Emir Kuwait Murka Usai Serangan Iran Tewaskan 12 Orang: Kami Punya Hak Membela Diri
Emir Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah, mengecam keras serangan rudal yang dilancarkan Iran ke wilayah negaranya yang menewaskan sedikitnya 12 orang. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari balasan Iran terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Emir Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah, mengecam keras serangan rudal yang dilancarkan Iran ke wilayah negaranya yang menewaskan sedikitnya 12 orang. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari balasan Iran terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Kuwait pada Selasa (10/3/2026), Sheikh Meshal menyatakan negaranya menjadi sasaran serangan brutal meskipun selama ini tidak terlibat dalam aksi militer terhadap Iran.
“Negara kita telah menjadi sasaran serangan brutal oleh negara Muslim tetangga yang kita anggap sebagai teman. Padahal kami tidak mengizinkan penggunaan tanah, wilayah udara, atau pantai kami untuk tindakan militer apa pun terhadap mereka,” ujar Sheikh Meshal.
Ia menegaskan pemerintah Kuwait telah berulang kali menyampaikan posisi tersebut kepada Iran melalui jalur diplomatik. Namun, serangan tetap terjadi sejak konflik regional memanas pada 28 Februari lalu.
Dalam pernyataannya, Emir Kuwait juga menegaskan negaranya memiliki hak penuh untuk mempertahankan diri.
“Kuwait memiliki hak penuh dan inheren untuk membela diri,” tegasnya.
Negara Teluk Lain Ikut Mengecam
Kecaman terhadap serangan Iran juga datang dari Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani. Ia menyebut serangan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara-negara Teluk yang sebelumnya berupaya menjaga jarak dari konflik.
Dalam wawancara dengan Sky News yang dikutip Al Jazeera, Sheikh Mohammed mengungkapkan bahwa serangan Iran terjadi tidak lama setelah perang dimulai.
“Mungkin hanya satu jam setelah dimulainya perang, Qatar dan negara-negara Teluk lainnya langsung diserang,” ujarnya.
Menurutnya, serangan tersebut terjadi meskipun sejumlah negara Teluk telah menyatakan tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran dan justru berupaya mendorong solusi diplomatik.
Ia juga menilai serangan tersebut sebagai kesalahan perhitungan besar dari pihak Iran.
“Kesalahan perhitungan Iran untuk menyerang negara-negara Teluk telah menghancurkan segalanya,” katanya.
Sheikh Mohammed menambahkan bahwa serangan itu semakin mengejutkan karena sebelumnya Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk dan berjanji tidak akan menyerang mereka selama tidak ikut dalam perang melawan Iran.
Namun, serangan yang tetap terjadi menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional dalam beberapa pekan ke depan.