indonews

indonews.id

Rencana Membangun PLTN Sangatlah Janggal bagi Indonesia yang Berlimpah Sumber Energi Baru dan Terbarukan

Bila teknologi ini yang akan dipilih untuk menghasilkan energi listrik, maka akan menyebabkan kenaikan tarif listrik bagi pelanggannya; padahal mayoritas penduduk kita masih tergolong berpenghasilan rendah. 

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Rencana Membangun PLTN Sangatlah Janggal bagi Indonesia yang Berlimpah Sumber Energi Baru dan Terbarukan
Energi nuklir. (Foto: Ist)

Oleh: Atmonobudi Soebagio*)

Jakarta, INDONEWS.ID - Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap masih adanya keinginan yang kuat dari Pemerintah untuk dalam waktu dekat, akan membangun reaktor nuklir sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). 

Selaku PLTN yang masih memanfaatkan teknologi reaksi fisi, pembangkit tersebut akan membutuhkan uranium sebagai sumber energi untuk dikonversikan menjadi energi listrik. 

Ide ini tidaklah tepat karena uranium tergolong logam tanah jarang, yang terbukti sangat sedikit ketersediaannya di bumi. 

Bila teknologi ini yang akan dipilih untuk menghasilkan energi listrik, maka akan menyebabkan kenaikan tarif listrik bagi pelanggannya; padahal mayoritas penduduk kita masih tergolong berpenghasilan rendah. 

Sebagai alternatif, masih banyak sumber energi ramah lingkungan di Indonesia yang dapat diolah menjadi energi listrik. Penguasaan teknologi nuklir masih dapat kita gunakan untuk menghasilkan radioisotop, yang menjadi media utama dalam mendeteksi atau memfoto jaringan tubuh manusia lewat pemanfaatan perangkat MRI, CT-Scan, X-Ray, dlsb. Pemanfaatan tersebut tidak membutuhkan energi sebesar kebutuhan PLTN karena kita hanya memanfaatkan potensi radio isotop-nya sebagai nuclear scanner.

Energi nuklir memang dapat dikonversikan menjadi energi listrik, namun akan mahal tarifnya karena jumlah ketersediaannya di bumi dan mempertimbangkan risiko kecelakaan reaktor yang fatal, limbah radioaktif yang harus dikelola secara jangka panjang (puluhan tahun), paparan radiasinya sangat berbahaya, dan potensinya yang dapat disalahgunakan sebagai senjata nuklir

Adanya asumsi bahwa “negara yang menguasai teknologi nuklir nuklir akan merupakan negara adidaya” adalah tidak tepat. Meskipun energi nuklir memiliki keunggulan seperti emisi karbon rendah, berbagai risiko tadi memerlukan penguasaan teknologi canggih serta regulasi keamanan maupun keselamatan yang sangat ketat.

Berikut ini adalah sejumlah istilah yang perlu dipahami oleh para pembaca yang peduli akan masalah lingkungan:

Logam Tanah Jarang: Uranium, yang merupakan bahan bakar utama PLTN ternyata tergolong logam tanah jarang.  Artinya, sangat minim dan hanya tersedia dalam jumlah yang jauh di bawah ketersediaan bahan bakar lainnya yang digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik.

Kecelakaan Reaktor: Meskipun sistem pembangkit tersebut jarang mengalami kegagalan, kesalahan manusia dan bencana alam dapat menyebabkan kebocoran radiasi yang berlangsung lama. Contohnya adalah kecelakaan Chernobyl dan Fukushima.

Limbah Radioaktif (limbah bahan bakar bekas): Limbah bahan bakar bekas bersifat radioaktif selama ratusan bahkan ribuan tahun dan memerlukan tempat penyimpanan yang sangat aman dan terkelola dengan baik. Perawatan tempat penyimpanan tersebut akan dibebankan ke dalam tarif listrik.

Pencemaran Lingkungan: Kebocoran nuklir dapat mengontaminasi tanah, air dan udara, yang merusak ekosistem dan bahkan merasuk ke rantai pasokan bahan makanan.

Biaya Tinggi dan Waktu Panjang:  Pembangunan dan penonaktifan fasilitas nuklir memerlukan biaya investasi yang sangat besar, serta waktu konstruksi yang lama.

Bahaya Radiasi bagi Kesehatan: Paparan radiasi dosis tinggi dapat merusak jaringan tubuh, menyebabkan sindrom radiasi akut, cacat janin, kanker (tiroid, paru-paru, dll) hingga kematian.

Potensi Proliferasi Nuklir: Teknologi dan bahan nuklir dari pembangkit listrik sangat berisiko disalahgunakan oleh oknum secara tidak bertanggung jawab,  bahkan oleh negara pembuat senjata nuklir.

*) Prof. Atmonobudi Soebagio MSEE, Ph.D. adalah Guru Besar Energi Baru dan Terbarukan pada Universitas Kristen Indonesia.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas