NASA Rilis Citra Satelit Dampak Banjir Besar di Aceh dan Sumatera Utara Usai Siklon Senyar
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis citra satelit terbaru yang menampilkan besarnya dampak banjir di Aceh dan Sumatera Utara setelah kawasan tersebut dihantam Siklon Senyar pada Jumat (5/12/2025). Fenomena ini menjadi sorotan global karena Senyar termasuk siklon tropis yang sangat jarang terbentuk di sekitar Selat Malaka.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis citra satelit terbaru yang menampilkan besarnya dampak banjir di Aceh dan Sumatera Utara setelah kawasan tersebut dihantam Siklon Senyar pada Jumat (5/12/2025). Fenomena ini menjadi sorotan global karena Senyar termasuk siklon tropis yang sangat jarang terbentuk di sekitar Selat Malaka.
Citra yang diambil pada 30 November 2025 melalui instrumen Operational Land Imager-2 (OLI-2) pada satelit Landsat 9 menunjukkan bagaimana air berlumpur menyebar luas, menenggelamkan permukiman, lahan pertanian, hingga kawasan pesisir. Lhoksukon—kota berpenduduk sekitar 40.000 jiwa—tampak dikepung banjir bersama sejumlah desa di sekitarnya.
Siklon Senyar pertama kali menarik perhatian meteorolog pada 25 November 2025 ketika depresi tropis di Selat Malaka menguat menjadi siklon. Kejadian ini dinilai sangat langka karena wilayah tersebut berada dekat garis ekuator, area yang biasanya tidak mendukung pembentukan siklon akibat lemahnya efek Coriolis.
NASA mencatat, Senyar menjadi siklon tropis kedua yang pernah tercatat terbentuk di selat tersebut.
Luapan Air dan Sedimen Terekam Jelas
Dalam rilisnya, NASA menyebutkan bahwa limpasan air berwarna cokelat kehijauan memenuhi sebagian besar wilayah Aceh Utara dan Sumatera Utara. Aliran sedimen dalam jumlah besar terlihat mengalir dari daratan menuju pesisir, menunjukkan tingginya erosi dan longsoran material dari daerah hulu.
Data curah hujan dari misi Global Precipitation Measurement (GPM) memperkirakan Senyar menjatuhkan hampir 400 milimeter hujan di wilayah Sumatra. Angka ini mencerminkan hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan tanah longsor, terutama di wilayah bergunung-gunung.
Sungai-sungai meluap cepat, membawa sedimen dan kayu gelondongan yang kemudian berubah menjadi material destruktif ketika terbawa arus deras.
Kerusakan di lapangan kian parah setelah gempa pada 27 November 2025 memperlemah struktur tanah dan meningkatkan risiko longsor. Laporan dari media lokal dan otoritas Indonesia mencatat ratusan korban jiwa serta lebih dari 700.000 warga mengungsi hingga 4 Desember 2025. Banyak wilayah juga terisolasi karena jalan dan jembatan terputus.
NASA juga mencatat bahwa pada periode yang sama, badai tropis lain serta hujan monsun di Sri Lanka, Thailand, Malaysia, dan Vietnam turut menimbulkan kerusakan luas.
Menurut perkiraan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA), lebih dari 10,8 juta penduduk terdampak dan sekitar 1,2 juta orang mengungsi akibat rangkaian banjir di Asia Selatan dan Asia Tenggara.