Ini Alasan Konflik Iran-Israel Berdampak bagi Indonesia
Jika kita bicara perang antara Israel dan Iran, mungkin yang terpikir dari kita, "lokasi perangnya jauh dari kita, pasti aman dong?". Betul sekali, memang jika dilihat secara geografis, letak Indonesia berjarak ribuan kilometer dari pusat perang di Timur Tengah.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh:
Ajeng Rismaya
Jakarta, INDONEWS.ID - Jika kita bicara perang antara Israel dan Iran, mungkin yang terpikir dari kita, "lokasi perangnya jauh dari kita, pasti aman dong?". Betul sekali, memang jika dilihat secara geografis, letak Indonesia berjarak ribuan kilometer dari pusat perang di Timur Tengah.
Secara militer dan pertahanan pun, letak Negara kita yang jauh dari Timur Tengah ini membuat kita merasa aman dan menjauhkan kita untuk terlibat secara langsung dalam perang tersebut, sehingga tidak mengancam kedaulatan negara kita.
Pertanyaannya, apakah jarak yang jauh ini benar-benar membuat kita aman dari dampaknya? Sayangnya belum tentu. Jika kita cermati kembali dari sisi geopolotik, adanya perang pasti memiliki dampak pada kehidupan dunia, karena saat ini dunia saling terhubung dan pastinya adanya saling membutuhkan antar negara. Perang timur tengah ini memiliki dampak secara langsung khususnya ke Negara kita, contohnya :
Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Sementara Israel memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah yang kaya akan cadangan minyak. Konflik bersenjata antara kedua negara ini dapat mengganggu pasokan minyak global, yang akan memicu naiknya harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada perekonomian Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bumi.
Dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap impor minyak, kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan beban subsidi energi pemerintah dan menekan anggaran negara. Selain itu, kenaikan harga minyak juga akan mendorong inflasi di dalam negeri, terutama pada sektor transportasi dan industri yang bergantung pada bahan bakar minyak. Hal ini dapat menurunkan daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Investor besar akan memindahkan asset mereka ke instrument investasi yang aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Hal ini dapat menyebabkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan meningkatkan biaya pinjaman luar negeri bagi Indonesia. Pelemahan nilai tukar Rupiah yang kemungkinan berlanjut sebagai imbas eskalasi perang akan meningkatkan beban utang luar negeri Indonesia dan menekan kemampuan impor. Jadi, jangan heran kalau barang-barang dari luar makin mahal.
Konflik bersenjata di kawasan ini dapat mengancam keamanan jalur perdagangan maritim dan mengganggu arus ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Jika aliran minyak mentah dari Teluk terganggu, akan memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu pasokan energi bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Artinya gangguan pasokan ini dapat memaksa perusahaan seperti Pertamina untuk mencari sumber alternatif dengan biaya yang lebih tinggi atau bahkan mengurangi aktivitas produksinya.
Selain itu, akan menyebabkan kelangkaan bahan baku dan meningkatkan biaya produksi bagi banyak industri di Indonesia yang bergantung pada impor bahan baku. Hal ini dapat menurunkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar ekspor dan menghambat pertumbuhan sektor manufaktur dalam negeri.
Kita memang tidak bisa hentikan konflik di luar sana. Tapi paling tidak, kita harus lebih sadar kalau isu luar negeri juga bisa berdampak ke kita. Bagi pemerintah, ini waktunya untuk menguatkan ketahanan energi dan ekonomi. Bagi kita sebagai warga biasa, saatnya untuk lebih bijak dalam mengatur keuangan, karena dampak ini yang akan terasa makin nyata dalam waktu dekat.
Jika kamu pikir perang itu cuma urusan militer dan politik jauh di sana, coba pikir lagi. Di dunia yang serba terhubung seperti sekarang, dampak perang yang jauh pun bisa terasa dekat.