indonews

indonews.id

Kinerja Positif di Awal 2025! Industri Asuransi Jiwa Bukukan Triliunan di Tengah Gejolak Ekonomi

Industri asuransi jiwa Indonesia mencatatkan kinerja yang menggembirakan pada awal tahun 2025. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan bahwa sepanjang Januari hingga Maret 2025, sebanyak 56 perusahaan asuransi jiwa menunjukkan pertumbuhan yang positif, meskipun dihadapkan pada tantangan ekonomi nasional dan global.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
zoom-in Kinerja Positif di Awal 2025! Industri Asuransi Jiwa Bukukan Triliunan di Tengah Gejolak Ekonomi
Foto: Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Simon Imanto (kiri); Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon (tengah) dan Kepala Departemen Komunikasi AAJI, Karin Zulkarnaen (kanan)

Jakarta, INDONEWS.ID - Industri asuransi jiwa Indonesia mencatatkan kinerja yang menggembirakan pada awal tahun 2025. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan bahwa sepanjang Januari hingga Maret 2025, sebanyak 56 perusahaan asuransi jiwa menunjukkan pertumbuhan yang positif, meskipun dihadapkan pada tantangan ekonomi nasional dan global.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon, menyampaikan bahwa peningkatan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi jiwa yang semakin kuat.

“Sepanjang Januari hingga Maret 2025, pendapatan premi industri meningkat 5,2% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp47,45 triliun. Ini adalah awal yang baik untuk menatap tahun 2025 dengan lebih optimis,” ujar Budi.

Pertumbuhan premi terutama ditopang oleh kenaikan premi lanjutan yang mencapai Rp20,94 triliun atau naik 8,2% yoy. Dari sisi produk, asuransi jiwa tradisional masih mendominasi dengan proporsi 65,2% dari total premi dan mengalami peningkatan 15,6% menjadi Rp30,95 triliun.

Peningkatan jumlah tertanggung juga mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan jangka panjang. Hingga akhir Maret 2025, jumlah tertanggung perorangan naik 11,6% menjadi 21,97 juta orang, sedangkan tertanggung kumpulan mencapai 75,89 juta orang atau naik 22,2%. Hal ini turut didorong oleh kenaikan indeks literasi asuransi (45,45%) dan inklusi asuransi (28,5%).

Namun demikian, Budi menegaskan bahwa tantangan global seperti volatilitas pasar modal dan nilai tukar tetap harus diwaspadai. “Dengan disiplin dalam pengelolaan risiko dan strategi jangka panjang yang adaptif, kami yakin industri ini akan terus tumbuh secara berkelanjutan,” katanya.

Pembayaran Klaim Capai Rp38,16 Triliun

Kepala Departemen Komunikasi AAJI, Karin Zulkarnaen, menyampaikan bahwa komitmen industri terhadap perlindungan nasabah tetap dijaga. Sepanjang triwulan pertama 2025, total klaim dan manfaat yang dibayarkan mencapai Rp38,16 triliun kepada 3,74 juta orang.

Angka ini menurun 11,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, terutama akibat penurunan klaim partial withdrawal dan surrender masing-masing sebesar Rp3,72 triliun dan Rp19,20 triliun. Klaim asuransi kesehatan juga turun 2,2% menjadi Rp5,83 triliun—penurunan pertama dalam dua tahun terakhir.

Meski menurun, AAJI tetap memantau perkembangan klaim kesehatan secara ketat. Karin juga menyoroti implementasi SEOJK No.7/SEOJK.05/2025 tentang Penyelenggaraan Produk Asuransi Kesehatan yang mulai berlaku 1 Januari 2026. Regulasi ini memperkenalkan skema co-payment, yakni 10% biaya pengobatan ditanggung oleh nasabah.

“Tujuannya adalah mendorong pengambilan keputusan medis yang lebih bijak sekaligus menekan inflasi biaya kesehatan. Skema serupa sudah diterapkan di banyak negara,” jelas Karin.

Tekanan Investasi, Komitmen pada SBN Tetap Kuat

Di tengah fluktuasi pasar, industri asuransi jiwa juga mengalami tekanan pada portofolio investasi. Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Simon Imanto, mengungkapkan total aset industri per Maret 2025 mencapai Rp616,94 triliun, turun tipis 0,6%.

Beberapa kinerja portofolio tercatat sebagai berikut: SBN tumbuh 12,9% dengan kontribusi 39,6% (Rp214,23 triliun); Saham turun 19,0% (Rp119,79 triliun); Reksa dana turun 10,5% (Rp65,79 triliun); Sukuk korporasi naik 12,3% (Rp51,67 triliun); Deposito turun 7,9% (Rp36,43 triliun).

“Peningkatan penempatan di SBN menunjukkan komitmen industri untuk mendukung pembiayaan negara serta mematuhi prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan,” kata Simon.

Menutup laporan, Budi Tampubolon menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara perusahaan asuransi dan nasabah. “Asuransi jiwa adalah kontrak jangka panjang. Karena itu, strategi investasi kami berfokus pada perlindungan nasabah, bukan pada keuntungan jangka pendek,” pungkasnya.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas