indonews

indonews.id

Seandainya Anda Menjadi Warga Negara Singapore

Tetap ada alasan yang sangat kuat untuk berkata dengan jujur dan penuh kesadaran, kita bangga dan kita patut bersyukur terlahir sebagai warga Indonesia.

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Seandainya Anda Menjadi Warga Negara Singapore
Dr Frans Dione, Akademisi dan Pengamat Governansi (Tata Kelola Pemerintahan). (Foto: Ist)

Oleh: Dr. Frans Dione*)

Jakarta, INDONEWS.ID - Banyak orang Indonesia punya imajinasi yang hampir seragam tentang Singapura. Negaranya maju, bersih, tertib, transportasinya rapi, layanan publiknya cepat, teknologinya canggih, dan hampir semua urusan tampak lebih efisien. Dalam imajinasi Sebagian besar orang Indonesia, menjadi warga negara Singapura terasa seperti naik kelas, lebih modern, lebih nyaman, lebih aman, dan mungkin juga lebih makmur.

Persepsi itu tidak sepenuhnya benar. Singapura memang berhasil membangun negara kota yang sangat efisien. Tetapi, dalam hidup, ada harga yang harus dibayar. Masalahnya, dari jauh kita sering hanya melihat kilau etalasenya, bukan biaya sosial, ekonomi, dan ruang hidup yang menyertainya. Padahal, kalau dibalik pertanyaannya, bukan “seberapa maju Singapura?”, melainkan “bagaimana rasanya hidup sebagai warga Singapura?”, jawabannya menjadi jauh lebih rumit.

Mari mulai dari hal yang paling membumi, rumah. Bagi banyak orang Indonesia, simbol hidup mapan itu sederhana, punya rumah tapak (rumah di atas tanah), ada halaman kecil, ada garasi, ada ruang tumbuh untuk keluarga. Di Singapura, impian seperti itu hamper mustahil kecuali bagi keluarga super kaya. Singapura dihuni sekitar 6,1 juta jiwa dengan luas daratan hanya sekitar 736 kilometer persegi. Sebaliknya, Indonesia dihuni lebih dari 284 juta jiwa dengan luas daratan sekitar 1,9 juta kilometer persegi. Artinya, Singapura jauh lebih padat, sedangkan Indonesia punya ruang fisik yang berkali kali lebih longgar.

Di Singapura, hanya sebagian kecil rumah tangga yang tinggal di landed house atau rumah tapak di atas tanah. Mayoritas tinggal di flat, rumah susun atau apartemen. Jadi, kalau Anda menjadi warga Singapura, kemungkinan besar anda akan tinggal di rumah susun atau apartemen, karena  kemungkinan punya rumah tapak kecil. Di Indonesia, sebaliknya, rumah tapak masih jauh lebih mungkin dibayangkan sebagai bentuk hunian normal, terutama di luar kota kota metropolitan. Dalam konteks ini, Indonesia memberikan ruang hidup yang lebih dekat dengan impian banyak keluarga, yakni hidup di rumah sendiri yang menempel langsung dengan tanah, bukan bertingkat puluhan lantai.

Berikutnya soal mobil. Dari Indonesia, mobil sering dilihat sebagai hasil kerja keras, menabung, kredit, membeli, lalu memakai. Di Singapura, logikanya berbeda. Negara itu memang tidak dirancang agar semua orang leluasa punya mobil pribadi. Untuk memiliki dan memakai mobil, Anda harus berurusan dengan COE (Certificate of Entitlement), yaitu semacam sertifikat hak terbatas untuk memiliki kendaraan selama periode tertentu. Jadi, bukan tidak boleh punya mobil, melainkan negara memang sengaja membuat mobil menjadi sesuatu yang mahal, terbatas, dan tidak otomatis masuk akal bagi semua orang. Di Indonesia, sejauh Anda punya uang dan memenuhi syarat administrasi umum, membeli mobil jauh lebih sederhana.

