Manusia Rp2.300 Triliun Larang Anak Muda Pilih Jurusan IT, Ini Alasannya
CEO Nvidia, Jensen Huang, mengejutkan publik dengan pernyataannya yang tidak menyarankan anak muda untuk memilih jurusan teknologi informasi (IT) di bangku kuliah. Menurutnya, di era perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin kompleks, bidang ilmu fisika justru lebih relevan untuk masa depan.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – CEO Nvidia, Jensen Huang, mengejutkan publik dengan pernyataannya yang tidak menyarankan anak muda untuk memilih jurusan teknologi informasi (IT) di bangku kuliah. Menurutnya, di era perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin kompleks, bidang ilmu fisika justru lebih relevan untuk masa depan.
Dalam wawancara yang dilansir dari CNBC, Kamis (17/7), Huang mengatakan bahwa jika dirinya saat ini berusia 22 tahun dan baru lulus kuliah, ia akan memilih fisika daripada perangkat lunak. “Untuk Jensen yang masih muda, dia mungkin akan lebih memilih ilmu fisika daripada ilmu perangkat lunak,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan pandangan Huang terhadap arah perkembangan teknologi global. Menurutnya, dunia telah memasuki fase baru dalam evolusi AI. Setelah fase Perception AI dan Generative AI, saat ini manusia berada di era Reasoning AI, di mana AI mampu memahami, menghasilkan solusi, dan mengenali pola yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
Namun, menurut Huang, masa depan AI berada di ranah yang lebih dalam: Physical AI. Jenis AI ini menuntut pemahaman tentang hukum fisika, gesekan, kelembaman, hingga sebab-akibat. Ini adalah dasar dari pengembangan robotika canggih yang dapat berfungsi layaknya tenaga kerja manusia.
“Ketika Anda mengambil AI fisik dan memasukkannya ke dalam objek fisik yang disebut robot, maka Anda akan mendapatkan robotika,” ujar pria yang kekayaannya mencapai US$148,1 miliar atau sekitar Rp2.399 triliun tersebut.
Sebagai pemimpin Nvidia, perusahaan pembuat chip yang baru-baru ini mencapai kapitalisasi pasar sebesar US$4 triliun, Huang melihat Physical AI dan robotika sebagai solusi untuk krisis tenaga kerja global. Ia optimistis dalam 10 tahun ke depan, pabrik-pabrik baru akan sangat mengandalkan teknologi robotik untuk mendukung produktivitas.