Kidung Rakyat Kickoff Konser 1000 Desa
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Lagu menjadi media yang paling 'pas' mengungkapkan kegembiraan dan kegelisahan hati, Toto Tewel lewat 'Kidung Rakyat' coba menggugah kita mengenai situasi kini yang sedang tidak baik, baik saja. Konser 1000 desa mengenalkan single album Kidung Rakyat, lagu yang akrab dengan telinga masyarakat Jawa, lakukan konser perdana di warung kopi, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Suasana Sabtu (17/01) malam begitu syahdu, langit Jakarta berselimut awan hitam menjelang 'kick off' konser 1000 desa mengakrabkan lagi 'Kidung Rakyat' di telinga masyarakat yang mulai melupakan lagu-lagu rakyat yang dahulu akrab di telinga mereka.
Hujan pun turun sebelum Toto Tewel, Pipit, dan personil Pop Marjinal, mereka berkolaborasi mengenalkan lagu rakyat yang dikemas dalam rock modern, menjelaskan terkait lagu tersebut. Yaitu menyuarakan kegelisahan masyarakat terkait situasi saat ini.
Konser perdana itu, juga melibatkan beberapa musisi antara lain, Anto Baret yang dikenal dengan musik jalanan, kelompok musik Pop Marjinal dengan vokalisnya cucu novelis ternama Pramudia Ananta Toer, penyair Bogor, serta Jely Tobing.
Konser diawali dengan permainan gitar solo Toto Tewel, dua lagu rock ia mainkan, cabikan jemarinya masih sama, 'meraung' penuh kekuatan. Meski usianya tak muda lagi, permainan gitar Toto tetap sama saat ia sering tampil dari panggung ke panggung.
Begitu Toto usai memainkan dua lagu, suasana konser di Malahayati cafe pecah, aplaus dan sorak penonton makin membuat suasana hangat. Lalu Marjinal naik ke panggung, tampil full personil 4 lagu bernuansa rock alternatif bikin halaman cafe kian 'gerah', penonton menari layaknya penggemar rock.
4 lagu yang dibawakan Marjina, sairnya syarat dengan kegelisahan masyarakat terkait 'gerahnya' situasi kekinian. lagu 'Marsinah' kental dengan ungkapan kegelisahan kita dengan kondisi yang penuh tekanan dari penguasa. Meski Marsinah ada di era 'rezim otoriter' namun masih relate dengan kondisi saat ini.
Lalu musisi yang dinanti pun muncul, Toto Tewel (gitar), Pipit (vokal), dan Bob (bas) tampil dengan gaya berpakaian 'rumahan' tanpa embel-embel simbol aliran musik apapun, polos tapi musiknya menghentak.
Menurut Pipit, ide mengangkat kembali kidung rakyat berawal dari rasa prihatin terhadap tradisi musik daerah yang mulai tergerus zaman. “Banyak kidung yang sudah terkubur dan enggak pernah dinyanyikan lagi. Padahal di situ ada nilai-nilai kehidupan, semangat gotong royong, dan kejujuran rakyat kecil,” ujarnya.
Kolaborasi itu tak bertujuan komersil, hanya ingin masyarakat kembali mengenal dan menghargai kidung rakyat sebagai warisan budaya. Usai 'Kidung Rakyat' menggelora, mereka menutup dengan 'Pak Tua' lagu yang pernah dipopulerkan Elpamas yang juga digawangi Toto Tewel.
Konser 1000 desa diawali di Mampang, dan akan terus berputar dari desa ke desa (Keluruhan) menyampaikan kegelisahan kita terhadap ketidakadilan. Haruskah masyarakat bersuara dahulu baru ada perubahan? Kalau pun tidak 'Kidung Rakyat' mengembalikan memori kita saat masa kanak-kanak. "E Dayohe teko, e gelarno kloso, e klosone bedah, e tambelen jadah..., akrab lagi di telinga kita.