Sesudah memiliki mobil, bebannya belum selesai. Harga bensin RON 95 di Singapura pada awal April 2026 sebagai dampai perang Iran vs AS dan Israel, dinaikan sehingga berada di kisaran sekitar Rp45.800 sampai Rp46.500 per liter (kurs 1 dollar Singapore setara Rp 13.400). Pada saat yang hampir sama, Pertamax Green 95 di Indonesia berada di sekitar Rp12.900 per liter. Selisih ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah perbedaan yang langsung terasa setiap kali Anda mengisi tangki. Dengan kata lain, di Singapura, bukan hanya membeli mobil yang berat, tetapi memeliharanya agar tetap bergerak pun mahal. Ini menjelaskan mengapa dalam hidup sehari-hari, warga Singapura jauh lebih bergantung pada transportasi umum dibanding warga Indonesia.

Bahkan untuk hobi otomotif, Singapura juga tidak terlalu longgar. Kalau Anda ingin memelihara mobil tua sebagai hobi biasa tidak sebebas di Indonesia. Kendaraan bekas impor biasa di Singapura dibatasi sangat ketat dari segi usia. Kalau sudah terlalu tua, ia tidak bisa masuk dengan mudah sebagai kendaraan biasa. Kalau sudah berumur sangat tua, ia bisa masuk ke skema kendaraan klasik, tetapi justru dengan pembatasan penggunaan yang ketat dan pajak yang mahal. Kalau di Indonesia semakin tua mobil pajaknya semakin murah. Jadi, kendaraan tua yang bukan klasik tidak punya ruang seleluasa di Indonesia. Di negeri kita, orang masih bisa memelihara sedan lama, jip tua, motor nostalgia, motor butut atau kendaraan lawas keluarga tanpa harus selalu berhadapan dengan aturan yang ketat. Di Indonesia, hobi otomotif tua masih punya ruang, leluasa dan mudah.

Kita kadang lupa bahwa Indonesia punya satu keunggulan penting, yaitu transportasi umum yang murah. Memang, mutu dan keteraturan transportasi Singapura sangat baik. Namun, murahnya tarif harian di Indonesia tetap merupakan keunggulan yang nyata. Di Singapura, tarif transportasi umum berbasis kartu untuk orang dewasa kira kira mulai dari Rp17.000 dan naik sesuai jarak. Di Jakarta, tarif TransJakarta reguler masih sekitar Rp3.500, dan tarif integrasi JakLingko dibatasi maksimal Rp10.000. Tentu, mutu sistemnya belum sekelas Singapura. Namun bagi warga biasa, ongkos mobilitas harian di Indonesia masih ringan di kantong. Hal kecil seperti ini sering diremehkan, padahal sangat menentukan kualitas hidup kelas menengah dan kelas pekerja.

Dari sini kita masuk ke soal yang lebih besar, biaya hidup. Dalam logika purchasing power parity, yang penting bukan hanya berapa besar gaji nominal, tetapi seberapa jauh uang itu bisa dipakai membeli barang dan jasa di dalam negeri. Karena itu, walaupun gaji nominal di Indonesia lebih kecil, biaya hidup harian kita juga jauh lebih rendah dalam banyak komponen. Inilah sebabnya kurs nominal tidak selalu menggambarkan kenyamanan hidup sehari hari. Uang Rp100.000 di Indonesia, dalam banyak situasi, masih bisa dipakai jauh lebih lentur untuk makan, transportasi, dan kebutuhan kecil lain, dibanding nilai yang sama di Singapura.

Fenomena belanja lintas batas memberi ilustrasi yang menarik. Tidak sedikit warga Singapura yang datang ke Batam untuk berbelanja kebutuhan sehari hari, makan, atau membeli barang tertentu karena harga di Singapore lebih tinggi. Ini tidak berarti semua warga Singapura rutin belanja bulanan ke Batam. Tetapi gejala itu cukup untuk menunjukkan satu hal, Indonesia, khususnya wilayah dekat perbatasan, bisa menjadi tempat belanja yang terasa lebih hemat bagi warga negara yang secara nominal jauh lebih kaya. Dari sini kita melihat paradoks yang menarik, negara yang tampak lebih kaya belum tentu selalu lebih nyaman untuk semua pengeluaran harian atau bulanan.

