40 Orang Tewas, Jaksa Swiss Minta Pemilik Bar Ditahan Usai Kebakaran Maut Malam Tahun Baru
Jaksa penuntut Swiss meminta agar salah satu pemilik bar La Constellation, lokasi kebakaran besar pada malam Tahun Baru yang menewaskan sedikitnya 40 orang, ditahan sebelum persidangan. Permintaan penahanan diajukan guna mencegah risiko pelarian tersangka.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Jaksa penuntut Swiss meminta agar salah satu pemilik bar La Constellation, lokasi kebakaran besar pada malam Tahun Baru yang menewaskan sedikitnya 40 orang, ditahan sebelum persidangan. Permintaan penahanan diajukan guna mencegah risiko pelarian tersangka.
Kepala Jaksa Wilayah Valais, Beatrice Pilloud, menyatakan penahanan terhadap pemilik bar bernama Jacques Moretti diperlukan untuk menghindari “risiko melarikan diri”. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Sementara itu, istri sekaligus rekan manajer Moretti, Jessica Moretti, tidak ditahan dan tetap bebas dengan status pengawasan yudisial.
Pihak berwenang Swiss saat ini menyelidiki para pemilik bar La Constellation di kota resor ski Crans-Montana atas dugaan sejumlah tindak pidana, termasuk pembunuhan karena kelalaian. Berdasarkan hukum Swiss, seseorang dapat ditahan sementara hingga pengadilan memutuskan dalam waktu 48 jam apakah penahanan tersebut dibenarkan.
Permintaan penahanan ini bertepatan dengan hari berkabung nasional yang digelar Swiss pada Jumat. Seluruh negeri mengheningkan cipta selama satu menit sebelum lonceng gereja dibunyikan serentak untuk mengenang para korban kebakaran.
Upacara resmi peringatan korban berlangsung di kota Martigny dan dihadiri sekitar 1.000 orang, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Italia Sergio Mattarella, serta Perdana Menteri Belgia Bart De Wever.
“Negara kami terpukul oleh tragedi ini,” ujar Presiden Swiss Guy Parmelin dalam upacara tersebut.
“Kami menghormati kenangan mereka yang telah tiada dan berdiri di samping mereka yang kini menghadapi perjalanan panjang pemulihan,” lanjutnya.
Kebakaran maut yang terjadi pada dini hari Tahun Baru itu menewaskan 40 orang, lebih dari separuh di antaranya merupakan remaja. Selain itu, sedikitnya 116 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Sejumlah warga negara Prancis dan Italia termasuk di antara korban tewas.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyerukan hukuman berat bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Di sisi lain, sekitar 1.400 orang juga berkumpul di pusat kongres Crans-Montana untuk mengikuti siaran langsung upacara resmi dari Martigny.
Di luar bar La Constellation, sebuah tugu peringatan didirikan dan ditutupi terpal putih berbentuk igloo guna melindunginya dari salju lebat.
“Semuanya berbeda sekarang. Dulu tempat ini penuh senyuman, sekarang tidak ada lagi,” ujar seorang perempuan asal Prancis berusia 30-an yang bekerja musiman di Crans-Montana dan enggan disebutkan namanya.
Jaksa Swiss meyakini kebakaran bermula ketika kembang api yang dipasang pada botol sampanye dinyalakan terlalu dekat dengan busa peredam suara di langit-langit ruang bawah tanah bar. Api kemudian dengan cepat menjalar dan memicu kebakaran besar.
Pihak berwenang setempat juga mengungkapkan bahwa bar tersebut belum menjalani inspeksi keselamatan sejak 2019, sebuah fakta yang memicu kemarahan publik.
Dalam pernyataan terpisah, para pemilik bar menyatakan akan memberikan kerja sama penuh kepada penyelidik.
“Kami sangat terpukul dan berduka. Pikiran kami selalu bersama para korban, keluarga yang kehilangan orang tercinta secara brutal dan prematur, serta mereka yang masih berjuang untuk hidup,” ujar pihak pengelola.
Presiden Swiss Guy Parmelin menegaskan harapan masyarakat kini bergantung pada sistem peradilan. “Harapan itu bergantung pada kemampuan sistem peradilan kami untuk mengungkap kegagalan dan menjatuhkan konsekuensi tanpa penundaan atau keringanan. Ini adalah tanggung jawab moral sekaligus kewajiban negara,” tegasnya.