Nasional

Pentagon Ungkap Kerugian Militer AS dalam Perang Lawan Iran, Delapan Tentara Tewas dan Sejumlah Drone Hilang

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 10/03/2026 10:27 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon mulai mengungkap data kerugian militer Amerika dalam konflik melawan Iran yang berlangsung sejak Februari lalu. Hingga 9 Maret 2026, tercatat sedikitnya delapan tentara Amerika tewas serta sejumlah pesawat tak berawak dan peralatan militer mengalami kerusakan.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu apa yang disebut sebagai “perang angka”, di mana masing-masing pihak menyampaikan versi berbeda terkait jumlah korban dan kerugian militer.

Operasi militer yang oleh Washington disebut “Epic Rage” dimulai setelah serangan besar yang menargetkan fasilitas militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan peluncur rudal. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat militer Iran.

Sebagai balasan, Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal ke berbagai wilayah di Israel serta pangkalan militer di negara-negara Teluk, yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Delapan Tentara AS Tewas

Menurut laporan resmi Pentagon dan United States Central Command (CENTCOM), delapan personel militer Amerika tewas sejak operasi militer dimulai.

Enam di antaranya tewas dalam serangan di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait, yakni Mayor Jeffrey O’Brien, Kapten Cody Horke, Sersan Pertama Noah Tijgens, Sersan Pertama Nicole Amour, Sersan Declan Cody, serta Perwira Robert Marzan.

Sementara satu tentara lainnya, Sersan Benjamin N. Pennington, meninggal pada 8 Maret akibat luka-luka yang diderita setelah serangan drone di Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi.

Satu korban lain berasal dari anggota Garda Nasional AS yang meninggal dunia pada 6 Maret di Kuwait akibat kondisi darurat medis yang masih diselidiki.

Selain korban tewas, laporan media Amerika menyebut sedikitnya sembilan tentara AS mengalami luka serius akibat serangan balasan Iran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengakui kemungkinan jumlah korban akan terus bertambah seiring berlanjutnya operasi militer.

“Akan ada lebih banyak korban. Perang seperti ini tidak terjadi tanpa pengorbanan,” kata Hegseth dalam wawancara dengan program televisi “60 Minutes”.

Kerugian Drone dan Pesawat Tempur

Kerugian terbesar yang diakui Washington terjadi pada sektor peralatan udara. Pejabat militer AS mengonfirmasi bahwa sebanyak 11 drone MQ-9 Reaper hilang sejak konflik dimulai, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 330 juta dolar AS.

Analis militer menilai tingginya angka kehilangan drone tersebut karena sistem tersebut tidak dirancang untuk menghadapi sistem pertahanan udara canggih yang dimiliki Iran.

Selain itu, tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle juga dilaporkan jatuh di wilayah Kuwait pada 1 Maret akibat insiden tembakan salah sasaran dari sistem pertahanan udara Kuwait saat pertempuran udara berlangsung. Meski demikian, enam pilot pesawat tersebut dilaporkan selamat dan dalam kondisi stabil.

Iran Klaim Korban AS Jauh Lebih Besar

Di sisi lain, pemerintah Iran menyampaikan klaim yang sangat berbeda mengenai kerugian pihak Amerika. Juru bicara Garda Revolusi Iran Ali Mohammad Naeini menyatakan pasukan Amerika mengalami lebih dari 650 korban tewas dan luka hanya dalam dua hari pertama operasi yang disebut Iran sebagai “True Promise 4”.

Iran juga mengklaim serangan rudal dan drone mereka menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain serta kapal induk USS Abraham Lincoln di perairan dekat Chabahar.

Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh Komando Pusat AS yang menegaskan bahwa rudal Iran tidak pernah mendekati kapal induk tersebut dan armada Amerika tetap menjalankan misinya di kawasan.

Trump: Perang Hampir Selesai

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran sudah mendekati akhir dan Washington berada jauh di depan dari jadwal operasi militer yang direncanakan.

“Saya pikir perang sudah sangat selesai. Mereka tidak punya angkatan laut, tidak ada komunikasi, dan tidak punya angkatan udara,” kata Trump dalam wawancara dengan CBS News.

Trump juga menyinggung kemungkinan langkah strategis Amerika terhadap jalur energi global di Selat Hormuz, menyebut Washington tengah mempertimbangkan berbagai opsi terkait wilayah tersebut.

Meski demikian, para analis menilai konflik masih jauh dari selesai. Dengan perubahan kepemimpinan di Iran setelah penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, kawasan Timur Tengah diperkirakan akan menghadapi fase ketidakpastian baru dengan potensi eskalasi militer dalam beberapa pekan mendatang.

Artikel Lainnya