Ada lagi kelebihan Indonesia yang sering tidak masuk tabel statistik, yakni keluasan pengalaman hidup. Sebagai warga Indonesia, Anda bisa pergi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, tanpa paspor, tanpa visa, tanpa perlu merasa meninggalkan tanah air. Kita hidup di negara yang sangat besar, sangat beragam, dan sangat kaya pengalaman geografis. Laut, gunung, hutan, kota tua, desa adat, desa wisata, taman nasional, pantai, dan pusat pusat budaya tersebar di seluruh negeri. Singapura tentu punya kualitas urban, tetapi secara geografis ia tetap negara kota yang kecil. Kelebihannya adalah efisiensi, kekurangannya adalah keterbatasan ruang domestik. Sebagai warga Indonesia, jalan-jalan di dalam negeri saja sudah bisa terasa seperti mengunjungi banyak dunia yang berbeda.

Di luar angka angka itu, masih ada hal yang lebih bermakna tetapi sangat penting, kelenturan hidup. Di Indonesia, biaya hidup harian bukan hanya lebih murah, tetapi juga lebih lentur. Orang Indonesa masih bisa menyesuaikan ritme hidup dengan kemampuan ekonomi. Mau makan sederhana, bisa. Mau mencari tempat tinggal yang lebih longgar bisa, masih banyak pilihan. Mau membuka usaha kecil, warung, jasa rumahan, atau kerja mandiri, silakan boleh dan bisa, ruang sosialnya masih ada. Jaringan keluarga dan pergaulan juga biasanya lebih hangat. Sangat jarang orang Indonesia hidup sendirian, ia hidup di dalam jejaring saudara, tetangga, teman lama, sahabat, kenalan baru dan komunitas yang sering menjadi bantalan sosial saat keadaan sulit.

Yang juga sering tidak disadari adalah soal rasa hidup itu sendiri. Di Indonesia, hidup masih memberi ruang untuk spontanitas. Orang bisa mampir ke rumah saudara tanpa janji berhari hari sebelumnya, bisa duduk lama di warung kopi sambil berbincang, bisa tertawa keras dan lepas, bisa berdebat atau menggugat, lalu berdamai lagi. Di banyak tempat di Indonesia, memang hidup belum sepenuhnya diukur oleh efisiensi, kecepatan, atau presisi. Mungkin inilah salah satu kekayaan kita yang paling sering diremehkan. Kita terlalu sering mengagumi keteraturan negara lain, tetapi lupa bahwa kehangatan, keluwesan, bahkan “kesantaian” dan rasa kebersamaan juga merupakan bentuk kemajuan yang tidak kalah penting. Itulah sebabnya dalam beberapa parameter internasional masyarakat Indonesia adalah yang paling berbahagia di dunia.

Kadang orang Indonesia terlalu minder kalau ke luar negeri. Melihat gedung tinggi, sistem rapi, dan layanan cepat, lalu buru-buru menyimpulkan bahwa hidup di negeri lain pasti lebih baik dalam segala hal. Padahal tidak demikian. Ada hal hal yang tidak bisa dibeli dengan kecanggihan, yaitu ruang hidup, rasa memiliki komunitas, kedekatan keluarga, kelonggaran bernapas, dan kemampuan menikmati hidup tanpa selalu merasa diburu waktu. Singapura patut dihormati karena keberhasilannya. Tetapi Indonesia pun patut dihargai karena memberi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih luas, lebih hangat, dan lebih manusiawi.

Karena itu, menjadi warga Indonesia seharusnya bukan alasan untuk merasa kurang beruntung. Justru kita patut lebih sadar bahwa kita hidup di negeri besar dengan sumber daya alam yang luas, budaya yang kaya, pilihan hidup yang beragam, dan biaya hidup yang relatif lebih ramah bagi banyak orang. Kita memang punya banyak pekerjaan rumah, dari soal disiplin, kualitas pelayanan publik, sampai tata kelola kota. Namun semua itu bukan alasan untuk lupa bersyukur. Belajar dari Singapura itu penting, merasa rendah diri di hadapannya tidak perlu. Pada akhirnya, tetap ada alasan yang sangat kuat untuk berkata dengan jujur dan penuh kesadaran, kita bangga dan kita patut bersyukur terlahir sebagai warga Indonesia.

*) Penulis adalah Akademisi dan Pengamat Governansi (Tata Kelola Pemerintahan)

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas