MEMILIH JALAN TANPA PETA: 48 tahun Sosiologi FISIP UI ’78
MEMILIH JALAN TANPA PETA: 48 tahun Sosiologi FISIP UI ’78
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Di penghujung 1978, ketika Jakarta masih berdebu dan kampus UI Rawamangun menjadi ruang belajar tentang masa depan, dua puluhan mahasiswa FISIP UI memilih Jurusan Sosiologi. Pilihan itu lahir dari pemahaman yang masih dangkal, tanpa kepastian karier, dan lebih digerakkan oleh rasa ingin tahu daripada jaminan masa depan. Sosiologi dibayangkan sebagai ilmu tentang masyarakat dan kehidupan sehari-hari—hadir di angkot, warung kopi, hingga cermin diri—dengan segala keruwetan dan kelucuannya.
Waktu membuktikan pilihan itu tepat. Sosiologi kala itu bukan sekadar disiplin, melainkan medan
intelektual yang dihuni mereka yang kritis, gemar bertanya, dan disegani. Di sanalah Sosiologi hidup:
bukan hanya sebagai ilmu tentang masyarakat, tetapi sebagai pengalaman memahami dan
menjalaninya bersama.
Dalam kelompok kecil itu, setiap orang menemukan perannya sendiri, seolah sebuah orkestra intelektual yang tak pernah sepenuhnya terlatih, tetapi selalu penuh gairah.
Ada Irma dan Santi, misalnya. Dua nama yang nyaris otomatis menjadi rujukan. Jika ada konsep yang
kabur atau teori yang terasa terlalu tinggi, merekalah tempat bertanya. Penjelasan mereka jernih, sabar, dan sering kali membuat orang berpikir, “Oh, ternyata begitu.”
Uttun dan Bunga hadir sebagai penantang: kritis, tajam, dan tak jarang membuat diskusi memanas—
dengan cara yang sehat. Mereka mengajarkan bahwa berpikir itu bukan sekadar menyetujui, tetapi
berani menggugat.
Rachmi, berbeda lagi. Ia lebih sering diam, tetapi matanya bekerja keras. Ia mengamati, mencatat
dalam pikirannya, dan sesekali melontarkan komentar yang singkat namun mengena—jenis kalimat yang membuat ruangan sejenak sunyi sebelum semua orang mengangguk.
Lalu ada Emma, Ade Indira, dan Betty, trio penyelamat suasana. Di tengah teori yang berat dan perdebatan yang melelahkan, merekalah yang mengembalikan tawa, mengingatkan bahwa menjadi serius tidak berarti harus muram.
Eka hadir dengan ketenangan yang menular. Kalem, nyaris tak pernah tergesa, tetapi selalu resourceful. Ketika orang lain kebingungan mencari bahan atau referensi, entah bagaimana Eka sudah menemukannya lebih dulu. Ia seperti perpustakaan berjalan dengan suara pelan Khasanah diskusi kerap menemukan ketajamannya pada Hanneman, yang dengan setia menelusuri denyut kehidupan masyarakat kecil—tenang, konsisten, dan membumi.
Ia dilengkapi oleh Widiastyo, yang tak pernah lelah membongkar ulang teori-teori klasik, seolah menguji apakah warisan intelektual itu masih bernapas di hadapan kenyataan. Iwan Carik, setia pada julukannya, menghadirkan ketekunan yang nyaris asketik: catatan rapi, sketsa pemikiran, dan contoh-contoh konkret yang menjembatani teori dan praktik. Sementara Baron, dengan pandangan-pandangan filosofisnya, kerap mengangkat diskusi dari sekadar analisis menjadi perenungan. Adhe Aurora juga hadir dalam setiap perdebatan dan kerap merepotkan karena pertanyaan-pertanyaan yang otentik dan bernas.
Dan ada pula mereka yang kehadirannya tak riuh, namun menetap dalam ingatan. Sri Budiati dan
Dewi Meyani—lembut dalam tutur, jernih dalam makna—mengingatkan bahwa kecerdasan tak
selalu datang dengan suara lantang. Kadang ia hadir pelan, tetapi tinggal lebih lama. Selamat jalan
kawan.
Dan tentu saja, ada satu nama yang sulit dilewatkan. Asri Hadi. Ia bukan sekadar anggota; ia adalah penghangat suasana. Kehadirannya membuat percakapan mengalir, membuat keheningan menjadi hidup. Tanpanya, diskusi terasa rapi tetapi dingin—seperti ruang kelas tanpa jendela.
Dengan Asri, ada jiwa. Ada tawa kecil di sela keseriusan, ada sentuhan manusiawi yang membuat Sosiologi bukan hanya ilmu tentang masyarakat, tetapi juga pengalaman menjalaninya bersama.
Last but not least, ada Otho. Cara berpikirnya selalu bergerak pada skala makro—membaca pola
besar di balik keragaman, merangkai fragmen-fragmen sosial menjadi satu kesatuan yang bermakna.
Ia melihat Sosiologi bukan semata sebagai alat analisis, melainkan sebagai kompas. Di kemudian
hari, ketekunan itu menjelma kemampuan merumuskan kebijakan publik: menerjemahkan kaidahkaidah keilmuan menjadi keputusan yang berpihak, terukur, dan berjangka panjang.
Begitulah dua puluhan mahasiswa itu memulai perjalanan mereka. Tanpa peta yang jelas, tanpa
jaminan masa depan, tetapi dengan rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan keyakinan samar
bahwa memahami masyarakat—dan diri sendiri di dalamnya—adalah pilihan yang layak diperjuangkan. Dan mungkin, justru dari ketidakpastian itulah, cerita-cerita terbaik lahir.