indonews

indonews.id

Asal Usul dan Jati Diri Orang Manggarai

Secara geografis, nama tempat bernama Manggarai hanya dua. Satu di Flores Barat NTT. Satu lagi di Manggarai Jakarta. Nama Manggarai di Flores Barat tidak hanya menunjuk tempat dalam arti geografis namun juga mengacu pada suatu komunitas etnis. Sementara, nama Manggarai di Jakarta hanya menunjuk pada nama tempat. Kedua hal ini dengan sengaja saya bedakan.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
zoom-in Asal Usul dan Jati Diri Orang Manggarai
Akademisi Asal Manggarai tinggal di Jakarta

Oleh

Dr. Philipus Ngorang*)

Jakarta, INDONEWS.ID - Secara geografis, nama tempat bernama Manggarai hanya dua. Satu di Flores Barat NTT. Satu lagi di Manggarai Jakarta. Nama Manggarai di Flores Barat tidak hanya menunjuk tempat dalam arti geografis namun juga mengacu pada suatu komunitas etnis. Sementara, nama Manggarai di Jakarta hanya menunjuk pada nama tempat. Kedua hal ini dengan sengaja saya bedakan.

Manggarai dalam arti pertama melekat pada identitas masyarakat yang menempati wilayah itu. Identitas itu diikuti oleh kesamaan bahasa yang relatif sama: bahasa Manggarai. Walaupun antara komunitas etnis Manggarai Barat, Manggarai Tengah dan Manggarai Timur memiliki masing-masing dialek yang khas. Namun perbedaan itu tidak menghilangkan identitasnya sebagai bahasa Manggarai.

Komunitas Manggarai dengan bahasa Manggarai menjadi ciri yang menonjol. Selain bahasa, adat istiadat dan budaya Manggarai juga menjadi identitas Manggarai yang khas. Bahkan adat istiadat dan budaya Manggarai dianut pula atau hampir mirip dengan adat istiadat dan budaya di luar Manggarai secara geografis. Antara lain adat istiadat orang Riung yang secara geografis ada di wilayah kabupaten Ngada. Bahasa dan adat istiadat serta budaya Manggarai hanya ada di Manggarai raya, Flores Barat.

Sementara Nama Manggarai di Jakarta adalah nama Manggarai satu-satunya yang ada di luar Manggarai Flores Barat. Tentang nama Manggarai di Jakarta ternyata memiliki sejarah tersendiri. Di sebuah papan yang ditanam di sebelah pintu timur stasiun Kereta Manggarai tertulis jelas asal usul nama Manggarai.

Di sana tertulis bahwa nama Manggarai diperoleh karena tempat itu dahulunya ditempati budak-budak yang berasal dari Manggarai Flores. Pasar Rumput yang merupakan bagian dari kecamatan Manggarai dahulunya tempat jual beli budak. Dan budak dari Manggarai mungkin termasuk budak yang paling banyak sehingga wilayah itu disebut dengan nama Manggarai.

Sayangnya, orang Manggarai yang dahulu menempati Manggarai terutama stasiun pusat Manggarai tidak meninggalkan jejak kemanggaraiannya baik bahasa, adat istiadat maupun budaya Manggarai. Mereka justru berbaur, berasimilasi dengan orang dan adat istiadat orang-orang Nusantara yang tinggal di Jakarta. Tidak adanya jejak-jejak kemanggaraiannya itu, menyebabkan nama Manggarai Jakarta terkesan menjadi nama yang seolah-olah tidak ada jejak historis dengan Manggarai Flores Barat.

Asal usul Nama Manggarai

Hingga saat ini banyak versi tentang nama Manggarai. Pertama, nama Manggarai dihubungkan dengan peristiwa terlepasnya jangkar dari perahu yang dipakai berlayar oleh nenek moyang orang Manggarai. Diceritakan bahwa ketika nenek moyang orang Manggarai berlabuh di pantai di Nusa Lale, jangkar perahu mereka terlepas. Karena jangkar terlepas, maka orang berteriak: Manggar aie. Tempat mereka berlabuh itulah kemudian diberi nama Manggarai.

Kedua, nama Manggarai dihubung-hubungkan dengan nama salah satu raja Goa bernama I Manggarai di Sulawesi Selatan. Disebutkan bahwa wilayah Manggarai sekarang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan raja Goa I Manggarai. Tekhnologi AI coba menjelaskan tentang nama Manggarai itu sebagai berikut:

Tentang versi mana yang tepat tentu sulit untuk menentukannya. Bagi kita saat ini, nama Manggarai adalah nama yang melekat dalam diri orang Manggarai yang secara adat istiadat dan budaya diakui sebagai adat istiadat dan budaya Manggarai

Asal usul orang Manggarai

Salah satu pertanyaan dan sering menimbulkan perbedaan pendapat yang sengit adalah tentang asal usul orang Manggarai. Klaim yang paling umum dan resonansinya kuat ialah bahwa orang Manggarai berasal dari Minangkabau, tepatnya dari Pagaruyung Sumatera Barat. Klaim dikemukakan budayawan ternama Manggarai Dami N Toda dalam bukunya "Manggarai: Mencari Pencerahan Historiografi".

Hal serupa disampaikan bapak Brigjen Dr. Ben Mboi dalam buku "Ben Mboi: Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja". Narasi asal usul orang Manggarai berasal dari Minangkabau juga disampaikan oleh beberapa tokoh adat di Manggarai.

Klaim para tokoh ini tentu kebenarannya tidak dapat diragukan. Bahkan bapak Dami N Toda secara khusus mendatangi kota Pagaruyung Sumatera Barat untuk mencari tahu kebenaran narasi itu. Menurut pengakuannya memang benar adanya bahwa orang Manggarai berasal dari Pagaruyung Sumatera Barat.

Pertanyaan yang menggelitik ialah apakah klaim itu dapat diterima atau benar adanya? Pertama, Pagaruyung secara geografis terletak di Sumatera Barat yang mayoritas dihuni etnis Minangkabau. Sebagai sebuah etnis Minangkabau, mereka memiliki adat istiadat yang khas dan mencolok dari etnis lainnya. Salah satunya adalah sistem kekerabatan matriarkat atau matrilineal. Sistem kekerabatan matrilineal menempatkan ibu sebagai tokoh sentral. Garis keturunan mengikuti garis keturunan ibu.

Sistem kekerabatan matrilineal ini bertolak belakang dengan sistem kekerabatan patriarkat atau matrilineal. Sistem patrilineal menempatkan ayah sebagai tokoh sentral. Ia menjadi penentu garis keturunan. Laki-laki menjadi penerus garis keturunan.

Kalau sistem kekerabatan yang menjadi patokan untuk menentukan apakah orang Manggarai sebagai keturunan Minangkabau atau tidak, maka kita sebagai orang Manggarai perlu merefleksikan diri apakah sistem kekerabatan dalam etnis Manggarai mengikuti sistem kekerabatan matrilineal atau patrilineal?

Hingga saat ini, sistem kekerabatan dalam etnis Manggarai adalah sistem kekerabatan patrilineal dimana posisi ayah atau anak laki laki sangat sentral dan dominan.

Kedua, budaya. Kesamaan budaya merupakan salah indikator yang kuat untuk menunjukkan kesamaan atau asal usul suatu etnis. Budaya sendiri merupakan sistem ide, gagasan dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Budaya juga menunjuk pada sistem pada perilaku dan pengorganisasian masyarakat berdasarkan ide, gagasan dan norma berlaku.

Budaya juga berkaitan dengan wujud konkret dari gagasan, ide dan norma yang berlaku. Artefak dalam bentuk patung, rumah adat, sistem pembagian tanah, corak kain dan warna, simbol atau gambar yang terlukis pada media yang ada, materi makan dan cara pengolahan makan bahkan taste dan cita rasa makanan merupakan wujud konkret dari budaya yang dianut suatu etnis.

Saya agaknya mengalami kesulitan untuk melacak budaya sebagai ide dan gagasan serta norma orang Minangkabau. Yang mungkin dapat dilacak adalah cita rasa masakan etnis Minangkabau dan yang paling populer adalah masakan Padang. Masakan Padang jauh berbeda dengan masakan orang Manggarai pada umumnya. Lalu dari segi bahasa, kita sulit menemukan kata yang sama atau mirip dengan bahasa Manggarai.

Salah satu klaim yang menunjukkan kesamaan budaya Minangkabau dan budaya Manggarai adalah rumah adat. Rumah adat Minang memiliki dua ujung yang menjulur ke atas. Sementara rumah adat Manggarai memiliki satu ujung yang menjulur ke atas. Rumah ini dikenal dengan rumah Niang. Rumah adat Minang disebut dengan Niang Dangka karena dua ujungnya menjulur ke atas.

Kalau diperhatikan, rumah adat Manggarai yang dikenal rumah Niang merupakan rumah adat yang berbentuk Piramida yang bulat dan mirip rumah-rumah adat di Afrika dan Timor. Yang mau saya katakan antara rumah adat Minang dan rumah adat Manggarai sesungguhnya tidak ada kesamaannya.

Lalu, pertanyaannya ialah apakah benar nenek moyang orang Manggarai berasal dari Pagaruyung? Bagi saya klaim bahwa nenek moyang orang Manggarai berasal dari Pagaruyung boleh boleh saja. Walaupun kita tetap berusaha untuk mencari bukti historis dan uji DNA untuk memperkuat klaim itu.

Pagaruyung sebagai sebuah kabupaten di Sumatera Barat tentu tidak otomatis dihuni orang yang beretnis Minangkabau. Bisa juga dihuni oleh etnis-etnis lain yang datang ke Pagaruyung. Entah datang karena ada upaya untuk menempati wilayah itu atau karena terusir dari daerah lain atau memang menikah dengan orang setempat lalu menetap di sana. Hipotesis ini bisa diterima manakala ada etnis yang terusir dari wilayah asalnya, akibat konflik, lalu menetap di Pagaruyung.

Hipotesis terakhir ini masuk akal. Karena wilayah Pagaruyung bukan wilayah tertutup. Ia menerima kehadiran orang dari etnis lain. Etnis lain yang masih memegang adat istiadat dan budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya. Salah satu etnis yang memiliki kemungkinan yang pernah tinggal di Pagaruyung adalah etnis Batak.

Dalam prosa berjudul "Menolak Ayah", penulis novel Cintaku di Kampus Biru, Ashadi Siregar menulis tentang migrasi orang Batak ke daerah Padang Sidempuan dan Pagaruyung. Mereka (orang Batak) bermigrasi ke wilayah ini terutama diakibatkan oleh konflik di daerah Batak.

Mereka yang tidak tahan tinggal di daerah Batak bermigrasi ke daerah Pagaruyung dan sekitarnya. Pada umumnya mereka tidak lagi menggunakan nama marga. Mereka berusaha menghilangkan identitasnya. Walau mereka tidak menggunakan marga tetapi ekspresi budaya tidak serta merta menghilang begitu saja.

Lalu pertanyaannya apakah ada kemungkinan mereka yang tinggal di Paguruyung itu bermigrasi ke tanah Manggarai. Jika hipotesis itu benar, apakah etnis Manggarai mirip dengan etnis Batak?

Dalam beberapa hal, etnis Batak mirip dengan etnis Manggarai. Pertama, sistem kekerabatan sama yakni patriarkat. Ayah atau laki-laki menentukan garis keturunan.

Kedua, dalam hal panggilan untuk orang tua mirip. Panggilan amang dan inang mirip. Perbedaannya, panggilan amang dan inang bagi orang Batak menunjuk pada panggilan untuk ayah dan ibu. Sementara bagi orang Manggarai, panggilan amang dan inang hanya tertuju kepada ayah dan ibu mertua. Berbeda dengan etnis Batak, panggilan ayah dan ibu mertua adalah amangboru dan inangboru.

Ketiga, nama. Nama orang Batak dan orang Manggarai sama dan mirip. Misalnya, nama Barus, Angkat, Sahat, Tolang. Yang mirip misalnya nama Nurung untuk orang Manggarai, Manurung untuk orang Batak, Paung untuk orang Manggarai, Marpaung untuk orang Batak, Jabat untuk orang Manggarai, Sijabat untuk orang Batak. Morang untuk orang Manggarai, Situmorang untuk orang Batak. Danggur untuk nama orang Manggarai, sementara Danggur bagi orang Batak berarti lempar.

