indonews

indonews.id

Teladan Opera 2025: Ketika Panggung Jadi Ruang Belajar Hidup

Gedung Kesenian Jakarta penuh sesak pada Sabtu malam, 27 September 2025. Semua kursi terisi, dari barisan depan hingga balkon.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Gedung Kesenian Jakarta penuh sesak pada Sabtu malam, 27 September 2025. Semua kursi terisi, dari barisan depan hingga balkon.

Orang tua, alumni, dan siswa Sekolah Menengah Negeri (SMN) 3 Teladan Jakarta—atau yang lebih dikenal sebagai SMA Teladan—datang untuk satu alasan: menyaksikan Teladan Opera 2025 bertajuk AMETS SENFINA.

Opera ini bukan sekadar pertunjukan sekolah. Ia sudah menjelma menjadi tradisi kreatif yang ditunggu setiap tahun. Dengan menggabungkan seni peran, musik, dan tari, para siswa menghadirkan kisah anak SMA yang sarat dinamika: cinta segitiga, konflik batin, hingga resolusi penuh makna.

“Ini tahun ketiga Teladan Opera digelar. Ini ceritanya anak SMA banget,” kata Kinanthi Kezia Wisnu Wibowo, co-producer Teladan Opera 2025. “Kami ingin cerita yang dekat dengan keseharian remaja, tapi tetap inspiratif.”

Kehadiran sejumlah tokoh turut memberi warna. Salah satunya Pemimpin Redaksi Indonews.id, Drs. Asri Hadi, MA, yang juga alumnus SMA Teladan. Dukungan alumni terasa kuat, menunjukkan ikatan emosional yang panjang antara sekolah dan para lulusannya.

Bagi orang tua, pentas ini lebih dari sekadar hiburan. Agus Sandi, salah satu perwakilan orang tua murid, menilai kegiatan ini penting untuk melatih keberanian, disiplin, dan kreativitas siswa di luar kegiatan akademis.

“Ini sudah kali ketiga Teladan Opera digelar. Anak-anak mengerjakannya sendiri dari produksi sampai pertunjukan. Itu luar biasa,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari kalangan sponsor. Zainal Arifin, Managing Director PT LTE, menekankan nilai positif kegiatan semacam ini.

“Anak-anak Teladan memilih mengekspresikan diri lewat opera. Ini bekal berharga, karena keterampilan yang mereka pelajari di sini bisa berguna saat memasuki dunia kerja,” katanya.

Ruth Yanti Sinaga, guru dan salah satu pembimbing Teladan Opera 2025 menambahkan seluruh cerita, naskah hingga pemeran semuanya merupakan murid Teladan yang dipilih dari masing-masing jenjang.

"Mereka yang siapkan semuanya, termasuk naskah. Tantangan terbesar selama proses latihan adalah terkait pembagian waktu. Para murid ini tetap harus mengikuti KBM seperti murid lainnya. Namun mereka sangat total, bahkan menjelang pementasan, mereka latihan sampai jam 10 malam," tutur Ruth.

Bagi SMA Teladan, Teladan Opera 2025 adalah wujud komitmen untuk menjaga seni pertunjukan tetap hidup di tengah arus zaman. “Opera di tingkat SMA negeri itu langka,” tambah Kinanthi.

Justru di situlah letak kebanggaan: para siswa berani melawan arus, memilih jalur yang lebih menantang, dan menawarkannya dengan totalitas.

Malam itu, AMETS SENFINA berakhir dengan tepuk tangan panjang. Para pemain berdiri berjajar, wajah mereka berseri-seri, menahan haru. Dari atas panggung, mereka bukan sekadar siswa Teladan—mereka adalah seniman muda yang sedang belajar arti kerja kolektif, dedikasi, dan kebanggaan.

Teladan Opera 2025 pun meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai pentas seni, tetapi juga sebagai ruang belajar kehidupan yang nyata.*

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas