Debut di WEF Davos, Elon Musk Prediksi Jumlah Robot Humanoid Akan Lampaui Populasi Manusia
CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, untuk pertama kalinya tampil di ajang World Economic Forum (WEF) yang digelar di Davos, Swiss, pekan lalu. Dalam debutnya di forum ekonomi global bergengsi tersebut, Musk langsung melontarkan prediksi besar mengenai masa depan peradaban manusia dan mesin.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, untuk pertama kalinya tampil di ajang World Economic Forum (WEF) yang digelar di Davos, Swiss, pekan lalu. Dalam debutnya di forum ekonomi global bergengsi tersebut, Musk langsung melontarkan prediksi besar mengenai masa depan peradaban manusia dan mesin.
Orang terkaya di dunia itu memperkirakan bahwa dalam waktu tidak terlalu lama, populasi robot humanoid di Bumi akan melampaui jumlah manusia. Menurut perhitungannya, rasio robot terhadap manusia berpotensi menembus lebih dari satu banding satu.
“Saya pikir kita akan melihat sesuatu yang melampaui rasio 1:1 untuk robot humanoid terhadap manusia,” ujar Musk, seperti dikutip dari Euronews.
Dengan populasi manusia yang saat ini mendekati 8 miliar jiwa, Musk menilai jumlah robot yang beroperasi di masa depan bisa jauh melebihi angka tersebut. Ia menegaskan bahwa prediksi ini bukan sekadar imajinasi fiksi ilmiah, melainkan gambaran pergeseran fundamental dalam ekonomi global yang kian bergantung pada kecerdasan buatan (AI).
Musk meyakini ekonomi masa depan tidak lagi dibatasi oleh ketersediaan tenaga kerja manusia. Robot humanoid diprediksi akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan fisik, sehingga memungkinkan lonjakan produktivitas ekonomi secara drastis tanpa batasan tradisional yang selama ini membelenggu pertumbuhan negara maju.
Ambisi besar tersebut berpusat pada Optimus, robot humanoid yang tengah dikembangkan Tesla secara agresif. Musk mengklaim Optimus nantinya mampu menjalankan beragam tugas, mulai dari pekerjaan berbahaya di pabrik, aktivitas repetitif di gudang, hingga membantu pekerjaan rumah tangga seperti melipat pakaian dan memasak.
Optimisme Musk terhadap “banjir” robot humanoid juga berkaitan erat dengan strategi bisnis Tesla. Robot dan AI kini diproyeksikan menjadi pilar utama valuasi perusahaan, bahkan disebut-sebut berpotensi melampaui bisnis mobil listrik Tesla.
Hal ini pula yang melatarbelakangi persetujuan para pemegang saham Tesla terhadap paket gaji fantastis bagi Musk senilai 56 miliar dolar AS atau sekitar Rp16.000 triliun. Investor menaruh keyakinan bahwa Musk mampu merealisasikan visi futuristik tersebut dan membawa Tesla bertransformasi dari produsen otomotif menjadi pemimpin global di bidang AI dan robotika.
Jika prediksi Musk terbukti dan Optimus berhasil dikomersialisasikan secara massal, nilai saham Tesla diperkirakan akan melonjak tajam. Meski demikian, Musk menegaskan dirinya tidak menutup mata terhadap potensi risiko dari perkembangan AI.
Di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku bisnis global di Davos, pemilik platform media sosial X itu kembali mengingatkan bahaya laten kecerdasan buatan. Ia menekankan bahwa kehadiran miliaran robot cerdas harus disertai pengawasan yang sangat ketat agar tidak berbalik mengancam umat manusia.
“Kita harus memastikan bahwa hasilnya baik untuk umat manusia,” kata Musk, menutup pandangannya tentang masa depan dunia yang dipenuhi robot humanoid.