indonews

indonews.id

Akulturasi Budaya Warnai Pameran Wastra Langka di Museum Tekstil Jakarta

Akulturasi Budaya Warnai Pameran Wastra Langka di Museum Tekstil Jakarta

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Sekitar 98 wastra langka pilihan dengan perpaduan  akulturasi  budaya Cina, India, Islam dan Eropa digelar dalam Pameran Wastra bertema Catur Kultur pada Wastra Indonesia yang diselenggarakan Museum Tekstil Jakarta bekerjasama Himpunan Wastraprema,  dibuka Kepala Dinas Kebudayaan DKI Mochamad Miftahulloh Tamary bertempat   di Museum Tekstil Jakarta ,Selasa 27/5/2025.

Sejak berabad yang lalu, Indonesia telah menjadi jalur pertemuan berbagai  budaya karena letaknya di persimpangan jalur perdagangan strategis dunia mulai dari pedagang India, Arab, hingga bangsa Tionghoa dan Belanda.Kebudayaan mereka berinteraksi dengan budaya lokal dikenal dengan akulturasi budaya.Beragam hasil akulturasi budaya ini, salah satunya  tercermin  dari motif/ragam hias dan berbagai symbol filosofis kain tradisional dari berbagai daerah yang memiliki pengaruh budaya tersebut.Dalam  pameran ini ditampilkan antara lain kain Panjang,sarung, selendang, ikat kepala dan tokwi atau kain di meja sembahyang  warga Tionghoa yang cukup langka.

 Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta M Miftahulloh Tamary Ketika membuka pameran ini menyampaikan apresiasinya atas prakasa pameran yang diselenggarakan  secara periodik untuk memperingati hari ulang tahun Museum Tekstil serta  Hari Ulang tahun Himpunan Wastraprema ke 49 dan Ulang tahun DKI Jakarta ke 498 .

Menurut Kadis Kebudayaan DKI, pameran ini merupakan salah satu upaya pelestarian warisan budaya Indonesia serta  penguatan identitas bangsa melalui budaya wastra  tradisional.Menurutnya pameran ini tidak hanya menampilkan ragam akulturasi budaya namun didalamnya terkandung makna, philosopsis yang sangat dalam sebagai identitas masing masing propinsi dan wilayah di Indonesia . Dikemukakan, pameran ini bukan hanya sebagai ajang apresiasi seni  tetapi juga memperlihatkan  kayanya identitas budaya  yang tercermin dari helai kain yang ditampilkan.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar mengatakan ,keberagaman budaya yang terwujud  dalam berbagai wastra yang dipamerkan  menjadi sarana bagi kita untuk lebih memahami  budaya lain.   Neneng Iskandar,menjelaskan pameran catur kultur pada wastra Indonesia memperlihatkan pengaruh kebudayaan Cina, India,Islam dan Eropa , keempat budaya ini diolah  dan diadaptasi secara kreatif oleh masyarakat lokal. Akulturasi budaya tidak menghapus identitas budaya Indonesia, tetapi justru memperkaya khazanah budaya melaui motif, teknik  dan symbol tegas Neneng Iskandar.

Dijelaskan  Neneng Iskandar unsur unsur kebudayaan Cina banyak diadaptasi sebagai motif  pada wastra Indonesia, diantaranya motif naga, burung hong,kiliin bunga teratai, bunga peony serta berbagai symbol yang dianggap membawa keberuntungan. Motif motif tersebut terutama berasal dari gambar keramik Cina yang ditemukan di Indonesia.Wastra India yang telah diperdagangkan di berbagai penjuru dunia selama berabad abad meninggalkan jejak yang signifikan terhadap wastra Indonesia tegas Neneng . Motif motif yang digambarkan pada patola ditemukan sebagai ragam hias hampir di seluruh daerah di Indonesia. Demikian juga  dengan struktur desain wastra dari beberapa daerah menyerupai struktur patola.Selain itu beberapa tehnik sulaman khas India juga digunakan di Indonesia seperti penggunaan kaca pada sulaman. Dijelaskan Ketua umum HWP Neneng Iskandar pengaruh islam yang paling jelas adalah penggunaan kaligrafi  Arab sebagai ragam hias terutama pada batik dan sulaman.Demikian pula symbol symbol yang berhubungan dengan dunia Islam, seperti gambar masjid merupakan sumber inspirasi yang turut memperkaya perbendaharan ragam hias wastra Indonesia. Sementara itu, menurut Neneng Iskandar masuknya bangsa Eropa turut serta memberi pengaruh yang signifikan  terhadap ragam hias wastra Indonesia,lambang kerajaan Eropa, malaikat sedang meniup terompet,sosok cupid dengan anak  panahnya banyak ditemukan sebagai ragam hias pada wastra tenun terutama yang berasal dari daerah Indonesia Timur.

Sementara itu, Kepala  Unit Pengelola Museum Seni Sri Kusumawati  mengatakan  Museum Tekstil sebagai salah satu wadah pelestarian Budaya Wastra Indonesia akan terus hadir memberikan pengetahuan dan wawasan baik sejarah maupun perkembangan  kain tradisi kepada masyarakat luas.Lebih lanjut dikemukakan Sri Kusumawati hadirnya pameran ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi masyarakat serta dapat menginspirasi generasi muda untuk turut serta dalam pelestarian wastra Indonesia.

Pameran yang akan berlangsung selama satu bulan penuh ini terbuka untuk umum  dengan menampilkan koleksi pribadi yang merupakan koleksi pilihan milik kolektor Rumah Wastra JO seda, Aswin Wirjadi, Sri Sintasari (Neneng) Iskandar serta Sitti Solvia Basri. 

Wastra Indonesia memiliki keindahan motif,tehknik dan symbol  atau makna filosofisnya.Warisan budaya ini harus terus dipelihara sehingga generasi penerus dapat mengerti tentang kehidupan melalui symbol atau makna filosophi yang terkandung di dalamnya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sekilas mengenai Himpunan Wastraprema (HWP)
Himpunan Wastraprema (HWP) merupakan suatu wadah yang beranggotakan para pencinta kain adati tradisi Indonesia yang didirikan dan dilegalisasi tanggal 28 Januari 1976.
Salah satu pendirinya adalah Ir.Safioen yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian yang didukung penuh Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Gubernur Ali Sadikin menyediakan tempat sebuah museum, yang dikenal dengan Museum Tekstil yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Wastraprema pada tanggal 28 Juni 1976.

Koleksi pertama Museum Tekstil berupa 500 helai lembar kain yang  merupakan hibah dari beberapa gubernur pemerintah daerah dan anggota Himpunan Wastraprema.

Misi Himpunan Wastraprema mengangkat citra,pemahaman dan apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia agar semakin dikenal, diminati, dihayati dan dilestarikan untuk diwariskan ke generasi penerus.
Nama Wastraprema diambil dari Bahasa Sansekerta, Wastra berarti kain dan prema artinya cinta,

Pameran merupakan salah satu sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai wastra nusantara, disamping ceramah, diskusi dan pertemuan periodik.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Periode 2023-2027 Sri Sintasari Iskandar atau Neneng Iskandar

Website Himpunan Wastraprema : www.himpunan wastraprema.com
IG Himpunan Wastraprema
Alamat : Museum Tekstil Jakarta, Jalan KS Tubun no 2-4 Jakarta 11420
Phone/Fax: (62-21) 5606613

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas