Seni Senang yang Senang Seni
Oret-oretan kecil ini sekedar menyambung refleksi dari saudara kita, Dr. Don Boco Doho pasca perhelatan akbar masyarakat diaspora Manggarai se-Jabodetabek kemarin, Sabtu (2 Agustus 2025). Refleksi ini menarik karena sedikit banyak membantu memperluas khazanah pemahaman kita mengenai makna tersembunyi di balik lagu Seni Senang.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh: Gaudensius Suhardi*)
Jakarta, INDONEWS.ID - Oret-oretan kecil ini sekedar menyambung refleksi dari saudara kita, Dr. Don Boco Doho pasca perhelatan akbar masyarakat diaspora Manggarai se-Jabodetabek kemarin, Sabtu (2 Agustus 2025). Refleksi ini menarik karena sedikit banyak membantu memperluas khazanah pemahaman kita mengenai makna tersembunyi di balik lagu Seni Senang.
Namun sebelumnya, kita patut angkat jempol kepada para inisiator, para panitia dan tentu Kraeng Ketum IKAMADA bersama badan pengurus yang telah bertumpus lumus dalam menyelenggarakan acara sebesar ini. Meskipun saya hanya menyaksikan acara ini cuma via tiktok dan WA yang di-share, acara ini terbilang sukses.
Burung Musim dalam Rantau
Mungkin kita pernah mendengar kisah tentang burung musim, yaitu sekelompok burung yang terbang jauh melintasi pulau bahkan benua. Mereka bermigrasi ketika terjadi perubahan iklim yang ekstrim di tempat asal mereka atau persediaan makanan nyaris habis.
Ketika musim kembali normal, burung² itu kembali ke habitat asalnya. Namun sayang, tidak semuanya berhasil atau mau pulang kembali. Ada sebagian telah mati, dan sebagiannya lagi enggan berbalik entah karena tempat baru telah menjadi `surga` atau mungkin juga burung² itu telah menjadi burung blasteran.
Kisah burung musim mungkin juga menjadi kisah kehidupan kita ketika kita merantau jauh meninggalkan natas bate labar agu beo bate elor. Hanya bedanya - mudah²an demikian - kalau burung musim bermigrasi lebih karena digerakkan oleh insting untuk bertahan hidup, maka migrasi pada level human (manusia/kita) lebih karena terdorong oleh keinginan untuk mencari penghidupan yang lebih baik yg dimotori oleh akal dan kemauan untuk berubah.
Akan tetapi bermigrasi atau merantau itu bukan tanpa risiko. Hal yang pasti bahwa berjarak dengan tanah leluhur itu melahirkan universalitas yang melintasi geografis, budaya dan sosial. Dalam kondisi demikian kita pasti merasa teralienasi. Bisa saja antara nasi kaget (teko) dan pizza hut atau antara kopi tuk dan Starbuck terbentang ketidakpedulian tuju. Kiranya dengan adanya perhelatan seni kemarin itu setidaknya mengobati rasa keterasingan itu antara tanah rantau dan kampung halaman biar runing kaka ngkiong masih akrab di telinga kita.
Tentu belum terhapus dari ingatan kita pesan orang tua ketika untuk pertama kali kita tinggalkan kampung halaman: "Neka oke kuni agu kalo". Makna petuah ini pasti kita tahu. Terselip pesan bahwa ketika kita berada di tanah rantau kita harus tetap merawat dan menghayati nilai-nilai luhur budaya Manggarai.
Maka menjadi menarik tentunya bila kita merefleksi atau melihat kembali dari sebuah jarak makna petuah itu, apa yang menjadi ethico mythical nucleus atau inti atom dari budaya kita. Hemat saya, inilah yang perlu kita gali sekarang dan ke depan ketika berhadapan dengan perkembangan modern atau pasca modern sekarang ini.
Menuju Pasca Manggarai
Kita tengah beralih dan pasti akan terus beralih. Kita beralih atau merantau tidak hanya beralih secara geografis tetapi juga beralih dalam pengertian kultural. Meminjam istilah Rm. Mangun, kita sedang ber-pasca, bersesudah. Sesudah yang dimaksudkan disini bukan sesudah yang sekuensial melainkan sesudah yang kontinual. Artinya ada kesinambungan yang kreatif dan produktif dari yang kemarin, kini dan ke depan.
Seperti seorang sarjana S1 yang naik ke jenjang S2 atau S3 tidak berarti S1-nya ditinggalkan tetapi justru isi atau bobot kesarjanaannya semakin bernas.
Hal yang sama juga berlaku untuk warga Manggarai diaspora entah sebagai individu maupun kelompok. Kita harus ber-pasca. Spirit pasca ini mesti menjadi daya dorong untuk berubah. Pasca Manggarai bukan berarti nilai² budaya Manggarai ditinggalkan tetapi nilai kemanggaraian itu diperkaya dan diperluas dengan value-value baru.
Demikian sedikit oretan ini yang mungkin tidak terlalu penting untuk dibaca ulang. Mari kita beralih bersama dari Seni Senang menuju Senang Seni: seni dalam bertutur dan bertindak, seni dalam kemauan untuk berubah dan seni meraih hari esok yang lebih baik.
Kiranya pentas seni dan padir wa`i agu rentu sa`i yang baru saja dihelat kemarin itu tidak sekedar menjadi sebuah romantisme budaya belaka, tetapi harus melahirkan daya gigit dan daya gugah ke depan, agar acara ini juga tidak sekedar menunjukkan kita ada tetapi kita ada untuk terus menjadi.
Thanks buat semua, dan sukses untuk para pengurus IKAMADA ke depan.
*) Gaudensius Suhardi adalah Direktur Pemberitaan Media Indonesia