Dopamin, tak Selamanya yang Instan Buruk
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Kebahagian itu distimulus oleh suatu hormon yaitu dopamin zat neurotransmiter yang mengantarkan pesan antarsel syaraf. Hormon itu menjadi judul film produksi Starvision yang mengangkat kisah pasangan muda ketiban rejeki di tengah kesulitan hidup tapi rejeki itu juga membuahkan petaka. Seperti kita bila memicu hormon kebahagian dengan sesuatu yang terlarang.
Film garapan Teddy Soeria Atmadja menggelar pemutaran perdana di XXI Epicentrum, Jakarta, menghadirkan produser Chand Parwes Servia dan Mithu Nizar serta sejumlah pemain, Anjasmara, Angga Yunanda, dan Shenina Cinnamon.
Memang tak salah Jakarta Film.Week memutuskan Dopamin sebagai penutup festival, temanya sederhana namun digarap serius hingga menghasilkan tontonan bagus. Film diawali pertengkaran kecil pasangan muda karena himpitan ekonomi. Setahun sudah pasangan itu berumahtangga namun suaminya (Angga Yunanda) belum juga memperoleh pekerjaan, membuat isterinya (Shenina Cinnamon) uring-uringan.
Keesokan hari sang suami mendatangi perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara, namun ia ditolak karena tak memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Lalu ia pergi mendatangi kawannya untuk berdiskusi sekaligus meminjam uang. Kawannya memberikan secara cuma-cuma dengan syarat ia harus pergi ke suatu tempat menggadai jam mewahnya dan cincin pernikahan, bila perlu menjual mobilnya.
Usai menggadai jam dan cincin, ia bergegas pulang namun hujan turun lebat ditengah perjalanan bannya pecah, terpaksa ia menepi. Saat mencoba mengganti ban datang mobil, si pengemudi (Anjasmara) menawarkan tumpangan dengan mankuti mengganti ban di saat hujan lebat itu bahaya.
Sampailah mereka di rumah pasangan muda itu, si supir diketahui bernama Eka, karena hujan masih lebat ia pun mau menerima tawaran pasangan itu mampir meneguk secangkir teh hangat. Ketika pamit mobilnya tak bisa dihidupkan, lalu ditawari menumpang semalam di sana. Si isteri protes karena bingung tak ada bahan makanan hanya ada mie instan (sajian favorit anak kost di pengujung bulan).
Ternyata Eka ini seorang pemakai narkoba, usai menikmati sepiring mie instan goreng ia menikmati selinting ganja di luar rumah. Saat si suami berniat menemani Eka, kaget melihat apa yang dihisap tamunya. Eka pun bermalam di sana, saat pagi hari si isteri mengetuk-etuk tapi Eka tak juga bangun, ia beritahu suaminya hal itu. Hingga tengah hari Eka tak juga bangun, lalu pasangan itu sepakat mendobrak pintu.
Mereka kaget, Eka sudah terkapar dengan suntikan menancap di nadi lenganya, ia tewas karena overdosis dan di sisinya ada koper terbuka isinya gepokan uang. Melhat itu keduanya bingung, lapor polisi atau bagaimana, bila lapor kwatir semua diperiksa termasuk uang sekoper yang mereka butuhkan saat itu.
Karena uang itu, mereka memutuskan mengubur sendiri mayat Eka dan menggunakan rejeki tak terduga untuk kebutuhan mereka. Kala isterinya membelanjakan uang itu, ia ditegur seseorang karena menghabiskan banyak uang tunai. Ternyata ia adalah suruhan pemilik uang yang dicuri Eka.
Uang itu mengubah hidup mereka, segalanya bisa diatasi termasuk tunggakan uang kontrakan selama 3 bulan, bahan makan tak lagi hanya mie instan tapi semua ada yang mereka inginkan, sampai televisi pun diganti, permintaan isterinya sejak lama. Disisi lain mereka juga nyawa mereka juga terancam, isterinya dianiaya oleh suruhan pemilik uang dan disandera agar si suami mengembalikan uang itu.
Alur ceritanya sederhana dan tak berputar-putar, satu tahap ke tahap berikutnya disajikan halus tanpa memaksa penonton berpikir, hanya satu yang mengganjal, informasi keberadaan pasangan itu diketahui darimana tak ada petunjuk yang mengarah ke mereka. Tapi film ini layak ditonton, tak salah jadi suguhan akhir festival film.