Keempat, hubungan manusia dengan alam (hutan). Bagi orang Batak, hubungan manusia dan hutan sangat erat. Hutan disamakan dengan pemberi wanita atau amangboru dan inangboru. Pengambilan kayu di hutan harus melalui suatu ritual adat. Dalam tradisi orang Manggarai ritual Roko Molas Poco merupakan simbol penghargaan dan penghormatan manusia terhadap hutan.

Tradisi Roko Molas Poco dalam budaya Manggarai merupakan ritual pengambilan tiang kayu besar yang akan dijadikan siri bongkok (tiang utama) dalam pembangunan rumah adat gendang. Ini juga menjadi simbol bahwa posisi wanita dalam dalam rumahtangga itu penting. Dia menopang kekokohan atau pilar yang menjadi penopang utama dalam pembangunan rumah adat (Mbaru gendang).

Kelima, sistem perkawinan. Tradisi mengawini anak perempuan dari amangboru dan inangboru yang disebut pariban sama dengan tradisi tungku (sambung kembali) dalam tradisi perkawinan orang Manggarai.

Keenam, pakaian adat ulos dalam Etnis Batak mirip dengan pakaian songke dalam etnis Manggarai. Ketujuh, makanan dan minuman orang Batak dan orang Manggarai hampir sama: lapo dan tuak. Daun singkong tumbuk sama dalam menu makanan dan sayuran orang Batak. Kedelapan, profil orang Batak dan orang Manggarai hampir sama sehingga terkadang sulit membedakan antara orang Manggarai dan orang Batak.

Apa yang mau disimpulkan dari catatan singkat tentang kesamaan dan perbedaan orang Batak dan orang Manggarai ialah bahwa narasi orang Manggarai berasal dari Minangkabau perlu ditinjau kembali. Tinjauan kembali ini untuk menghindari narasi yang tidak didasarkan pada fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Klaim orang Manggarai berasal usul dari salah satu etnis di Nusantara ini tentu tidak bijak. Yang pasti orang Manggarai merupakan campuran berbagai etnis di Nusantara, bahkan berbagai etnis di Asia.

Karena itu, tentang asal usul orang Manggarai bisa jadi merupakan campuran orang Batak, orang Minang, orang Bugis, orang Ambon, orang Sumba, orang Bima, orang Bali, orang Jawa, orang Sunda, orang Dayak dan lain lain. Namun, harus diakui secara kultural orang Manggarai mirip dengan orang Batak.

Budaya orang Manggarai

Di atas sudah disinggung tentang budaya sebagai ide, gagasan, harapan harapan sekaligus norma norma yang mengatur tingkah laku orang Manggarai. Budaya juga dihubungkan dengan aktivitas pengorganisasiannya. Juga disinggung bahwa budaya itu juga berkaitan dengan artefakartefak sebagai wujud konkret dari budaya.

Tentu tidak semua diuraikan di sini satu persatu. Saya mencoba merekam sebagian kecilnya saja. Budaya sebagai ide, gagasan, harapan dan cita cita terekam dalam berbagai ungkapan goet. Menurut hemat saya, goet mengandung cita cita, harapan dan doa orang Manggarai. Ada beberapa ungkapan yang populer dan hidup dalam masyarakat.

Antara lain misalnya nai ca anggit, tuka ca leleng. Goet yang menunjukkan kebersamaan dan musyawarah dan mufakat di dalam membuat keputusan. Keputusan tidak ditentukan oleh seseorang tapi oleh keputusan bersama.

Goet muku ca pu`u neka woleng curup, teu ca ambong neka woleng lako; maknanya adalah bahwa suatu perkumpulan tidak boleh beda pendapat. Kalaupun ada perbedaan, itu diharapkan tidak menimbulkan perpecahan. Sebaliknya, kalau ada perbedaan, perbedaan itu harus diatasi.

Goet atau ungkapan yang mengandung harapan dan doa. Porong lalong Bakok du lakom, lalong rombeng koe du kolem, bermakna adanya keberhasilan dan kesuksesan dalam perantauan atau sukses dalam menimba ilmu atau sukses meraih cita cita. Langkas haeng ntala, uwa haeng Wulang, bermakna adanya harapan akan seseorang bertumbuh, berkembang dalam kehidupannya

Ada nasihat yang patut dipegang dalam berkomunikasi dengan orang: Neka tengguk bail, jaga kepu tengu, Neka conga bail jaga poka bokak. Goet ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, tidak boleh terlalu sombong, juga tidak boleh terlalu rendah diri, menunjukkan sikap Egaliter kepada sesama.

Eme manga haeng pake le mane, neka hemong ase kae. Artinya, kalau dapat rejeki tidak boleh lupa berbagi dengan sesama. Doa dan harapan untuk adanya kesejahteraan dalam kehidupan baik untuk rumah tangga maupun kehidupan masyarakat pada umumnya tersirat dalam goet: wake celer nggerwa, saung bembang nggereta, jengok le ulu, Wiko lalu wai, tela galang peang, kete api one.

Masyarakat Demokratis

Tentang kehidupan kehidupan sosial politik, masyarakat Manggarai termasuk masyarakat yang paling demokratis, bahkan sebelum filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles menggagaskan ide-ide kehidupan politik yang demokratis.

Bagi masyarakat Manggarai, prinsip kesetaraan sejak awal sudah diterapkan, walaupun ada yang mengatakan kelas sosial dalam masyarakat sudah dibagi dua yaitu kelas bangsawan (kraeng) dan masyarakat biasa. Kelas sosial ini sangat dipengaruhi dari luar masyarakat Manggarai, entah dari kerajaan Goa di Sulawesi Selatan atau dipengaruh tidak langsung oleh Goa lewat Bima.

Kesetaraan dalam hubungan sosial terungkap jelas dalam nempung (baca sidang) dalam rumah adat gendang. Rumah adat gendang merupakan tempat sekaligus untuk membicarakan segala hal yang berkaitan dengan masalah-masalah di kampung atau masalah kampung dengan orang lain dari kampung lain.

Ketika hal atau masalah yang dihadapi adalah sosial kemasyarakatan pada umumnya, maka yang tampil sebagai pimpinan dalam pertemuan itu adalah tua Golo. Tua Golo dalam konteks kekinian adalah pimpinan yang mengatur dan ikut merunding dan ikut memecahkan masalah sosial, hukum, adat istiadat dan budaya dalam kampung.

Selain tua Golo, ada pimpinan desa yang disebut tua teno. Tua teno adalah pimpinan yang mengatur, memecahkan serta mengerti dan memahami kepemilikan tanah di kampung. Sosok tua teno sangat vital karena ia mengerti sejarah kepemilikan tanah di kampung. Ketika ada masalah yang berhubungan dengan tanah yang menjadi hak Ulayat kampung, tua teno itulah yang tampil ke depan untuk menyelesaikannya.

Oleh karena kedudukan tua teno sangat vital, maka hubungan antara rumah adat yaitu gendang dengan tanah milik kampung yaitu Lingko digambarkan dengan ungkapan: gendangn one, lingkon peang.

Kehidupan politik yang demokratis di tingkat desa itu tidak hanya kesetaraan dalam kehidupan sosial juga dalam kehidupan politik. Seseorang yang dipilih menjadi tua Golo tidak hanya ditentukan oleh "tuan tanah" (orang pertama yang menempati kampung), juga orang luar (ata long, mereka yang menempati kampung karena perkawinan).

Dalam masyarakat Manggarai, keterpilihan seseorang menjadi kepala kampung atau tua Golo atau tua teno sangat ditentukan oleh kemampuan atau prestasi seseorang dalam kehidupan masyarakat, tidak peduli ia tuan tanah atau ata long.

Kehidupan politik yang demokratis juga diikuti kehidupan ekonomi yang demokratis. Demokrasi dalam bidang ekonomi ditandai oleh adanya pembagian tanah yang merata kepada anak kampung yang dewasa. Setiap anak kampung yang sudah dewasa berhak atas sebidang tanah yang dibagikan oleh tua teno.

Pembagian tanah itu diatur dalam pembuatan ladang Lingko yang berbentuk sarang laba-laba. Di pusat lodok ditanam sepotong kayu teno. Dari kayu teno ditarik garis yang membagi tanah dari titik pusat lodok ke sisi pinggir kebun (cicing). Luasnya hampir sama untuk semua warga.

Pembagian tanah seperti diungkapkan menggambarkan prinsip keadilan sosial dalam masyarakat Manggarai. Hal itu juga menggambarkan kelas sosial ekonomi masyarakat Manggarai.

Dari segi kepemilikan tanah, masyarakat Manggarai tidak mengenal tuan tanah (land lord) dan penggarap tanah. Semua orang memiliki tanah. Yang menentukan kaya miskin seseorang tidak ditentukan kepemilikan tanah tetapi rajin tidaknya seseorang mengerjakan atau mengolah tanahnya.

Dalam perkembannya, kelas sosial ekonomi terbentuk karena adanya praktik jual beli tanah. Orang yang tadinya memiliki tanah yang luas, akhirnya tidak memiliki tanah dan jatuh miskin karena tanahnya dijual kepada mereka yang berduit.

Orang dari luar yang berduit membeli tanah tanah strategis secara ekonomi sehingga menjadi tuan tanah, dan tuan tanah menjadi penonton dan terbuang dari tanah leluhurnya. Dr. Peter Aman, OFM almarhum mengungkapkan dengan baik situasi ini dengan ungkapan: "Longs ata lonto, lontos ata long".

Sebagai bagian dari gabungan seni tari, seni suara, seni adu tangkas serta diiringi tabuhan gendang dan pukulan gong yang bertalu talu, caci menjadi ikon budaya Manggarai yang tidak ditemukan dunia lain.

Sebagai seni, caci mengajarkan kejujuran, kehormatan, keserasian antara gerakan kaki dan tabuhan gendang serta pukulan gong. Sekalipun ada atraksi saling cemeti, seni caci tidak menyimpan dendam, walaupun akhir akhir ini terutama karena mabuk, caci menjadi ajang luapan dendam.

Pewarisan Budaya

Di tengah lancarnya arus komunikasi dan transportasi antara pulau, kehadiran diaspora Manggarai di tanah rantau tak terhindarkan. Ada demam nostalgia yang memenuhi ruang-ruang rasa dan pengalaman bagi kaum diaspora. Selain penti yang secara rutin diadakan setiap tahun, momen Natal Tahun Baru juga mengundang kita bernostalgia. Bernostalgia mengenang kembali masa-masa indah yang pernah dirasakan di kampung halaman.

Diharapkan lewat acara Nataru, nilai-nilai budaya yang mengalir dalam diri kita dihidupkan kembali. Berbagai pesan moral lewat goet-goet yang dituturkan secara turun-temurun dihidupkan kembali.

Persoalannya, bagaimana nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni dan goet-goet Manggarai itu diwariskan kepada anak cucu kita yang lahir di perantuan. Ingat, orang Manggarai yang pernah menjadi warga Batavia ratusan tahun yang lalu, jejak kemanggaraiannya hilang atau punah. Bisa dimengerti, tingkat pendidikan rendah atau bahkan tidak mengeyam pendidikan sama sekali.

Saat ini tentu sudah berbeda. Rata-rata yang merantau ke manapun di Nusantara bahkan dunia ini memiliki tingkat pendidikan yang memadai. Agar budaya Manggarai tidak hilang lenyap dimakan jaman, ada baiknya kita warga Manggarai diaspora mempelopori usaha pewarisan budaya Manggarai secara sadar.

Antara lain lewat dokumentasi dalam bentuk tertulis, adat istiadat, dan budaya Manggarai. Dokumentasi diajarkan kepada anak-anak Manggarai diaspora. Tentu saja harus ada relawan yang mengajarkan adat istiadat dan budaya itu kepada generasi diaspora.*

 *) Dr. Philipus Ngorang adalah akademisi asal Manggarai tinggal di Jakarta

 

 

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas