indonews

indonews.id

Ribuan Gen Z Nepal Marah Soal Korupsi dan Larangan Media Sosial, Bawa Simbol One Piece

Ribuan generasi muda Nepal, terutama dari kalangan Gen Z, turun ke jalan di ibu kota Kathmandu pada Selasa (9/9/2025) untuk memprotes kebijakan pemerintah yang melarang akses media sosial serta menuntut pemberantasan korupsi.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Ribuan generasi muda Nepal, terutama dari kalangan Gen Z, turun ke jalan di ibu kota Kathmandu pada Selasa (9/9/2025) untuk memprotes kebijakan pemerintah yang melarang akses media sosial serta menuntut pemberantasan korupsi.

Para penyelenggara aksi menyebut gelombang demonstrasi ini sebagai “Protes Gen Z”, mencerminkan frustrasi anak muda terhadap kurangnya langkah pemerintah dalam mengatasi korupsi dan membuka peluang ekonomi. Larangan penggunaan media sosial pekan lalu—termasuk terhadap Facebook, Instagram, hingga YouTube—justru semakin memicu kemarahan publik muda.

Pemerintah berdalih, pemblokiran dilakukan karena platform-platform tersebut belum mendaftar sesuai regulasi, sekaligus sebagai upaya menekan hoaks dan ujaran kebencian.

Dalam aksinya, demonstran membawa bendera Nepal serta beragam plakat dengan tuntutan protes. Menariknya, banyak dari mereka juga mengangkat poster bergambar karakter One Piece, manga populer Jepang karya Eiichiro Oda, yang kisahnya mengangkat perlawanan terhadap pemerintahan otoriter bernama “World Government”. Beberapa slogan yang terpampang di poster bertuliskan “#WakeUpNepal Gen Z Won’t Be Silent” dan “#WakeUpNepal Stop Corrupt Start Act”.

Situasi memanas ketika ribuan massa berusaha menerobos kawat berduri dan blokade polisi untuk mendekati gedung parlemen. Aparat menanggapi dengan tembakan gas air mata, water canon, hingga peluru karet. Bentrokan tersebut berujung tragis dengan sedikitnya 19 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka.

Perdana Menteri Nepal K.P. Sharma Oli menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya korban jiwa. “Akibat infiltrasi dari berbagai pihak yang egois,” ucapnya, seraya menjanjikan santunan bagi keluarga korban serta perawatan gratis bagi yang terluka.

Oli juga memastikan pemerintah membentuk panel investigasi yang diberi waktu 15 hari untuk menelusuri penyebab tragedi, menilai kerugian, dan merumuskan langkah pencegahan agar insiden serupa tidak terulang.

Sementara itu, otoritas memberlakukan jam malam di sejumlah titik di Kathmandu untuk meredam gejolak lanjutan. “Tidak ada protes, pertemuan massa, rapat, atau perkumpulan orang yang diizinkan selama jam malam,” tegas Administrator Distrik Kathmandu, Chhabilal Rijal.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas