indonews

indonews.id

Berani Tantang Dunia, Netanhayu: Yang Lawan Israel Hari Ini Akan Hilang Besok

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tampil dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat, 26 September 2025, dengan nada penuh tantangan. Dalam pidato tahunan itu, ia mengecam para pengkritik Israel yang disebutnya “lemah” serta bersumpah akan melanjutkan perang hingga musuh-musuh Israel “lenyap dari muka bumi.”

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tampil dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat, 26 September 2025, dengan nada penuh tantangan. Dalam pidato tahunan itu, ia mengecam para pengkritik Israel yang disebutnya “lemah” serta bersumpah akan melanjutkan perang hingga musuh-musuh Israel “lenyap dari muka bumi.”

“Banyak dari mereka yang berperang melawan Israel hari ini akan hilang besok,” ucap Netanyahu di podium megah PBB.

Alih-alih mendapat tepuk tangan, pernyataan tersebut justru memicu aksi keluar puluhan diplomat dari ruang sidang. Suasana kian panas ketika sebagian hadirin bersorak dan bertepuk tangan dari balkon atas, menimbulkan kontras tajam di tengah forum dunia itu.

Pidato Netanyahu berlangsung di tengah menguatnya dukungan internasional terhadap Palestina. Sejumlah negara besar Barat, termasuk Prancis, Inggris, dan Kanada, telah resmi mengakui Palestina dan mendesak Israel menghentikan operasi militernya di Gaza. Serangan yang terus berlanjut membuat sistem kesehatan di wilayah itu lumpuh dan memaksa ribuan warga sipil mengungsi.

Namun Netanyahu menolak tekanan tersebut. Ia menyebut “sisa-sisa Hamas bersembunyi di Gaza City” dan menegaskan Israel harus menuntaskan operasi militer. Ia juga menggambarkan negaranya tengah menghadapi “perang tujuh front” melawan Iran, Yaman, Lebanon, hingga Gaza, sembari menonjolkan capaian militer Israel.

Kantor Netanyahu bahkan mengklaim pidatonya disiarkan melalui pengeras suara di sepanjang perbatasan Gaza dan jaringan telekomunikasi wilayah itu, agar warga Palestina mendengarnya langsung. Klaim itu dibantah oleh warga Gaza yang diwawancarai media internasional. “Pidato lewat pengeras suara di atas tank hanyalah bukti sadisme,” kata pejabat Hamas, Taher al-Nunu.

Sepanjang pidatonya, Netanyahu menuding kritik Barat dan media internasional terhadap tingginya korban sipil serta ancaman kelaparan di Gaza sebagai “fitnah penuh kebencian” yang digerakkan oleh antisemitisme. Ia juga menegaskan, Israel tak akan pernah menerima berdirinya negara Palestina. “Israel tidak akan membiarkan kalian memaksakan negara teror di tenggorokan kami,” katanya.

Namun pemandangan di aula PBB berbicara lain. Lebih dari seratus diplomat meninggalkan ruang sidang, menyisakan kursi-kursi kosong sebagai simbol protes global.

Jeremy Ben-Ami, Presiden kelompok pro-Israel liberal J Street di Amerika Serikat, menilai walkout massal itu mencerminkan keterasingan Netanyahu. “Kehampaan aula adalah simbol memalukan dari isolasi yang ia ciptakan untuk dirinya dan Israel. Retorika perang tanpa akhir yang ia sampaikan sama sekali tidak menunjukkan empati terhadap penderitaan Gaza,” ujarnya.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas