Megawati Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Eyang Meri, Istri Jenderal Hoegeng
Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Meriyati Roeslani, istri mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, yang akrab disapa Eyang Meri.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Meriyati Roeslani, istri mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, yang akrab disapa Eyang Meri.
Eyang Meri meninggal dunia pada usia 100 tahun. Almarhumah dikenal sebagai pendamping setia Jenderal Hoegeng, sosok polisi berintegritas yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia pada 1968–1971.
“Saya menyatakan duka cita dan kesedihan yang mendalam karena keluarga Pak Hoegeng sudah seperti keluarga sendiri. Saya sendiri menyapa Bu Hoegeng dengan sapaan Tante Meri,” ujar Megawati saat melakukan lawatan ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa (3/2).
Megawati mengenang kedekatan keluarganya dengan keluarga Hoegeng sejak lama. Ia menyebut putri Hoegeng, Reni, merupakan teman sekolahnya di Perguruan Cikini, Jakarta.
“Tante Meri adalah seorang istri dan ibu yang sangat baik. Beliau hangat, memiliki jiwa seni yang tinggi, dan bersama Pak Hoegeng aktif dalam grup band Hawaiian Senior,” kata Megawati.
Ia juga bercerita pernah beberapa kali berkunjung ke rumah keluarga Hoegeng saat mereka berlatih musik. Kenangan tersebut, menurut Megawati, mencerminkan kehidupan keluarga Hoegeng yang sederhana dan membumi, meski berada di posisi penting dalam sejarah bangsa.
Meriyanti Roeslani, istri Kapolri pertama Hoegeng Imam Santoso, wafat di usia 100 tahun, pada Selasa (3/2) siang. Ia akan dimakamkan bersebelahan dengan suaminya di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giri Tama, Kabupaten Bogor pada Rabu (4/2).
Anak kedua Hoegeng, Aditya S. Hoegeng menyampaikan, ternyata ini adalah salah satu pesan terakhir Hoegeng terkait peristirahatan terakhirnya. Karena sebenarnya, Hoegeng layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan atas jasa-jasa yang telah ia berikan.
Tapi Hoegeng punya pandangan lain. Ia ingin makamnya berdampingan dengan Meriyanti.
"Justru kenapa Bapak tidak mau dimakamkan di Makam Pahlawan, pesan bapak adalah `Kalau saya dimakamkan di Makam Pahlawan, Ibumu tidak ada di sebelah saya`," kata Aditya menirukan ucapan ayahnya saat ditemui di rumah duka, kawasan Pesona Khayangan State, Depok, Selasa (3/2).
"Karena jatahnya kan cuma untuk Almarhum (Hoegeng), Ibu tidak ada jatah. Jadi memang pilihan beliau lah untuk dimakamkan di Tonjong itu," tambahnya.
Meriyati meninggal dunia di usia ke-100, karena faktor tua dan sakit. Kata Aditya, ibunya telah menderita sakit sejak 2020.
"Ya, gimana, sakit karena sudah sepuh, cedera parah dari 2020. Bayangin, 6 tahun di tempat tidur," ucap Aditya.
Sebelum menutup usia, Meriyati sempat dirawat di rumah sakit sebanyak dua kali. Jenazah Meriyati telah disemayamkan di rumah duka Pesona Khayangan State, Depok setelah sebelumnya dari RS Polri. Mendiang akan dimakamkan pada Rabu (4/2).