indonews

indonews.id

Pikiran Juga Perlu Diet

Pikiran Juga Perlu Diet

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Penulis: Katon Kanigara

Kalau kalian sering ngerasa hidup jalan di tempat, mungkin masalahnya bukan di nasib, tapi di kepala.

 Nah, buku ini ngomonginnya pas banget soal itu: gimana cara kita ngatur pikiran supaya nggak jadi penghalang, tapi justru mesin yang dorong pertumbuhan.

Mungkin karena itu Gramedia merekomendasikan buku ini, bersama 5 buku lainnya sebagai Bacaan Special di Hari Kemerdekaan Indonesia. 

Unlock yang  dilaunching pekan lalu di Gramedia Blok M ditulis oleh Karisha Alifputri—seorang anak muda, pinter, pernah kuliah di Harvard, pernah juga ikut Puteri Indonesia. Jadi, udah kebayang kan, ini bukan buku hanya motivasi yang isinya cuma “ayo bangun pagi, kerja keras, sukses akan datang.” Yang ini lebih serius, tapi tetap bisa dibaca santai.

Tentang Penulis
Karisha lahir tahun 1996. Lulusan UPH, sempat belajar di Harvard, aktif sebagai public speaker. Tahun 2020, dia bikin Grow with Books, sebuah gerakan buat literasi. Lalu 2023, dia juga ikut Puteri Indonesia mewakili DKI 3.

 Jadi bisa dibilang dia bukan cuma cantik, tapi juga cerdas dan peduli sosial.
---
Bab 1 – Mengubah Dunia Dimulai dari Pikiran
Di sini penulis langsung nancep: dunia nggak akan berubah kalau pikiran kita masih sama aja.
Pikiran itu pondasi. Kalau pondasinya retak, jangan harap bangunannya kuat.
Ada dua kubu: fixed mindset (yang mikir “saya segini aja kemampuan saya”) lawan growth mindset (yang mikir “saya bisa belajar lebih”).
Neurosains ikut nongol: otak itu lentur, bisa dilatih.
Ditambah contoh tokoh sukses biar kebayang.
Saya baca bagian ini sambil mikir, “wah, ternyata overthinking saya selama ini lebih sibuk sama masalah daripada nyari solusi.”

Bab 2 – Kekuatan Kata-Kata
Di sini, Karisha ngajak kita sadar bahwa kata-kata bisa jadi pupuk atau racun.
Inner talk alias obrolan di kepala itu penting. Kalau tiap hari ngomong ke diri sendiri, “saya gagal,” ya lama-lama jadi kenyataan
Kata-kata positif bisa jadi alat buat self-love.
Ada tips gimana ngomong ke diri sendiri seolah-olah kita ngomong ke orang yang kita sayang.
Afirmasi positif juga dibahas—ternyata bukan sekadar kalimat manis, tapi bisa beneran berpengaruh ke otak.

Menurut saya, ini bagian yang bikin kita refleksi: selama ini kita ngomong ke diri sendiri lebih sering nyebelin atau menyemangati?

Bab 3 – Pikiran adalah Energi
Nah, bab ini agak filosofis, tapi menarik.
Pikiran dianggap punya frekuensi. Kalau positif, narik hal positif.  Pikiran sadar vs bawah sadar dijelasin, dan ternyata yang bawah sadar sering lebih dominan. Ada teori skala energi dari Dr. David R. Hawkins. Intinya, vibe kalian itu bakal kebaca dari pikiran dan emosi.
Saya jadi ngerasa, jangan-jangan alasan kenapa hidup saya sering lemot bukan karena HP jadul, tapi karena sinyal pikiran saya kayak sinyal Wi-Fi Bandara Halim 

Bab 4 – Bertransformasi Menjadi Growth Mindset
Bagian ini paling praktis, kayak dikasih panduan.
Perubahan dimulai dari tekad, bukan cuma wacana.

 Journaling alias nulis catatan jadi salah satu cara buat refleksi. Belief system juga disorot: kalau sistem kepercayaan kalian masih kecil, ya hasilnya bakal kecil. 

Ada ajakan buat reframe your thinking: ngeliat masalah bukan sebagai musibah, tapi peluang belajar.

Menurut saya, ini bab yang bikin pembaca merasa “oke, saya bisa mulai sekarang juga.”

Bab 5 – Membangun Bangsa dengan Growth Mindset Penutupnya naik kelas: dari diri sendiri ke bangsa. Ada mental diet, yaitu jaga asupan pikiran kayak kita jaga makanan. Ada juga 21 hari habit tracking buat nempelkan kebiasaan baru. Pesannya: jangan cuma fokus ke tujuan akhir, tapi juga rayakan prosesnya.

Semua itu ditarik ke visi besar Indonesia Emas 2045.
Saya sih suka bagian ini, walau agak idealis, tapi cukup keren juga. Karena kalau mindset berkembang bisa nyebar ke banyak orang, bayangin aja efek dominonya untuk bangsa.

Penutup
Buku ini ngajarin saya tiga hal sederhana tapi dalem:
1. Pikiran adalah pondasi.
2. Kata-kata adalah senjata.
3. Energi & kebiasaan adalah mesin pertumbuhan.

Jadi menurut saya, buku *Unclock Your Growth Mindset* cocok banget buat anak-anak Muda, Ini bukan buku motivasi klise yang cuma bilang “ayo semangat!”, tapi lebih peta jalan buat berubah.

Bukunya sangat enak untuk dibaca, pepaduan antara Font ditambah dengan visual yang membuat pembaca betah untuk membacanya. 

Namun disisi lain buku ini mungkin akan lebih cocok untuk generasi muda yang secara struktur ekonomi berada di kelas menengah atas hingga kelas atas.

Bisa jadi akan sulit related dengan kalangan menengah hingga bawah. Pemilihan bahasa dan kedekatan buku ini menurut saya agak kurang bisa menyentuh untuk sisi yang bawah, Karena bahasa yang dipakai menurut saya agak terlalu akademis.

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas