sepakat dengan sejumlah ketentuan dalam rencana tersebut. “Terkadang kami mengatakan ya, kami bisa membahas ini. Tetapi untuk itu (beberapa hal), kami tak bisa sepakat,” ujarnya.

Dari pihak Ukraina, Menteri Luar Negeri Andrii Sybhia menilai langkah Putin justru mengulur waktu dan menghambat proses perdamaian. Ukraina menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan jaminan keamanan yang kuat dalam setiap kesepakatan yang mungkin dihasilkan.

Hingga kini, masa depan Donbas kembali berada dalam ketidakpastian, sementara eskalasi retorika dari Kremlin menandakan bahwa jalan menuju perdamaian masih jauh dari kata final.*

Artikel Lainnya