Keracunan Makanan MBG, Prof Tjandra: Ini Tiga Kemungkinan yang Terjadi
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, setidaknya ada tiga kemungkinan terjadinya keracunan dan harus dievaluasi mendalam.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID – Laporan keracunan makanan dalam program Makan Berigizi Gratis (MBG) masih terus terjadi.
Sehubungan dengan laporan tersebut, Istana juga ikut memberi perhatian.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, setidaknya ada tiga kemungkinan terjadinya keracunan dan harus dievaluasi mendalam.
Pertama, harus dipastikan bahwa proses memasak makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus terjamin 3 hal yaitu kebersihan berbagai alat dan persiapannya, proses masak yang baik dan benar serta pengemasanan.
”Tetapi harus diingat bahwa masalah bukan hanya dan belum tentu juga ada di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), masih ada kemungkinan titik kritis lain,” kata Prof Tjandra.
Kedua - dan juga amat penting- adalah kebersihan, kesegaran dan kesehatan bahan pangan awalnya, baik tanaman atau hewan.
Prof Tjandra mengatakan, kalau tinggi kadar insektisidanya, atau hewan yang dipotong dari kandang yang banyak hewan sakit, atau ada berbagai kontaminasi lainnya maka tentu bisa saja makanan yang tersaji lalu jadi tidak sehat dan bukan tidak mungkin terjadi keracunan.
Tentu ini tergantung dari jenis dan seberapa besar pencemarannya serta bagaimana pengolahan makanan selanjutnya.
Hal ketiga adalah transportasi dan penyimpanan bahannya.
Berita di media tentang feri yang terlambat atau jalan yang rusak berat sehingga truk pembawa bahan pangan harus menunggu ber jam-jam atau ber hari-hari misalnya, tentu punya dampak bagi bahan pangan.
Begitu juga kalau gudang penyimpanan tidak memenuhi syarat (ventilasi, kelembaban suhu dll.) maka juga akan punya dampak terhadap hasil akhir produk makanan yang dikonsumsi.
Tegasnya memang ada beberapa alur proses yang harus dievaluasi secara mendalam. ”Dengan keracunan makanan yang sudah sampai ribuan ini maka analisa mendalam pada setiap kejadian tentu dapat menjadi acuan tentang apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, yang harus diperbaiki agar jangan sampai terjadi lagi,” ujar penerima Rekor MURI April 2024, Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025 bidang Kesehatan ini. *