indonews

indonews.id

PM Israel Netanyahu Minta Maaf ke Qatar Usai Serangan Mematikan ke Negara Itu

 Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, atas serangan rudal yang menghantam para pimpinan Hamas di Qatar pada awal September lalu.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, atas serangan rudal yang menghantam para pimpinan Hamas di Qatar pada awal September lalu.

Permintaan maaf itu disampaikan Netanyahu melalui sambungan telepon dari Gedung Putih Amerika Serikat, Senin (29/9), bertepatan dengan pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump untuk membahas upaya gencatan senjata di Gaza.

“Sebagai langkah awal, Perdana Menteri Netanyahu menyampaikan penyesalannya yang mendalam bahwa serangan rudal Israel terhadap target Hamas di Qatar secara tidak sengaja menewaskan seorang prajurit Qatar,” demikian pernyataan resmi Gedung Putih yang dikutip dari AFP.

Dalam pernyataan tersebut, Gedung Putih juga menegaskan bahwa Netanyahu menyesali pelanggaran kedaulatan Qatar, ketika Israel menargetkan pimpinan Hamas saat negosiasi pembebasan sandera berlangsung. “Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan melakukan serangan serupa lagi di masa mendatang,” lanjut keterangan itu.

Hingga kini, Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan langsung. Namun Netanyahu dijadwalkan menggelar konferensi pers bersama Presiden Trump dalam waktu dekat.

Dalam pembicaraan telepon dengan Sheikh Mohammed, kedua pihak dilaporkan sepakat membentuk kelompok kerja tiga pihak yang melibatkan Israel, Qatar, dan AS. Tujuannya adalah memperkuat komunikasi dan koordinasi regional. “Kelompok ini dibentuk untuk menyelesaikan keluhan bersama serta memperkuat upaya kolektif dalam mencegah ancaman di kawasan,” ujar Gedung Putih.

Netanyahu sebelumnya dikenal keras terhadap Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan udara terbesar AS di Teluk, dan sering menuduh Doha memberi ruang gerak bagi Hamas. Namun sejumlah pengamat menyebut keberadaan Hamas di Qatar justru berlangsung atas kesepakatan tidak tertulis dengan Israel, agar pergerakan kelompok itu dapat diawasi lebih mudah dibandingkan jika mereka beroperasi dari Iran.

Kendati begitu, Netanyahu menegaskan bahwa dinamika berubah sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, Israel memperluas operasinya dengan melancarkan serangan ke berbagai target di Iran, Suriah, Lebanon, hingga Yaman.

Sementara itu, Presiden Trump disebut kurang senang dengan langkah Israel menyerang Qatar. Hubungan antara Washington dan Doha sendiri terbilang erat, terlebih setelah Qatar memberikan hadiah berupa pesawat mewah kepada Trump pada periode sebelumnya.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas