Viral "Batik Raksasa" di Langit Riau! Ternyata Bukan Kain, tapi Bukaan Sawit Seluas Empat Kali GBK
Sebuah video berdurasi 20 detik yang diunggah ke media sosial X (Twitter) oleh akun @AidaGreenbury mendadak viral. Dalam video itu, tampak lansekap tanah luas berwarna cokelat dengan pola menyerupai kain batik raksasa, dilihat dari jendela pesawat yang terbang dari Pekanbaru.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Sebuah video berdurasi 20 detik yang diunggah ke media sosial X (Twitter) oleh akun @AidaGreenbury mendadak viral. Dalam video itu, tampak lansekap tanah luas berwarna cokelat dengan pola menyerupai kain batik raksasa, dilihat dari jendela pesawat yang terbang dari Pekanbaru.
“Terbang dari Pekanbaru, tiba-tiba lihat batik raksasa,” tulis keterangan dalam video tersebut. Sang pengunggah bahkan mengaitkannya dengan Hari Batik Nasional yang baru saja diperingati pada 2 Oktober 2025. “Mentang-mentang kemarin Hari Batik, ini bikin batik sebesar pulau?!” tulisnya disertai komentar lain, “Eh ini mah tanah diukir-ukir.”
Tayangan itu menampilkan pola-pola garis besar di tanah yang ternyata bukan karya seni, melainkan kontur lantai hutan yang terbuka dan penuh jalur akses alat berat.
Video yang diunggah pada Selasa, 7 Oktober 2025 itu memicu beragam reaksi. Banyak warganet yang mengungkapkan keprihatinan terhadap hilangnya hutan Riau, yang selama ini menjadi rumah bagi satwa langka seperti harimau sumatra. Tak sedikit pula yang mengecam pemerintah atas lemahnya pengawasan terhadap aktivitas perkebunan.
Namun, sebagian pengguna X lain menjelaskan bahwa pola itu bukan “batik,” melainkan area perkebunan sawit yang tengah diremajakan (replanting).
Penjelasan itu dibenarkan oleh Koordinator Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau), Okto Yugo Setiyo. Ia mengungkap, lokasi dalam video berada di Desa Kerinci Kanan dan Meredan, Kabupaten Siak, Riau.
“Lansekap itu merupakan bagian dari kegiatan replanting atau peremajaan perkebunan sawit seluas lebih dari empat kali kompleks Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta,” kata Okto dikutip Tempo, Kamis (9/10/2025).
Menurut analisis citra satelit Mosaic API Planet, hingga Maret 2025, kawasan tersebut masih berupa tegakan sawit. Namun, sejak April 2025, proses pembukaan lahan dimulai, dan pada September 2025, area terbuka telah mencapai sekitar 1.216 hektare.
“Lokasi ini berada dalam konsesi tiga perusahaan dan termasuk areal penggunaan lain (APL),” jelas Okto. Ia menegaskan, otoritas terkait seperti Dinas Perkebunan Kabupaten Siak dan Provinsi Riau harus memberi penjelasan karena setiap pemegang Hak Guna Usaha (HGU) berkewajiban menjaga dan mempertahankan area konservasi bernilai tinggi, termasuk sempadan sungai dan kawasan lindung.
Menurut catatan Jikalahari, lebih dari 3,5 juta hektare hutan di Riau telah berubah menjadi kebun sawit. Selain mengancam keanekaragaman hayati, kondisi ini juga meningkatkan risiko banjir dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
“Belum lagi kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang juga terus menekan keberadaan hutan alam,” tutup Okto.