indonews

indonews.id

SALEMBA: Ketika Kampus Menjaga Akal Sehat dan Sejarah yang Belum Usai

SALEMBA: Ketika Kampus Menjaga Akal Sehat dan Sejarah yang Belum Usai

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Penulis : Ahmed Kurnia

Pada pertengahan 1970-an, ketika negara sedang sibuk menertibkan suara dan menata kepatuhan, sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia justru memilih menerbitkan koran. Namanya SALEMBA, diambil dari alamat kampus UI kala itu. Terbit pertama kali pada 14 Januari 1976, surat kabar kampus ini lahir di tengah iklim Orde Baru yang keras, penuh sensor, dan sangat curiga terhadap kritik.

Di masa ketika pers nasional bisa dibredel hanya karena satu tajuk rencana, SALEMBA tampil dengan cara yang tidak lazim. Ia tidak berteriak. Tidak pula menjadi pamflet agitasi. SALEMBA memilih jalur yang lebih sunyi—namun justru berbahaya bagi kekuasaan: menulis dengan nalar, data, dan argumentasi. Dari situlah reputasinya tumbuh, melampaui pagar kampus.

Halaman-halaman SALEMBA sejak akhir 1970-an menjadi ruang yang kian langka: ruang bagi gagasan. Di sana, Juwono Sudarsono, Abdurrahman Wahid, Deliar Noer, Mochtar Lubis, Mahbub Djunaidi, Emha Ainun Nadjib, hingga Rosihan Anwar menulis kolom dan opini. Fakta ini penting dicatat: sebuah koran mahasiswa telah menjadi medium yang dipercaya para pemikir bangsa untuk berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan masa depan Indonesia.

Baca juga : Bait Sunyi

Tulisan-tulisan itu kini dihimpun kembali dalam buku setebal 526 halaman berjudul Suara Kritis Kampus di Era Rezim Otoriter, yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan 50 tahun SALEMBA, 14 Januari. Buku ini bukan sekadar arsip. Ia adalah cermin - yang menunjukkan bahwa banyak persoalan hari ini sesungguhnya telah dipikirkan secara jernih puluhan tahun lalu.

Di balik SALEMBA, ada satu figur sentral: Antony Zeidra Abidin, mahasiswa Sosiologi UI yang memimpin koran kampus itu pada masa awal. Antony membangun SALEMBA bukan dengan gaya aktivisme jalanan, melainkan dengan disiplin editorial. Ia menanamkan standar verifikasi, ketajaman analisis, dan jarak yang sehat dari kekuasaan. Keyakinannya sederhana: media kampus harus bisa dipercaya.

“Kami ini hanya mahasiswa yang ingin berpikir waras di tengah situasi yang tidak selalu waras,” kata Antony, mengenang masa itu. “Koran kampus SALEMBA bukan alat perlawanan. Ia hanya ruang agar pikiran tidak mati.”
Nada rendah hati itu justru menjelaskan besarnya pengaruh SALEMBA. Di bawah kepemimpinan Antony, media ini menjadi trensetter. Etosnya ditiru oleh kampus-kampus lain - ITB, IPB, ITS, UGM, dan seterusnya. Pengaruh itu pula yang membuat SALEMBA tak luput dari tekanan. Ia pernah dibredel oleh penguasa militer - risiko yang hampir pasti bagi media yang memilih independen di zaman otoriter.

Dari pengalaman itulah lahir dua nilai yang menjadi doktrin SALEMBA: integritas dan kredibilitas. Integritas berarti kesetiaan pada kebenaran, bahkan ketika kebenaran tidak nyaman dan berisiko. Kredibilitas adalah kepercayaan publik yang dibangun perlahan - melalui konsistensi, ketepatan, dan tanggung jawab moral pada pembaca. Dua nilai ini tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjelma menjadi etos kaderisasi.

Jejak etos itu terlihat dalam buku Suara Kritis Kampus di Era Rezim Otoriter. Selain menghimpun tulisan para pemikir nasional, buku ini juga memuat kenangan dan refleksi dari tokoh-tokoh dosen dan aktivis yang menyaksikan langsung peran SALEMBA pada masanya. Prof. Emil Salim, Hariman Siregar, Dipo Alam, Chairul Tanjung menempatkan SALEMBA sebagai ruang pembelajaran tanggung jawab intelektual. Mereka melihatnya sebagai bagian dari ekosistem gerakan mahasiswa yang berani berpikir mandiri.  Semua kesaksian itu menyatu sebagai satu narasi: SALEMBA bukan sekadar koran, melainkan sekolah etika publik.

Prof. Jimly Asshiddiqie - yang ikut terlibat dalam pelatihan awal SALEMBA - menegaskan posisi historis media ini dalam sambutannya. “Kreativitas mahasiswa yang dimotori Antony Zeidra Abidin untuk menerbitkan koran kampus SALEMBA benar-benar menggelegar di zamannya,” kata Jimly. “Ia memberi inspirasi kepada aktivis kampus di berbagai perguruan tinggi untuk bersikap kritis dan peduli pada nasib bangsa dan negara, di samping tetap tekun dengan perkuliahan.”

Bagi Jimly, warisan SALEMBA tidak berhenti pada keberanian berpikir. Ia harus berlanjut pada keterlibatan nyata. “Perubahan tidak cukup dijalankan lewat refleksi dan imajinasi,” ujarnya lagi. “Ia membutuhkan agenda aksi dan keberanian terjun pada persoalan konkret masyarakat.”

Peluncuran buku ini menjadi salah satu acara utama dalam peringatan 50 tahun SALEMBA, di samping diskusi publik yang dipandu Ikrar Nusa Bhakti - sebuah penegasan bahwa SALEMBA selalu memosisikan diri sebagai ruang dialog, bukan monolog.

Asri Hadi, anggota Panitia 50 Tahun SALEMBA yang kini menjabat Pemimpin Redaksi Indonews, menekankan bahwa peringatan ini dirancang sebagai pertemuan lintas generasi, bukan sekadar temu kangen. “Ini bukan acara nostalgia,” kata Asri. “Ini perayaan relevansi. Nilai dan doktrin SALEMBA—integritas, kredibilitas, dan keberanian berpikir—masih sangat dibutuhkan Indonesia hari ini.”

Menurut Asri, lebih dari 200 orang telah menyatakan konfirmasi hadir. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan kampus - UI, ITB, ITS, IPB, UGM, dan lainnya - untuk menegaskan kembali satu peran yang kerap dilupakan: kampus sebagai penjaga akal sehat publik.

Lima puluh tahun lalu, SALEMBA lahir di masa gelap dan memilih menyalakan lampu kecil bernama nalar. Cahaya itu tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk menunjukkan arah. Setengah abad kemudian, pertanyaannya tetap sama - dan masih relevan: apakah kita masih bersedia menjaga cahaya itu?

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas