Liam Rosenior Jadi Pelatih Chelsea Gantikan Enzo Maresca
Panasnya persaingan paapn atas Liga Inggris berbuntut pada pecatnya Enzo Maresca sebagai pelatih Chelsea.
Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
Jakarta, INDONEWS.ID--Panasnya persaingan paapn atas Liga Inggris berbuntut pada pecatnya Enzo Maresca sebagai pelatih Chelsea.
The Blues kini ditukangi pelatih baru Liam Rosenior. Dengan merapat ke Stamford Bridge, Rosenior mengakhiri masa tugasnya di Strasbourg.
Pelatih anyar berusia 41 tahun itu menggambarkan kepindahannya ke Stamford Bridge sebagai "kehormatan".
Ia mengaku kalau tawaran itu sulit ia tolak. Adapun alasan mengapa ia menerima, pertama karena Chelsea adalah tim besar.
The memiliki daya tarik karena telah meraih trofi Piala Dunia Antarklub edisi 2025.
Alasan lain, sang pelatih merpat ke Stamford Bridge karena ingin dekat dengan keluarganya.
Pengangkatan Rosenior menandai peningkatan pesat bagi pelatih muda.
Rosenior mengungkapkan, meskipun keinginan menukangi Strasbourg masih kuat, namun panggilan dari London Barat mengubah segalanya.
Dia menegaskan, daya tarik untuk melatih klub London itu terlalu kuat untuk ditolak.
"Saya sepenuhnya fokus pada pertandingan terakhir Strasbourg, tetapi yang terjadi sejak itu adalah saya telah diberi izin - salah satu klub terbesar di dunia - yang merupakan juara Piala Dunia Antarklub," jelas Rosenior.
Ia menyampaikan bahwa tawaran untuk kembali ke Stamford Bridge merupakan satu kehormatan.
"Merupakan suatu kehormatan untuk berbicara dengan klub seperti itu dan pada hari ini tampaknya saya akan menjadi manajer klub sepakbola itu," ungkapnya.
Selanjutnya, dia membeberkan bahwa meskipun masa baktinya di Alsace sangat memuaskan, namun perpisahan dengan keluarganya di Inggris juga sangat membebaninya.
Karena itu, lanjut dia, kembali ke Chelsea merupakan perpaduan langka antara prestise profesional dan penyelesaian pribadi.
Ini memungkinkan dia bekerja di level tertinggi tanpa biaya pribadi untuk tinggal di luar negeri.
"Ini adalah kesempatan luar biasa di klub yang luar biasa, juara dunia, dan kesempatan yang tidak bisa saya tolak," ujar Rosenior.
"Dan saya bisa pulang, dan bertemu anak-anak saya. Saya telah berkorban dengan jauh dari mereka," imbuhnya.
Mengenang masa baktinya di seberang Selat Inggris, Rosenior memuji klub Prancis itu.
Ia tergolong sukses menangani klub. Namun ia menegaskan bahwa kesuksesannya adalah hasil kerja sama tim, bukan usahanya sendiri.
"Ini adalah 18 bulan terbaik dalam karier profesional saya di Strasbourg. Saya telah bertemu dengan orang-orang yang luar biasa dan semua itu tidak akan terjadi tanpa kerja keras semua orang yang terkait dengan klub ini," beber dia.
Kehadirannya di Ligue 1 telah menarik perhatian dari klub-klub elite Eropa. Ia telah membuktikan kredibilitasnya sebagai manajer papan atas.
"Bukan hanya Chelsea, saya juga diminati oleh klub-klub Liga Champions lainnya. Tetapi kesempatan ini, saya tidak bisa menolaknya," tandanya.