BMKG: Cuaca Jabodetabek Kamis Cerah Berawan, Waspada Angin Kencang di Wilayah Banten
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada Kamis (12/3/2026) cenderung cerah berawan sejak pagi hingga malam hari.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada Kamis (12/3/2026) cenderung cerah berawan sejak pagi hingga malam hari.
Berdasarkan prakiraan BMKG, seluruh wilayah Jakarta diperkirakan mengalami cuaca cerah berawan sepanjang hari. Sementara itu, wilayah Kepulauan Seribu berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan pada dini hari.
BMKG juga menyatakan tidak ada wilayah di Jabodetabek yang masuk kategori waspada, siaga, maupun awas terhadap potensi hujan sedang hingga sangat lebat pada hari ini.
Meski demikian, BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi angin kencang di sejumlah wilayah di Provinsi Banten. Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan bahwa intensitas curah hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada pekan ini mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.
“Betul (tidak ada hujan lebat di Jabodetabek), pekan ini dinamika atmosfernya sedang mereda, intensitas curah hujan menurun dibanding pekan sebelumnya, namun untuk beberapa wilayah masih ada potensi,” ujar Andri.
Sebelumnya, wilayah Jabodetabek sempat diguyur hujan dengan intensitas sangat lebat pada akhir pekan lalu. Curah hujan harian kategori sangat lebat tercatat di wilayah Banten mencapai 141,8 mm per hari, sementara di wilayah Jakarta Timur mencapai 123,4 mm per hari.
Menurut BMKG, tingginya intensitas hujan pada periode tersebut dipengaruhi oleh penguatan Monsun Asia. Fenomena ini mendorong aliran angin dari Laut Cina Selatan ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa, sehingga memperkuat daerah konvergensi dan memicu pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintas di sebagian wilayah Indonesia turut meningkatkan anomali angin baratan yang mendukung pembentukan awan konvektif.
BMKG menambahkan kondisi tersebut juga diperkuat oleh labilitas atmosfer dan kelembapan udara yang tinggi, terutama di wilayah Jawa bagian barat, sehingga meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian wilayah Indonesia bagian selatan pada periode sebelumnya.*