AS dan Inggris Peringatkan Warganya Tak Bepergian ke Israel di Tengah Ketegangan dengan Iran
Amerika Serikat (AS) dan Inggris mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya untuk tidak bepergian ke Israel, menyusul meningkatnya ketegangan kawasan yang melibatkan Washington dan Teheran. Peringatan ini dikeluarkan di tengah kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Amerika Serikat (AS) dan Inggris mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya untuk tidak bepergian ke Israel, menyusul meningkatnya ketegangan kawasan yang melibatkan Washington dan Teheran. Peringatan ini dikeluarkan di tengah kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kedutaan Besar AS di Yerusalem menerbitkan peringatan keamanan yang meminta warga negara Amerika untuk mencermati situasi regional yang tengah memanas. Warga AS diminta meninjau kembali rencana perjalanan mereka, bersiap menghadapi kemungkinan gangguan, serta mengambil keputusan yang tepat demi keselamatan diri dan keluarga.
Sementara itu, Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris menyarankan warganya agar tidak melakukan perjalanan ke Israel kecuali untuk kepentingan yang benar-benar mendesak dalam kondisi saat ini.
Peringatan tersebut muncul beberapa hari setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Israel serta pangkalan dan kapal militer AS akan menjadi “target yang sah” apabila Iran diserang.
Selain Israel, sejumlah negara juga telah menyarankan warganya untuk meninggalkan Iran di tengah meningkatnya ketegangan. Negara-negara tersebut antara lain AS, Inggris, India, Italia, Spanyol, Polandia, dan Australia.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer terhadap Iran apabila terjadi tindakan keras terhadap demonstran dalam gelombang protes yang sedang berlangsung di negara tersebut. Pada Rabu, sejumlah personel dilaporkan telah disarankan meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, memicu kekhawatiran akan kemungkinan serangan AS dan potensi pembalasan dari Iran.
Pada Selasa, Trump juga mengunggah pernyataan di media sosial yang ditujukan kepada para pengunjuk rasa di Iran, dengan menyebut bahwa bantuan “sedang dalam perjalanan”. Ia kemudian mengklaim telah menerima jaminan bahwa pembunuhan terhadap demonstran telah berhenti, pernyataan yang meredakan spekulasi terkait kemungkinan serangan militer AS.
Namun, akademisi Universitas Teheran, Hassan Ahmadian, menilai pemerintah Iran tidak akan sepenuhnya mempercayai bahwa ancaman aksi militer AS telah mereda. Kepada Aljazirah, Ahmadian mengatakan bahwa meskipun pernyataan Trump mengisyaratkan penurunan retorika dari Washington, para pemimpin Iran akan tetap bersikap waspada.
“Iran akan sulit mempercayai apa pun yang dikatakan presiden ini karena sebelumnya Iran melakukan pembicaraan dengannya, lalu negara itu justru diserang,” ujar Ahmadian, merujuk pada serangan AS terhadap situs nuklir Iran ketika Washington bergabung dalam konflik 12 hari Israel pada Juni lalu.
Ia juga menyebut masih ada kemungkinan AS melancarkan serangan mendadak terhadap Iran. Meski demikian, Ahmadian menegaskan bahwa mayoritas pengunjuk rasa di Iran, meskipun memiliki keluhan terhadap pemerintah, tidak menginginkan terjadinya perang baru.
“Ada pihak-pihak yang tidak puas dengan situasi di Iran saat ini, tetapi mayoritas masyarakat tidak ingin melihat perang kembali terjadi,” katanya.*