Serang Sistem Saraf dan Bisa Mengakibatkan Kelumpuhan, Ahli Ingatkan Bahaya Gigitan Ular Weling
Menurutnya, jenis ular ini memiliki racun neurotoksin yang menyerang sistem saraf dan berpotensi menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan.
Reporter: very
Redaktur: very
Bogor, INDONEWS.ID - Bocah di Pekalongan, Rafa (11), yang digigit ular Weling, sampai saat ini masih dalam kondisi koma di ICU. Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Pekalongan saat ini fokus ke upaya penyembuhan pasien. Pemkab juga telah berupaya dalam melakukan pengadaan antivenom untuk kesembuhan pasien.
Menanggapi kasus tersebut, Pakar Herpetologi IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, mengingatkan masyarakat akan bahaya bisa ular weling (Bungarus candidus).
Menurutnya, jenis ular ini memiliki racun neurotoksin yang menyerang sistem saraf dan berpotensi menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan.
"Meski gejala awal bisa ringan atau tertunda, efeknya bisa fatal jika tidak segera ditangani," ujar Prof Mirza di sela kesibukannya sebagai dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, di Bogor.
Ia menjelaskan bahwa waktu bertahan hidup seseorang setelah digigit ular Weling sangat bergantung pada jumlah bisa yang masuk, lokasi gigitan, serta kondisi tubuh korban. Gigitan pada anak-anak bisa lebih berbahaya dibandingkan orang dewasa.
"Kadang ular berbisa menghasilkan gigitan kering (dry bite), artinya menggigit tanpa mengeluarkan bisa. Tapi jika benar-benar tergigit dan tidak mendapat penanganan medis, korban bisa mengalami gagal napas dalam waktu 4–24 jam," jelasnya.
Prof Mirza menyarankan agar korban gigitan ular tetap tenang dan mengurangi gerakan untuk memperlambat penyebaran racun. Ia menegaskan agar luka tidak dihisap, disayat, atau diberi ramuan tradisional, serta menyarankan untuk melepaskan cincin atau gelang di sekitar area gigitan.
"Segera bawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dan anti-bisa, jika tersedia," tegasnya.
Terkait habitat ular weling, Prof Mirza mengungkapkan bahwa ular ini dapat ditemukan di berbagai tempat seperti hutan, semak, area pertanian, dan bahkan mendekati permukiman. Ular ini aktif di malam hari dan sering berada di tempat lembap seperti selokan, pekarangan, atau tumpukan kayu.
Jika menemukan ular Weling di sekitar rumah, ia mengingatkan agar tidak panik dan tidak mencoba menangkap atau membunuhnya sendiri. "Jauhkan anak-anak dan hewan peliharaan dari lokasi ular, dan amankan jalur keluar jika memungkinkan," ujarnya.
Ia menyarankan untuk segera menghubungi petugas pemadam kebakaran, komunitas penyelamat satwa, atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk evakuasi. “Tutup celah masuk rumah dan bersihkan area yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular secara rutin,” pungkasnya.
Diberitakan, Rafa bocah asal Desa Bukur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, sudah dua pekan lebih koma di RSI Pekajangan usai digigit ular weling.
Sekda Kabupaten Pekalongan, M Yulian Akbar, telah menyampaikan ke RSUD Kajen untuk tetap mendampingi pasien dan keluarga pasien, meskipun saat ini pasien dirawat di beda rumah sakit.
"Saya sudah sampaikan, kita lakukan pendampingan ke warga kita yang kena itu. Penyediaan obat antivenom, juga kita upayakan sampai ke beberapa rumah sakit sampai ke Jawa Barat, Bandung kita ambil," ujarnya. *