Jakarta, INDONEWS.ID - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui negaranya mengalami "kehilangan yang banyak dan menyakitkan" akibat serangan balasan Iran dalam konflik yang telah memasuki hari ketujuh.
Meskipun demikian, Netanyahu menegaskan bahwa kekuatan militer dan semangat nasional Israel tetap solid. "Kami melihat jalur depan kita kuat, dan negara Israel lebih kuat dari sebelumnya," ujarnya dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui video, seperti dikutip dari Times of Israel dan Anadolu Agency, Rabu (18/6).
Netanyahu juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas dukungan yang terus diberikan kepada Israel selama konflik berlangsung. "Kami dalam komunikasi berkelanjutan, termasuk semalam. Kami berbincang secara hangat," kata Netanyahu, menyiratkan koordinasi erat antara kedua negara sekutu tersebut.
Konflik bersenjata antara Israel dan Iran pecah setelah Israel meluncurkan serangan pada Jumat pekan lalu, menargetkan sejumlah fasilitas militer dan nuklir di Iran. Sebagai tanggapan, Teheran segera membalas dengan meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel.
Hingga hari ketujuh konflik, otoritas Israel mencatat sedikitnya 24 warga tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan rudal Iran. Di pihak Iran, korban jiwa jauh lebih tinggi, dengan laporan menyebutkan 585 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.300 orang terluka akibat gempuran udara dan rudal dari militer Israel.
Ketegangan antara kedua negara terus meningkat, memicu kekhawatiran global terhadap potensi eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Berbagai pihak internasional menyerukan deeskalasi dan gencatan senjata demi mencegah korban sipil yang lebih banyak.*